Koran Tempo

  • Surat-surat Lenin Endrou
    by Kliping Sastra Nusantara on 14 Agustus, 2017 at 4:00 am

    AKU telah hidup lebih dari lima tahun bersama seorang wanita yang membuat kuyakin bahwa ada sesuatu yang tak dapat diungkapkan di balik semua yang dapat kita lihat. Veronika bagaikan teori dasar pengetahuan yang maha besar yang tak dapat kutemukan namanya. Dirinya membuat aku terus bertanya akan rahasia alam semesta, membuat aku menginginkannya lagi dan lagi hingga ia juga melihat dunia yang mungkin dihuni olehnya di dalam diriku. Kami terus berusaha menjaga gejolak itu tetap pada tingkat yang […]

  • Pascakolonialisme Brandon Venzord - Untuk Adriaan Valckenier - Onderdistrik Tujuh - Mengenai Ipie - Tentang Jane
    by Kliping Sastra Nusantara on 13 Agustus, 2017 at 9:00 pm

    Pascakolonialisme Brandon VenzordIa merasa dirinya Hindia yang utuh: Dialektika dalam paspor Belanda"Aku lupa, ada Jan dalam namaku,Tanpa Coen, dan seseorang, di laut,Telah menggunting bayanganku."Ia kenang leluhur tatkalaBerlabuh di Sunda KelapaTapi itu saat mereka tak tahuDi mana pulau berpasir putihKecuali anyir penaklukanPada sebentang peta kumal"Di kanal, telah kutinggal kebaya,Kulepas beha—aku ingin negeriDengan tiga warna bendera."Mungkin ia menyitir kata-kataSeseorang dari […]

  • Saksi Mata
    by Kliping Sastra Nusantara on 7 Agustus, 2017 at 3:30 am

    SEPERTINYA, di antara berbagai macam kegilaan yang pernah terjadi, tak ada yang lebih ganjil dari apa yang akan kuceritakan ini.Jenderal Ortega Galgado tak hanya mati tragis, tetapi juga menyedihkan. Ditemukan di semak belukar, mayatnya telah membusuk dalam keadaan bugil, berlepotan tai dan penuh luka bacokan serta sayatan. Tentu saja itu bukanlah cara mati yang pantas bagi Jenderal Besar dengan sederet bintang penghargaan, yang tempat pemakamannya saja sudah disiapkan di Taman Makam Pahlawan […]

  • Laci Kesedihan
    by Kliping Sastra Nusantara on 31 Juli, 2017 at 3:00 am

    MIRA teringat kata-kata ibunya, suatu saat jika kesedihan mendatangimu, pejamkan matamu lekat-lekat. Lalu ambilah kesedihan itu dari dadamu dan letakkanlah ke dalam laci yang tak kau pakai di rumahmu. Bisa laci di bawah meja, atau laci dalam lemari, atau laci apa saja yang jarang kau sentuh. Biarkan kesedihan itu bersemayam di sana. Jangan kau ganggu gugat. Sampai kesedihan itu lenyap dimakan waktu.“Bagaimana cara meletakkannya, Bu? Apakah seperti meletakkan pakaian usang yang tak dipakai […]

  • Bero dan Keluarganya
    by Kliping Sastra Nusantara on 24 Juli, 2017 at 3:00 am

    BERO muncul di kaki bukit bersama Miseno dan Jibat—yang memikul seekor babi hutan gemuk—berikut anjing-anjingnya. Luka yang menganga di bagian kepala dan perut hama perusak itu masih meninggalkan bercak-bercak merah di semak-semak rendah jalan setapak. Dua atau tiga ekor anjing yang tertinggal dari kawanannya berhenti untuk mengendus-endus bercak-bercak darah itu sampai tuan mereka—Bero—memanggilnya dengan sebuah suitan panjang yang terdengar lamat-lamat sampai ke ujung […]

Selengkapnya…