Jawa Pos

  • Kembali ke Kandang Wong
    by Kliping Sastra Nusantara on 17 April, 2018 at 1:23 pm

    AYAHKU pernah memboncengkan aku dengan sepedanya di jalanan ini 27 tahun lalu dan sandal kiriku jatuh dan aku baru menyadari ketika sampai di rumah bahwa satu sandalku jatuh. Kami melewati deretan toko-toko. Aku menempel di boncengan, memeluk perutnya kuat-kuat, dan mendengar ia mengatakan: Seto pernah membobol lemari besi milik juragan toko sepatu ini.Aku senang mendengar ayahku bercerita sambil mengayuh sepeda; aku senang mendengar ia menceritakan Seto, rasanya seperti mendengar cerita […]

  • Lubuk-Lubuk Itu, di Lubuklinggau, Tuan Raudal
    by Kliping Sastra Nusantara on 9 April, 2018 at 3:52 am

    BANYAK sekali aliran sungai yang membelah kotaku ini, Raudal.Memang, cerita-cerita yang kau tulis --tentang kota, kota di dalam kota, dan nama-nama kota, atau juga kenangankenangan yang rimbun di kota-kota yang kau singgahi-atau sekadar lintasi atau kau tinggali beberapa waktu-- telah membakarku untuk membalasnya, walaupun tentu saja aku sebenar sadar kalau cerita-ceritamu itu tak kau persembahkan kepadaku.Namun, dalam beberapa ceritamu, ada sekali-dua atau bahkan tiga atau empat kau sebut nama […]

  • Pertemuan di Gunung Tera Osaka
    by Kliping Sastra Nusantara on 3 April, 2018 at 4:30 am

    SURAT-SURAT dari Indonesia yang diterima Eksila terasa tajam seperti samurai yang siap menyayat dan mencincang tubuhnya. Isi surat-surat itu pada intinya sama, memintanya segera pulang. Jika ia menolak, ia akan diberi sanksi berat. Tapi semangatnya untuk kembali ke Indonesia telah berjatuhan seperti bunga sakura yang terpental ke tanah tanpa rerumputan kemudian lenyap diseret angin berdebu yang kencang.Seharusnya Eksila pulang karena tugas belajarnya di Osaka telah selesai. Sebagai dosen di […]

  • Pencatat Kematian
    by Kliping Sastra Nusantara on 28 Maret, 2018 at 9:25 am

    LELAKI itu membawa sebuah buku tulis ke mana-mana. Bukan buku tulis istimewa, tapi buku tulis seperti yang biasa digunakan anak sekolah. Sampul depannya berwarna merah dengan gambar burung garuda. Sampul bagian belakang ada rumus perkalian. Buku itu dulu dibeli untuk anaknya, tapi belum dipakai. Puteh, nama lelaki itu, mencomot begitu saja buku tulis tersebut dari tas anaknya enam bulan lalu ketika sang anak meninggal ditembak orang tak dikenal.Puteh mencatat kisah anaknya, sejak lahir hingga […]

  • Setan Kober dan Sapardan
    by Kliping Sastra Nusantara on 20 Maret, 2018 at 2:30 pm

    Sejak Penangsang mati teriris bilahku, aku tak lagi meminum darah. Tak pernah lagi aku memamah nyawa. Pertempuran di Bengawan Sore itu adalah palagan terakhirku. Itulah perang yang menempatkan aku sebagai pembunuh tuanku sendiri. Perang memburu mahkota itu bukan arena terakhirku menjadi saksi pemilikku kehilangan daya. Lebih dari 100 tahun kemudian, aku masih menyaksikan pemilikku kehilangan kebesarannya, lalu mati tertimbun nasib.TUMENGGUNG Kartanagara masih bingung dengan kedatangan tak biasa […]

Selengkapnya…