• Via Dolorosa sang Bhikkhu
    by Kliping Sastra Nusantara on 18 April, 2018 at 6:57 am

    AKU berpapas dengannya di tikungan Gandawyuha relief Candi Borobudur pada sebuah pagi di awal musim hujan. Gerimis lembut turun di permulaan hari yang jernih itu. Ia sedang menatap panil nidanaparivarta yang memperlihatkan Buddha berada di Jetavana bersama muridmuridnya. Ia menolehku, mengangguk sopan, dan sedikit senyum tersungging di bibirnya yang pucat. Bahu kanannya terbuka sudah basah oleh gerimis, pun jubah kashaya1 sewarna tembaga tanpa klem yang melilit tubuh kuningnya. Tetapi sanghati2 berwarna sama tetap tersampir di bahu kiri. Ada […]

  • Kembali ke Kandang Wong
    by Kliping Sastra Nusantara on 17 April, 2018 at 1:23 pm

    AYAHKU pernah memboncengkan aku dengan sepedanya di jalanan ini 27 tahun lalu dan sandal kiriku jatuh dan aku baru menyadari ketika sampai di rumah bahwa satu sandalku jatuh. Kami melewati deretan toko-toko. Aku menempel di boncengan, memeluk perutnya kuat-kuat, dan mendengar ia mengatakan: Seto pernah membobol lemari besi milik juragan toko sepatu ini.Aku senang mendengar ayahku bercerita sambil mengayuh sepeda; aku senang mendengar ia menceritakan Seto, rasanya seperti mendengar cerita kepahlawanan. Kakiku kesemutan; sering begitu setiap kali aku […]

  • Interogasi Pagi
    by Kliping Sastra Nusantara on 17 April, 2018 at 1:00 pm

    HONEY,papi akan maju lagi....” Warza menatap putrinya, Nofrita yang mulutnya sibuk memainkan sendok kopi. “Jadi walikota?” Nofrita bicara datar . “Kamu tidak setuju?” Nofrita bungkam. Ia mengaduk kopi di cangkir . Sangat keras. “Kalau aku tidak jadi walikota lagi, mereka pasti mengadiliku...” tangan Warza mengusap rambut Nofrita. “Mengadili? Apa papi korupsi?” Ruang makan tergetar oleh pertanyaan Nofrita. Warza membisu. Napas- nya turun naik. Pi- kirannya […]

  • Seekor Ikan Mencintai Kucing
    by Kliping Sastra Nusantara on 17 April, 2018 at 10:06 am

    IA menjilat kaki depannya seusai menyantap ikan pemberian majikan. Lalu, melangkah menuju halaman sambil berbaring ke arah cahaya matahari. Matanya mengerjap. Silau. Makhluk manja itu mengeong sepanjang hari. Penghuni rumah terlampau sibuk hingga tak sempat menggubris dua penghuni tambahan. Sasa bermain dengan boneka juga rumah-rumahan, Nyonya Elma sedang bergosip dengan teman arisan di ruang tamu, sementara Tuan Hitler menerima telepon dari seseorang. Ia mojok sambil berbisik dengan lawan bicaranya. ”Nanti aku telepon lagi,” ucapnya […]

  • Saat Ayah Meninggal Dunia
    by Kliping Sastra Nusantara on 16 April, 2018 at 8:16 am

    SAYA bertemu dengannya beberapa saat setelah ayah meninggal dunia. Saat pagi hari lebih menyerupai malam hari. Saat gurat senja lebih menyerupai lukisan nestapa. Saat kelopak bunga lebih menyerupai kelopak mata luka. Saat rintik hujan lebih menyerupai jarum kepedihan. Kehidupan mendadak lebih menyerupai kematian. Seperti ada yang merenggut paksa lalu menghempaskan saya ke lubang yang lebih kelam daripada kelir malam. Dan induk dari segala sunyi menyambangi.Saat itu tamu-tamu, baik saudara maupun kerabat dekat ayah sudah mulai berdatangan. […]

  • Obrolan Suatu Sore
    by Kliping Sastra Nusantara on 16 April, 2018 at 4:37 am

    SEPULANG kerja, Kameswara terpaku di halaman rumah itu. sambil menatap khidmat sebuah tulisan cat putih yang sepertinya baru saja dibuat di dinding biru mudanya yang sedikit murung: dijual. Kameswara membacanya dalam gumaman, lalu menelusuri rumah yang tidak lebih besar dari miliknya, yang telah hampir setahun ini ditinggalkan penghuninya. Atap rumah itu hampir tertutupi tanaman rambat. Sebagian mengering, menggugurkan daun-daun kecokelatan ke sembarang tempat. Bunga-bunga putih dari pohon kersen di sisi selatan rumah, ranap dan memenuhi halaman. […]

  • Taraji, Oh Taraji
    by Kliping Sastra Nusantara on 10 April, 2018 at 1:30 pm

    Tak mudah memang menjadi lelaki idealis. Setelah terusir dari keluarga lima tahun lalu, kini Taraji kerap memikirkan perkara yang realistis. Misalnya, pulang ke rumah. Namun egonya terlalu besar, sehingga Taraji memutuskan bertahan. Pulang? Tidak. ”Aku hanya akan jadi bahan olokan Bapak jika pulang. Lebih baik aku mati kelaparan di sini,” gumam Taraji. Lima tahun lalu, Taraji berdebat dengan sang bapak. Taraji ingin meneruskan sekolah di kota, sedangkan Bapak ingin Taraji membantu di sawah. ”Dasar bocah gendeng! […]

  • Tungku Perkawinan
    by Kliping Sastra Nusantara on 10 April, 2018 at 4:24 am

    Faisal kawin lagi!Macua sampai menurunkan bulang hingga menutup separuh daun telinga. Ia sedang berupaya tuli dari gunjingan yang tak kunjung sunyi. Sejak ketupat masih penuh dalam keranjang sampai ikan gabus hanya menyisakan tulang, kabar anaknya yang poligami masih membahana seantero kampung Sungai Paring. Orang-orang berkicau bagai sekawanan burung pipit di pematang pada musim padi kuning keemasan.“JADI benar Faisal kawin lagi dengan janda beranak satu, Macua?” usut Angah Samsuri usai menyambut sepiring ketupat berkuah santan dengan […]

  • Bersama Angin
    by Kliping Sastra Nusantara on 10 April, 2018 at 1:00 am

    MAYA tertawa, bergurau melawan duka. Bukan! Bukan duka yang dilawan. Maya hanya sekadar membahasakan perasaan yang sedang gelora seperti burung-burung di angkasa. Andai saja makhluk penjuru itu mau meminjamkan sayapnya, tentu ia sudah mengangkasa, bersemuka dengan penghuni langit kedua. Menginterupsi seputar kondisi arwah suami. “Hello Pak Malik, apa Anda baik-baik saja? Sudah bertemu suamiku lom?” “Hello juga. Alhamdulillah aku baik dan sehat. Tapi aku belum ketemu dia.” “Ah masa? Bukankah dia sudah […]