Bincang Sastra Bersama Risda Nur Widia

Mimin berkesempatan menghadiri acara bincang sastra di Taman Budaya Yogyakarta pada hari Sabtu malam, 29 April 2017. Bincang sastra kali ini membicarakan buku terbaru atau buku kedua dari cerpenis muda Risda Nur Widia. Buku berupa kumpulan cerpen itu berjudul “Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault”. Pada pembukaannya, dibacakan sebuah cerpen oleh komunitas Ngopinyastro.

Buku kumpulan cerpen “Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault” terbit setelah buku kumpcer pertamayang berjudul “Bunga-Bunga Kesepian”. Secara teknis menulis, Risda sebagai penulis berharap semoga tulisaannya di buku yang terbaru bisa lebih baik dari sebelumnya.

bincang sastra

Di dalam buku kumpulan cerpen kedua, Risda lebih menekankan pada tema rekonstruksi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah. Ia dengan tak sadar telah menulis dan mengumpulkan cerpen dengan satu tema besar yang sama. Pada mulanya ia menulis dengan berangkat dari penelitian yang ia kerjakan untuk menyelesaikan skripsi.

Risda banyak membaca buku-buku ilmiah. Ia juga mencari tahu melalui diskusi kepenulisan. Karena menurutnya, sefiksi-fiksinya cerpen tetap harus bertumpu pada fakta. Bagi Risda, kegiatan membaca tak hanya terbatas pada teks, tapi juga peristiwa.

Di dalam proses membacanya, ia selalu menuliskan petikan ide di buku tulis kecilnya.

Malam itu juga hadir Mario F Lawi, seorang penyair yang pernah dinobatkan sebagai Tokoh Seni versi Majalah Tempo, khusus bidang Sastra Puisi tahun 2014. Menurut Mario, di dalam buku kumpulan cerpen “Seorang Tokoh yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault” justru Risda seperti sengaja menggunakan tema sejarah. Dan, proses riset yang dilakoni Risda justru sangat terlihat manfaatnya dalam karya-karyanya.

Hal menarik yang bisa dilihat di dalam kumpcer ini, posisi Risda terlihat jelas. Penulis cerpen yang berasal dari NTT ini bisa dengan luwes dan elok menggambarkan daerah lain dengan rinci. Pilihan judul cerpen yang digunakan sebagai judul utama buku kumpulan cerpen pun terlihat menonjol dan terasa kuat.

bincang sastra

Cerpen menarik lainnya berjudul “Musafir”. Cerpen ini sebenarnya merupakan tulisan politik namun secara apik tidak menunjukkan pretensi politiknya. Potensi kemampuan Risda menuliskan sesuatu dengan ‘netral’ seperti ini tak tampak di cerpen-cerpen yang lain. Ia malah terlalu banyak menggelontorkan datang sehingga membuat tulisan-tulisannya kurang mulus dan terlihat tendensius.

Bagi Mario Lawi, ia lebih menyenangi cerpen-cerpen Risda yang realis dan tanpa pretensi politis.

***

Bagi #RisdaNurWidia, realitas sebenarnya bisa dianggap hanya sebatas kata. Berita pun bisa dianggap sebagai kisah fiksi. Dunia ini sebenarnya sudah cukup absurd, absurd yang haqiqi. Kebenaran telah ditentukan oleh ia yang berkuasa. Ke depannya dalam berkarya #RisdaNurWidia adalah tetap membikin kemungkinan dalam tulisan, salah satunya yaitu membuat novel.

Sila Tinggalkan Komentar