Suara Merdeka

  • Surat untuk Presiden
    by Kliping Sastra Nusantara on 23 Oktober, 2017 at 8:00 am

    “KELUAR kau, Kardi!” teriak Wahyu yang kemudian diikuti suara pintu digedor sepenuh tenaga. Teriakan Wahyu benar-benar merusak ketenangan pagi itu. “Keluar kau atau kudobrak pintu ini,” ancamnya sembari terus menggedor.Sontak keributan yang dibuat Wahyu memanggil warga untuk datang melihat. Mereka saling berbisik dan menerka, apa gerangan yang menyebabkan Wahyu kalap pagi-pagi begini. Baru saja dia hendak mendobrak, pintu terbuka dan muncullah wajah Kardi yang […]

  • Cakil
    by Kliping Sastra Nusantara on 17 Oktober, 2017 at 1:00 am

    “HAP, hap, aem!” kata Mbak Lasmi saat menyuapi Giok, adikku. Kami bermain-main di depan panggung gedung pertunjukan wayang orang. Hari masih sore. Ruangan masih sepi. Waktu usia lima tahunan aku tinggal di samping gedung pertunjukan Wayang Orang Sri Wanito Semarang. Adik perempuanku masih berumur setahun, sedangkan kakak lakiku selisih setahun dariku. Pembantu yang mengasuh adikku sering mengajak kami ke gedung itu. Pintu belakang gedung persis di samping rumahku. Kalau dilihat […]

  • Menunggu Kelahiran
    by Kliping Sastra Nusantara on 10 Oktober, 2017 at 4:00 am

    AKU tak pernah melihat ibuku. Sampai sekarang aku pun tak ingin melihat dia. Andai kelahiranku bisa dihapus, tentu aku akan memilih tidak dilahirkan atau setidaknya lahir dari rahim ibu lain. Aku tak ingin terlahir. Itu saja.***AKU melihat ibuku begitu bahagia. Ia sering sekali mengelus-elus kepalaku dan terus bercerita tentang kehidupan yang indah-indah. Padahal, aku tahu yang sebenarnya ibuku tak pernah bahagia. Ibuku kesepian. Kata orang, akulah satu-satunya kebahagiaannya.Saat besar […]

  • Waktu - Sajak Tuhan - Hujan - Penyair - Tuhan - Buruh -
    by Kliping Sastra Nusantara on 8 Oktober, 2017 at 7:03 pm

    WaktuAdalahSebuah bingkisanTak terucapNafasMenjelmaPeristiwaMemberontakHati kitaUbun-ubunBerlaksa-laksaHati kitaDi paru-paru keimananTingkir, 21/2/2016Sajak TuhanTak pernah berhenti, seperti hujanMengalir di perbatuan yang padasBergulung embun-embun mengikat hatikuTak ada koma di atas nalar kepala kitaTingkir, 26/6/2014Hujangadis cantik,Bayang-bayang cantik membunuh jiwaku.Fotomu,Tak pernah kulihat sebelumnya.Setelah berhenti,Rahimmu melahirkan pelangi di balik bukit.pandai,Bermain-main […]

  • Honey Politics
    by Kliping Sastra Nusantara on 3 Oktober, 2017 at 9:00 am

    ALIDA kaget. Malam itu saat gerimis mengguyur, ia mendapat surat dari mantan kekasih, Dulni. Alida membuka amplop surat itu perlahan. Jemari lentiknya gemetar. Bibir tipis merah merona itu langsung mengeja huruf demi huruf. “Alida, maaf jika aku menganggu. Pada bulan penuh kasih sayang ini, aku meminta padamu. Pintaku sederhana, Alida. Memang dulu kau pernah menolak lamaranku untuk memperistrimu.Permintaan itu terlalu berlebihan dan kurang ajar, Alida. Tak pantaslah lelaki sepertiku […]

Selengkapnya…