Mendongeng Bersama Ariyo Zidni

Mendongeng dengan Menggunakan Berbagai Media

Halo, Apa Kabar Sobat Mendongeng KlipingSastra?

Pada tanggal 17 – 20 Mei 2017 lalu salah satu mimin KlipingSastra mengikuti Pelatihan Bimbingan Teknik Tenaga Literasi 2017 di Jakarta, yang merupakan bagian dari program acara Badan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di sini mimin akan menulis tentang materi mendongeng menggunakan berbagai media. Materi ini disampaikan pada hari pertama di jam ‘matkul’ terakhir alias malam pkl. 20.00 – 22.00. Perlu sobat ketahui, perihal mendongeng ini tidak ada bahan materinya, alias disampaikan secara langsung tanpa menggunakan slide.

Verba volant, scripta manent – spoken words fly away, written words remain.

Hal yang sedikit janggal terlihat, selama pelatihan mungkin hanya mimin-lah satu-satunya peserta yang paling sibuk utak-atik  ponsel, yang bisa jadi kalau sekilas dipandang mata akan tidak sedap, dikasih materi kok malah ngurusin hape. Padahal saat itu mimin sedang bekerja dan atau mencatat. Mendengarkan, lalu menulis sambil menjaga pusat perhatian tetap di depan. 😃

Tulisan tangan mimin jelek, jadi menulis di ponsel saja, sekalian bisa membagi ilmu dengan cepat dan lebih luas. Salah satunya dengan melalui live twit, yang pada akhirnya toh lumayan membantu memanggil ingatan saat hendak menulis artikel ini. Dan, semoga catatan ini bisa bermanfaat bagi sobat pembaca semuanya.

 

Mendongeng Menggunakan Berbagai Media

oleh Ariyo Zidni

Mendongeng Untuk Anak-anak

Di dalam mendongeng, tak ada hal yang tak logis bagi anak-anak. Seperti misalnya; hewan yang bisa berbicara, tanaman dan atau tumbuhan yang bisa berbicara.Bagi orang dewasa, perihal tersebut mungkin janggal, tapi tidak bagi anak-anak. Sekali lagi, tak ada yang tak logis bagi anak-anak. Asalkan merasa dekat dan nyaman, mereka pasti mau mendengarkan.

Saat menyampaikan dongeng jangan pernah menunjukkan nilai moral dan memberikan kesimpulan. Contoh memberikan kesimpulan berupa nilai moral; “Jangan jadi anak nakal, ya….”, “Tuh, kan kalau bandel pasti nanti tidak disukai teman”, dan lain sebagainya. Kesimpulan tersebut hanya akan membatasi anak berpikir.

Hal yang sebaiknya dilakukan setelah selesai menyampaikan dongeng adalah mengajak mereka berdiskusi. Tanyakan pada mereka; bagian apa yang mereka sukai, karakter apa yang mereka suka dan tidak suka, tanyakan alasannya. Ajak mereka berpikir dengan mengobrol dan menguraikan pendapatnya. Hal ini akan jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya memberikan kesimpulan cerita.

Perlu diketahui bahwa di dalam benak anak-anak hanya ada tiga hal, yaitu main, main, dan main. Tahu sendiri kan anak-anak susah banget disuruh mandi. Tapi kalau perintah mandi diganti dengan ajakan, “Yuk, main air….” pasti pada langsung berangkat. 😛

Begitu pun dengan mendongeng, pergunakan perihal bermain-main.

Kekuatan Mendongeng

Apa saja yang menjadi kekuatan di dalam mendongeng? Tentu saja yang pertama adalah kedekatan personal antara pendongeng dengan anak-anak. Hal ini bisa kita lihat saat ibu-ibu atau ayah-ayah yang mendongengi anaknya. Biasanya sih dongeng sebelum tidur. Pastikan jangan ada jarak antara orangtua dengan anak. Sentuhan kulit antara orangtua dan anaknya menjadi bonding atau ikatan yang kuat sekali.

Berikutnya adalah kekuatan cerita itu sendiri. Contoh cerita yang menarik dan membikin penasaran yang diceritakan Ariyo Zidni saat itu berjudul “Nyangkut”.

Ceritanya begini:
suatu ketika seorang anak bermain layangan, dan layangan itu nyangkut di atas pohon yang tinggi. Ia ingin mendapatkan layangannya kembali.

Anak itu mengambil tangga dan melemparkannya ke atas, dan tangga itu nyangkut. Ia mengambil tongkat dan melemparkannya ke atas. Ehh, nyangkut juga! Si bocah kemudian meminta bantuan kucing dengan melempar kucing itu ke atas, dan kucing itu nyangkut.

Waduh.

Anak itu kemudian meminta bantuan ayahnya, dan ayahnya yang dilempar ke atas pun nyangkut! Si anak terus berusaha. Tapi semuanya nyangkut di atas pohon. Bahkan sampai ikan paus dan para petugas pemadam kebakaran. Semuanya nyangkut!

Nah, bagaimana kisah selanjutnya? Penasaran, kan? 😛

Bila mendongeng antara orangtua dan anak penting menjaga kedekatan, begitu juga saat mendongeng di depan anak-anak. Kedekatan itu perlu dijaga, salah satunya dengan kontak mata. Pendongeng harus sadar untuk membagi kontak mata dan atau pandangan supaya semua anak-anak merasa diperhatikan.

Bila pendongeng berada di tengah, kelompok anak-anak bisa dibagi menjadi tiga: bagian kiri, bagian tengah, dan bagian kanan. Pastikan adil dalam membagi pandangan demi menjaga kontak mata.

Dalam bercerita, ekspresi kecil atau ekspresi besar (ekspresif) tak menjadi masalah bagi anak-anak. Misal, bercerita tanpa banyak gestur besar dan memain-mainkan suara, anak-anak masih bisa menerima dan merasa tertarik, asalkan… semuanya sesuai dengan cerita.

Karena, inti dari mendongeng adalah agar pesannya sampai.

Bila mendongeng menggunakan buku di depan anak-anak, selain menjaga kontak mata, perhatikan pula ekspresi, gestur, dan emosi cerita yang hendak disampaikan.

Contoh posisi tubuh saat mendongeng:

Posisi tubuh menyerong, buku dibuka, menjaga kontak mata dengan anak-anak, jari menunjuk gambar atau teks di dalam buku cerita.

Mulailah mendongeng dengan berangkat dari cerita yang kita suka dan kuasai. Sesuaikan dengan usia anak, waktu dan kebutuhan ceritanya.

Cara Mendongeng, Jenis Dongeng dan Durasinya

Contoh posisi tubuh saat mendongeng

Pendongeng Ariyo Zidni pernah melakukan penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 60% bapak-bapak suka mendongeng dengan mengarang bebas atau tanpa buku. Sementara 40% ibu-ibu senang mendongeng dengan membaca dari buku.

Mendongeng ada dua cara:

  1. Mendongeng menggunakan teks, yaitu mendongeng dengan membaca buku. Mendongeng dengan cara ini disebut juga read-a-loud atau bercerita  lantang.

  2. Mendongeng tanpa teks, yaitu bercerita saja dengan mengarang secara langsung.

Bagi orangtua sebaiknya mendongeng dilakukan dengan menggunakan teks atau membaca buku pada anak. Selain mengajarkan kesukaan anak-anak untuk membaca, hal ini juga bisa mengayakan kosakata serta struktur berbahasa.

Memilih dongeng pun perlu diperhatikan. Dongeng untuk anak PAUD, TK, dan anak SD kelas 1 biasanya tentang cerita binatang, personifikasi (misalnya: Thomas, Cars). Semua cerita berkisar tentang kisah-kisah dan masalah anak-anak yang seusia mereka. Durasi mendongeng satu cerita sekitar 5 – 7 menit saja.

Untuk usia SD ke atas sampai akhir SMP cerita yang menarik bagi mereka adalah cerita rakyat, fairy tale, cerita magis seperti kurcaci dan peri, dan juga mistis. Durasi waktu mendongeng sekitar 10 – 15 menit. Sementara di usia akhir SMP sampai dewasa cerita yang menarik bagi mereka adalah cerita-cerita romance dan yang inspiratif.

Contohnya; cerita tentang keberhasilan seseorang dengan tema from zero to hero senang didengarkan untuk remaja atau dewasa yang hidup sebagai pemulung sampah, atau pekerjaan ‘sepele’ lainnya. Cerita ini bisa memotivasi mereka untuk giat belajar dan atau giat dan tekun bekerja keras demi meraih mimpi dan cita-cita mereka.

Bagaimana Menyampaikan Cerita dengan Menarik

Setelah memilih buku yang disukai dan dikuasai ceritanya, ada cara-cara yang perlu diperhatikan supaya kegiatan mendongeng menjadi menarik dan diikuti anak-anak dengan penuh minat.

Mendongeng adalah seni berkomunikasi, bukan pertunjukan seperti teater, misalnya. Jadi, mendongenglah dengan santai, bebas, namun tetap dengan menguasai cerita.

Lalu, bagaimana, sih, menyampaikan cerita supaya bisa menarik?

1. Masalah mental.

Atau bisa dibilang niat; berniatlah mendongeng untuk anak-anak. Tak perlu memikirkan perihal sulit lainnya, yang biasanya akan menghambat proses bercerita karena grogi dan lainnya. Tak perlu takut kaku, karena dengan kegiatan mendongeng yang dilakukan dengan terus-menerus, nanti pasti akan menjadi baik sendiri.

2. Jangan pernah takut salah. Latihan terus.

3. Suara

Di dalam kegiatan mendongeng, suara bagus atau cempreng semuanya menarik. Asalkan logis, ya. Misal, suara raksasa biasanya berat, besar, dan menggelegar, sementara suara kelinci terdengar imut dan lucu (jangan terbalik 😒). Bagi anak-anak, suara merdu atau suara cempreng, mengubah suara atau tidak mengubah suara pun tetap akan disenangi. Yang terpenting di dalam mendongeng adalah artikulasi yang bagus atau pengucapannya jelas.

4. Ekspresi.

5. Gestur atau gerakan tubuh.

Ekspresi dan gestur ini bisa dilakukan untuk menambah atau menekankan emosi cerita yang ingin disampaikan.

Selain itu, kekuatan dari bercerita adalah narasinya. Contohnya seperti ini (perhatikan yang kata yang bentuknya bold dan italic!):

“Timun Mas, jagalah dirimu baik-baik,” itu kata ibunya.

“Baik, Ibu. Timun Mas akan berhati-hati,” kata Timun Mas.

Akhir yang Bahagia

Setelah mendongeng, biasakan membikin disksusi terbuka. Ajukan pertanyaan: bagaimana ceritanya tadi menurut kalian? Senang bagian yang mana saja? Bila ada karakter jahat, tanyakan pada mereka apa yang membikin tokoh itu tak disukai oleh tokoh yang lain.

Biarkan anak-anak menjelaskan tanpa ditunjukkan mengapa dan atau diberikan kesimpulan. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bermanfaat untuk memancing dan atau mendapatkan banyak respons dari anak-anak. Hal ini juga bisa melatih anak-anak untuk berpikir kritis.

Sekali lagi, tak perlu mengajarkan bahwa membaca itu penting bagi mereka. Cukuplah bagi mereka, membaca adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Karena, bagi anak-anak hanya ada tiga hal penting dalam hidup mereka; main, main, dan main.

Mengenai hal pentingnya membaca bisa bertumbuh setelah mereka senang membaca.

Mendongeng biasanya ditutup dengan akhir yang bahagia, yang baik-baik akan selalu menang. Untuk usia dini hal ini penting demi menanamkan perihal baik bagi mereka.

Demikian catatan mengenai Mendongeng Menggunakan Berbagai Media yang disampaikan oleh pendongeng Ariyo Zidni. Semoga bermanfaat ya. Salam Literasi.

Sila Tinggalkan Komentar