Republika

  • Rendang Batak Umak
    by Kliping Sastra Nusantara on 13 Februari, 2018 at 8:01 am

    IBUKU orang Sunda. Ayahku orang Batak. Meski demikian, aku terlahir dengan wajah yang lebih mirip Ambon dilengkapi ikal-ikal yang nakal dan tak mirip keduanya. Biarlah, yang penting wujudnya masih sama-sama manusia. Entah bagaimana mereka bertemu di pulau Jawa dan saling membutuhkan di saat yang tepat, karena itu mereka pun memutuskan menikah.Seumur-umur aku tahu Umak berlatih dan terus berlatih memasak semata-mata demi menjaga Ayah agar hatinya tak tercuri wanita lain. Ia taat sekali pada […]

  • Langit Tanpa Warna
    by Kliping Sastra Nusantara on 6 Februari, 2018 at 7:26 am

    APA itu kebenaran? Hal yang kita percayai sedari kecil? Yang nampak dari mata dan indera? Yang kau baca dari realita? Apa itu kebenaran?Itu pertanyaan pertama yang kami terima di sekolah di negeri Langit Merah Muda. Tak semua orang seberuntung kami. Negeri Langit Merah Muda memang selalu percaya bahwa fungsi dari sekolah bukan untuk menjejalkan ilmu ke dalam kepala, melainkan hal yang lebih sulit lagi dari itu: untuk menundukkan ego. Membentuk pola pikir bahwa manusia sungguh tak tahu apa-apa. […]

  • Lorong Sunyi
    by Kliping Sastra Nusantara on 30 Januari, 2018 at 8:26 am

    IA menjatuhkan wajahnya di atas lutut laki-laki lima puluhan. Meski laki-laki itu berusaha melepasnya, wajahnya masih jatuh lekat dengan posisi duduk di bawah kursi. Lama sekali. Seolah ia mempertahankan posisinya sampai laki-laki itu menerima keinginannya untuk tetap menjaga hubungan dengan Suhaili.Ibunya yang tepat di kursi sebelah laki-laki itu hanya diam. Tak berkata apa pun. Apa lagi memintanya untuk kembali ke rumah tempat tinggalnya sampai dewasa. Bahkan tempatnya dilahirkan. Sebagaimana […]

  • Selepas Bapak Meninggal
    by Kliping Sastra Nusantara on 23 Januari, 2018 at 7:28 am

    KAKIKU sudah terasa begitu lemah menyusuri dinding bukit kapur ini. Aku, Paman Sahdan, Basir, dan Alif Rahman mengangkat peti mati Bapak. Peti itu berisi jenazah Bapak yang meninggal kemarin pagi. Kami mengangkatnya sudah ratusan meter dari rumah dan harus membawanya ke tebing untuk dimakamkan pada lubang-lubang di atas tebing. Namun kakiku terasa goyah. Paman Sahdan bilang, “Coba istirahat sebentar, lalu kita lanjutkan sedikit lebih atas lagi. Agar arwah bapakmu cepat diterima di […]

  • Kalam Ilahi di Balik Jeruji Besi
    by Kliping Sastra Nusantara on 15 Januari, 2018 at 8:34 am

    AKU masih bertelut di hadapannya. Mencium setiap sudut kulit kakinya yang renta sambil menyatakan permohonan maaf berkali-kali. Aku tak ingin beranjak. Namun, seseorang menarik tubuhku kuat-kuat hingga aku terpaksa bangkit. Satu pukulan menghantam tengukku dengan cukup keras. Disusul amarah yang mendengung seisi kepala.Mataku berkunang-kunang. Aku masih menangis. Disusul dengan isakan ibu dan makian Mas Har. Aku tertunduk karena tak berani melihat kedalaman mata ibu. Ada muara yang tak bisa […]

Selengkapnya…