LAYLA, Seribu Malam Tanpamu

Tahukah kamu kalau novel terbaru Candra Malik yang berjudul “Layla, Seribu Malam Tanpamu” ditulis selama empat hari? Yap, proses menulis novel ini ‘hanya’ perlu waktu yang sebentar. Bahkan, Candra Malik sendiri bilang kalau empat hari itu tergolong waktu yang lama. Novel sebelumnya ditulis hanya menghabiskan waktu selama dua hari saja.

“Sebenarnya jangan dililhat cepat atau tidaknya menulis yang hanya makan waktu empat hari. Perlu diketahui, sebenarnya jalan pengalaman yang dilalui sebelum lahir novel itu yang lama.” Kurang lebih begitu kata Candra Malik menanggapi ketakjuban betapa cepat ia menulis.

Ya, novel Layla, Seribu Malam Tanpamu lahir dari pengalaman Candra Malik belajar tasawuf mulai tahun 2003 sampai 2016.

Krisis Santri yang Menulis

LAYLA, Seribu Malam TanpamuProses kreatif penulisan novel Layla, Seribu Malam Tanpamu lahir dari pengalaman Candra Malik belajar mursyid yang dilakoninya mulai dari tahun 2003 sampai 2016. Sebuah proses yang panjang. Setelah itu ia tak langsung menuliskan pengalamannya menjadi buku.

Baru setelah ditanya mengapa pengalaman tersebut tak dijadikan buku saja, Gus Can tergerak untuk menjadikan peristiwa-peristiwa yang telah dilakoninya menjadi satu di dalam buku. Beberapa pertanyaan yang melintas di pikiran menjadi salah satu poin utama yang ‘dicantumkan’ di dalam novel. Seperti misalnya pertanyaan-pertanyaan mengenai perihal abadi; siapa sesungguhnya aku, untuk apa aku hidup di dunia, setelah kujalani seluruh kehidupan ini lalu apa?, setelah peristiwa ini apa lagi yang akan hadir, sementara itu perihal ‘abadi’ itu sendiri adalah apa dan tentang apa, dan lain-lain.

Saat menulis novel Layla, Seribu Malam Tanpamu ini Gus Candra Malik mengatakan bahwa sesungguhnya keadaan masyarakat kita sedang krisis santri yang menulis. Yaitu, santri yang mampu menulis dengan bahasa ‘sehari-hari’ atau yang berlaku pada masyarakat. Bukan bahasa tinggi, namun bahasa yang bisa dibaca dan dipahami oleh masyarakat pada umumnya.

Geliat sastra di pesantren perlu terus menerus dilestarikan. Karena bisa diingat, dulu Wali Songo pintu masuknya adalah seni, dan bukannya perkataan tinggi macam ‘ndalil‘. Berkaca pada Nabi Muhammad, berbahasalah sesuai kaumnya. Sehingga diharapkan santri mampu menulis dengan cara mencengkramai masyarakat dengan mesra.

Menulis Cepat “LAYLA, Seribu Malam Tanpamu”

Dalam menulis Candra Malik memangt terkenal kecepatannya dalam menyelesaikan naskah. Tulisan Layla, Seribu Malam Tanpamu ini tergolong ‘lama’ yakni ditulis selama empat hari. Namun begitu, tak seperti penulis pemula lain yang bila menulis cepat maka naskah butuh banyak editing, naskah Gus Can ini cenderung sudah ‘bersih’. Tak memerlukan banyak revisi dan editing.

LAYLA, Seribu Malam TanpamuKalau pun membutuhkan revisi, Candra Malik bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat. Untuk menambah tiga bab dalam novel “Layla, Seribu Malam Tanpamu, ia hanya memerlukan waktu dua hari.

Novel Layla, Seribu Malam Tanpamu berisi tentang bagaimana seorang tokoh, yaitu Layla, melakoni jalan hidupnya sebagai hamba Allah. Karena muara religiuitas hidup sebenarnya hanyalah tentang “melakoni“. Hidup juga sebenarnya hanyalah perihal perjalanan rasa, bukan perjalanan logika. Itulah mengapa kisah spiritual yang pernah dilakoni Candra Malik ini ditulis dalam bentuk fiksi.

 

Keterangan Buku:
Judul buku: Layla, Seribu Malam Tanpamu
Jumlah halaman: 272, soft cover
Terbit: April 2017
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN 13: 9786022913832

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *