Koran Tempo

  • Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja
    by Kliping Sastra Nusantara on 12 Desember, 2017 at 1:00 am

    IA dan Moora sudah berjanji untuk bertemu di Taman Remaja. Ia datang lebih cepat sepuluh menit. Taman ini tak berbeda dari yang dibacanya di dalam novel berjudul Moora, selain memang pohon-pohonnya bertambah tua, bangku semen makin rumpal dan berlumut, dan sampah kian menumpuk di mana-mana. Dan Moora paling senang duduk di salah satu bangku semen itu setelah ia berjalan kaki dari rumahnya yang berada tepat di bawah taman ini—dan karena itu ia mesti melewati pendakian yang cukup panjang […]

  • Jalan Panjang Sebuah Hikayat - Di Tanah Karo Pengrengret Diturunkan
    by Kliping Sastra Nusantara on 10 Desember, 2017 at 8:00 pm

    Jalan Panjang Sebuah HikayatBuk jadi ijuk, dareh jadi lau, kesah jadi angin,daging jadi taneh, tulan jadi batu,tendi mulih ku Dibata Simada Tenuang *Membaca adalah ketika kau percaya bahwasebuah perjalanan panjang dapat kau temukandalam sekumpulan kata-kata. Di sini, kami mulaiucapkan tabas, mantra penolak bala dan harumsihir, sirih yang sempurna membungkus pecahanpinang dan biji-biji kapur. Kami hanya dudukmembaca kitab-kitab yang kami sebut Turi-TurinTembe Doni Nina Nininta Kalak Karo. […]

  • Burung Merah
    by Kliping Sastra Nusantara on 4 Desember, 2017 at 8:00 am

    SERATUS hari berlalu sejak terakhir kali hujan mengguyur kota. Pagi itu belum ada tanda-tanda perubahan cuaca. Di teras rumahnya, Yodi memeriksa sepucuk benjamin marauder. Senapan angin itu masih terlihat prima meski telah dua bulan tak melepas tembakan. Laras bajanya berkilat-kilat. Popornya, dari kayu mangga hutan, melengkung dan kesat. Yakin tak ada kebocoran pada tabung angin, Yodi melepas magasin. Empat belas lubang peluru terisi semua. Sekilas tampak sempurna. Namun, setelah memeriksa […]

  • Hujan Musim Gugur - Melodi Air Mata
    by Kliping Sastra Nusantara on 3 Desember, 2017 at 6:30 pm

    Hujan Musim Gugur: Autumn from the Four Seasons by Vivaldi (1678-1741)Angin dingin menyapu pilar-pilar Katedral. Sisa genangan air darilaguna masih membasahi gang-gang kecil hingga ke alun-alun.Di tepi Grand Canal, telingaku pejal menangkap momen-momen yangditerjemakan oleh bunyi instrumen, tipis dan tebal. Rendah dan tingginada, dalam tempo yang berbeda.Akankah bisa diterjemah dalam tiap bait kata, lalu untuk apa orkestrayang mengiringi drama? Kekuatan sihir bunyinya bisa buat sedih dansenang, […]

  • Apa pun Selain Tentara dan Kehilangan
    by Kliping Sastra Nusantara on 28 November, 2017 at 1:00 am

    “IBU, aku ingin menjadi tentara.”Oh, Syahdan… kau tidak tahu sudah berapa kali aku bermimpi buruk selepas Digta mengatakan itu padaku. Kurasa setiap malam, satu-satunya hal yang dapat kudengar adalah bunyi meriam dan tembakan peluru yang menembus daun, dinding, kayu dan hati-hati manusia. Setiap aku memejamkan mata, bayangan akan darah, memar dan tanganmu gemetar saat menyentuhku membuat aku tak pernah sekali pun tidur nyenyak. Lebih parah lagi, kadang aku merasa darah itu […]

Selengkapnya…