Jawa Pos

  • Ibuku Perempuan Mong Kap San
    by Kliping Sastra Nusantara on 20 Februari, 2018 at 1:00 am

    IBUKU, kau tahu, tidak bisa berbahasa Indonesia. Ia juga tidak menguasai bahasa Melayu lokal, kecuali hanya segelintir kosa kata umum. Itu pun --sebagian di antaranya-- dengan ejaan dan artikulasi yang jauh dari sempurna. Maklumlah, selain bunyi huruf ’R’ yang menjadi momok bagi banyak orang Tionghoa di Indonesia, lidahnya juga tampak begitu sulit mengeja katakata yang berakhiran ’S.’ Contohnya kata ’’pedas” yang selalu saja dilafalnya jadi […]

  • Saya Hanya Berdiri dan Melihat Semuanya
    by Kliping Sastra Nusantara on 13 Februari, 2018 at 1:00 am

    SUDAH tiga jam saya memperhatikan perempuan itu. Telah tiga jam pula ia duduk di bangku kayu dengan mata menatap ke depan. Mata itu apakah terbuat dari batu? Saya benci mata yang terbuat dari batu --mata yang sulit sekali pecah. Saya pernah marah kepada pemilik mata seperti itu dan saya menembak kepalanya.’’Jangan menatap seperti itu!” kata saya mengertakkan gigi dengan keras. Ia tentu tidak mendengar suara saya. Kalaupun mendengar, ia sama sekali tidak akan peduli.Ia duduk di […]

  • Jejak Malam - Percakapan Rahim 2 - Percakapan Rahim 4 - Risalah Doa
    by Kliping Sastra Nusantara on 11 Februari, 2018 at 5:25 pm

    Jejak MalamJejak malam. Malam berjejak. Aku luruh dalam auman lukamu. Auman cintayang tak bertepi, tak berperi. Cinta yang kau tanam di gang sempit itu, tumbuhsubur jadi hama hidupku. Aku dan kamu, hanyalah bingkai-bingkai kecil yangtak pernah tertata rapi. Tak pernah selesai dibangun oleh jiwamu dan jiwaku.Di gang sempit itu, kau membisu, beku dan kelu. Bibirmu terpasungkata. Sunyi adalah pilahan. Sunyi adalah pilihan. Pilahan dan pilihan itu,mengusung jarak batas antarkita. Batas jasadku dan […]

  • Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali
    by Kliping Sastra Nusantara on 6 Februari, 2018 at 1:00 am

    SEPERTI hewan yang dituntun oleh naluri gelap, seorang lelaki pergi meninggalkan rumah, bertemu di jalan dengan seorang gadis dan mengikutinya, dan tak pernah lagi menemukan jalan pulang: ia disesatkan oleh waktu. Anda tahu waktu adalah pengkhianat paling bengis, penjahat tak tertundukkan yang menyiksa kita pelanpelan, menggerogoti kita sedikit demi sedikit, membuat kita tidur lelap pada suatu malam dan bangun sepuluh tahun kemudian, dan nanti, pada saat kita sudah kepayahan, ia akan […]

  • Gagal Landing
    by Kliping Sastra Nusantara on 30 Januari, 2018 at 4:49 am

    BANYAK orang ingin menyesap kopi di sini. Menikmati harum moka, sebersit kayu manis, sambil melemparkan pandangan pada feri yang berjalan pelan. Dari meja ini --meja untuk dua orang, namun hanya ada aku sendiri-- bisa kulihat jalur pesepeda di tepian Brisbane River. Sebagian mengayuh sepeda mereka berombongan, banyak sekali yang bersepeda berdua-dua. Mereka seperti tak kehilangan topik. Bibir mereka bergerak, mata mereka sesekali saling pandang, senyum dilempar sambil kaki terus mengayuh […]

Selengkapnya…