Koran Kompas

  • Ziarah Kepayang
    by Kliping Sastra Nusantara on 19 Februari, 2018 at 1:02 am

    LIMA puluh tahun...! Rentang waktu sepanjang itu tak membawa perubahan di sini. Jembatan yang terbuat dari kayu besi, masih tegak seperti yang kukenal setengah abad lalu. Hitam legam. Penduduk yang akan membawa hasil bumi ke kota, sejauh tujuh kilo, di muara sungai, tetap harus mengalah. Menunggu air sungai surut supaya sampan yang sarat bisa melintas di kolong jembatan. Jalan diapit sungai kecil, yang kami sebut bendar, tetap seperti ketika kulewati dulu. Jalan di mana orang-orang […]

  • Mitos Hari-hari
    by Kliping Sastra Nusantara on 18 Februari, 2018 at 10:00 pm

    Mitos Hari-hariSeninHabis pekan. Senin yang membara membakar kulitmu perempuan. Kekurusan apakah yang membawamu pada kerja pada keriuhan hidup dan sunyi benda-benda? Rumah terlalu riuh terlalu gerah bagi kata bagi istirah. Di punggung kaurajah sebuah ingatan dari dendam dari ketandusan. Kota begitu lapang bagi hibuk bagi penat bagi kesendirian. Gedung-gedung dibangun dan diruntuhkan. Aku berbicara dengan langit dengan kekosongan. Kelak menjadi tanda bagi doa bagi dosa bagi […]

  • dung kayangan - gua jepang
    by Kliping Sastra Nusantara on 18 Februari, 2018 at 9:45 pm

    dung kayangandi kedalaman itu, ia meneruskan hidup dalam diri seekor gabus tua, gabus hitam dengan sedikit bintik coklat, gabus bergigi tajam yang mengorek serta menelan kedua biji matanyaia melihat dunia, dari diri yang baru, sebagai semesta keruh, pada waktu-waktu tertentu ia terkenang hari lalu, cita-cita yang terkabul lambat: akhirnya, akhirnya, tak ada lagi kelas, semua gabus sama belakanamun suatu kali, seekor ular kali, yang berkilau sisiknya, yang […]

  • agama ikan - agama sungai
    by Kliping Sastra Nusantara on 18 Februari, 2018 at 9:30 pm

    agama ikanaku tak pernah tidur,                tapi aku bukan tuhan.mata dan air, saling membuka pintu               dalam tubuhkusaling membuat gelombang bunyi            dari gemetar cahaya pagitak saling berbantah tentang             akidah langit yang kekaltak saling menyumpah tentang               kaidah […]

  • Jas yang Kawin Dua Kali dan Celana yang Setia
    by Kliping Sastra Nusantara on 12 Februari, 2018 at 1:00 am

    LELAKI muda, belum selesai dua tiga tahun, setelah bekerja serabutan dan memperoleh penghasilan tidak tentu, menyatakan keinginannya memiliki jas. Satu setel dengan celana—sewarna—yang kalau dipakai berpasangan menambah gagah. Lelaki itu belum pernah memiliki jas dan setelannya sebelum ini. Ketika keinginannya disampaikan kepada ibunya, perempuan yang menjanda sejak bapak lelaki muda itu meninggal, tersenyum dan maklum. ”Kamu sudah besar. Ibarat burung kalau sudah mulai […]

Selengkapnya…