Budi Darma_Kliping Sastra

Hotel Tua Milik Budi Darma

Acara bedah buku milik Budi Darma di adakan pada hari Rabu, 19 April 2017 dengan mengambil tempat di Bentara Budaya Yogyakarta. Kegiatan kali ini berjalan istimewa karena apa? Yup, malam itu adalah bedah buku kumpulan cerpen berjudul “Hotel Tua”, karya epic dari penulis senior Budi Darma.

Budi Darma adalah Non-Konvensional

Pembedah pertama ada B. Rahmanto. Cerpen pertama dari buku Hotel Tua sungguh langsung menggugah. Cerpen itu berjudul Pestol. Apa yang akan membuat pembaca terperangah ketika membaca Pestol? Karena ada adegan seorang janda vagina miliknya ditodong pestol. Tentu pembaca akan bertanya-tanya, kira-kira bagaimana akhir ceritanya.

Hotel Tua Milik Budi DarmaTulisan sastrawan senior tersebut mampu membikin kepincut para pembacanya. Cerpen-cerpen dan juga novel Budi Darma tergolong non konvensional. Kondisi manusia yang digambarkan di dalamnya cenderung absurd dan tak masuk akal. Bisa disebut juga dengan surealis.

Surealisme sendiri lebih mementingkan aspek bawah sadar manusia. A. Teeuw juga pernah mengemukakan bahwa sang penulis juga menggunakan gaya naturalistik. Nada ceritanya tak waras. Orez adalah salah satu contoh tokoh ganjil dalam cerita yang ditulis Budi Darma.

Terdapat suasana sesak dalam 18 belas cerpen Budi Darma dalam kumpulan cerpen Hotel Tua. Di dalam buku ini juga mudah ditemukan perihhal paradoks, ironis, dan kejutan lainnya. Sebut saja cerpen yang berjudul Pistol, Bluke Kecil, Tangan-tangan Buntung, dan lain-lain.

Ironi dalam Balutan Absurd dan Kocak

Berikutnya Agus Noor mengungkapkan pembacaannya tentang cerpen-cerpen karya penulis senior itu. Agus Noor pernah menulis cerpen berjudul Hakim Sarmin. Cerpen ini sebenarnya merupakan hasil adopsi dari cerpen-cerpen Budi Darma. Menurutnya, cerpen-cerpen Budi Darma memiliki kecenderungan absurd sekaligus kocak.

Kocak tidak sama dengan melucu, tapi kocak lebih kepada menceritakan bagaimana usaha manusia dalam melawan takdirnya. Budi Darma mampu menangkap ironi besar yang terjadi di negara ini. Hal ini bisa dilihat dalam cerpen berjudul Tangan-Tangan Buntung. 

Masih di dalam perspektif kocak tadi, penulis berhasil membawa pembacanya untuk melihat kembali atas apa yang sebelumnya telah dianggap wajar. Memang, Budi Darma bukan pencemooh yang baik sepertinya halnya Pramoedya A.T. Tetapi, beliau adalah seorang pencerita yang baik yang mampu membikin pembacanya mau melihat kembali apa makna dunia.

Budi Darma Bertutur

Hotel Tua Milik Budi DarmaPada saat sesi Budi Darma berbicara, beliau tak menanggapi komentar dari pembicara sebelumnya. Tapi, beliau malah berdiri dan… bercerita secara lisan! Jernih sekali. Dan juga absurd, seabsurd cerpen-cerpennya. Kita seperti mendengarkan cerpennya dibacakan.

Naomi Srikandi yang menjadi moderator acara bedah buku malah itu berkomentar bahwa Budi Darma ternyata tak hanya piawai dalam menulis, tapi juga dalam bercerita.

Sejak kecil Budi Darma sering dibacakan cerita Mahabarata oleh ibunya. Hal ini yang kemudian memantik beliau senang berimajinasi dan menuangkannya dalam tulisan. Bagi penulis sendiri, proses berimajinasi adalah proses bermain-main dari yang tidak ada hingga menjadi ada. Tulisan yang menggema atau yang mengiang-ngiang setelah dibaca adalah karya yang baik.

Nah, bagaimana caranya agar bisa menulis karya yang baik? Tentu hal itu bisa terjadi bila penulis memiliki peluru dan amunisi yang banyak. []

Sila Tinggalkan Komentar