Suara Merdeka

  • Sepasang Mata Ibu dan Sepasang Mata Bocah Lugu
    by Kliping Sastra Nusantara on 15 Agustus, 2017 at 2:28 am

    SEPASANG mata anak kecil yang mungil, mata yang tak mengerti kesedihan apa-apa, menatap tajam pada daun-daun yang berguguran dari pohon di tengah taman. “Kenapa daun-daun itu jatuh, Ibu?” tanyanya kepada perempuan yang sejak tadi terdiam sambil menunjuk daun-daun yang pelanpelan terlempar ke tanah basah sebab hujan tadi siang. Wajah polos itu menampakkan kepolosan.“Kenapa daun-daun itu jatuh, Ibu?” tanyanya sekali lagi. Kali ini sambil menatap kedua mata ibunya yang […]

  • Percakapan Pohon - Nestapa Bumi - Kota Tanpa Raga - Puisi Gelap
    by Kliping Sastra Nusantara on 13 Agustus, 2017 at 8:00 pm

    Percakapan Pohonaku mendengar percakapan pohonyang terbawa desir angindari arah perbukitanpercakapan gelisah membuncahatas nasib mereka, yang sebentar lagiberakhir di tangan para penjarahaku mendengar deru gergaji mesinmenenggelamkan tangisan pohonyang tak mampu merontaairmatanya menganaksungai, panjangberhenti di samping aku berdiriaku menemukan jejak perompakdan jejak roda-roda besarmelintas desa-desa, menyelinap ke kotamengantarkan tumpukan hartakepada penguasa2017Nestapa Bumisepagi ini […]

  • Perayaan Qi Xi
    by Kliping Sastra Nusantara on 8 Agustus, 2017 at 1:00 am

    SEMENJAK berkali-kali gagal membina hubungan spesial dan usia terus mengelinding tanpa bisa ditangkal, aku memasrahkan urusan jodoh pada Mama. Menyerah pada cara konvensional: dijodohkan! Jodoh bukan perkara hati, melainkan bagaimana memenuhi target diri. Siapa pun lelaki itu, asal tak beristri, akan kuterima.Markus T’sien satu sekolah denganku di Yayasan Shion. Namun aku tak memiliki memori kuat untuk menemukan namanya di deretan siswa yang kuketahui. Wajah dan rupanya samar. Menyisakan […]

  • Perempuan Itu
    by Kliping Sastra Nusantara on 1 Agustus, 2017 at 1:30 am

    TANAH perkuburan itu masih basah dan gembur. Jejak langkah para peziarah bahkan belum sampai tersapu, dan kemuning yang tertancap ragu-ragu rubuh. Di bawah mereka ada jazad yang baru semayam, beberapa waktu lalu berpulang. Hening masih tetap hening. Tiada terjerat isak, tiada terbelenggu duka nestapa. Sementara Buyung lelap dalam dekap. Belum melepaskan puting yang sejak tadi dia isap. Itulah yang menjadi senjata bagi Hening untuk tidak ikut mengantar sampai dekat pusara. Pada detik ini, […]

  • Ode #1 - Ode #2 - Ode #3 - Ode #4
    by Kliping Sastra Nusantara on 30 Juli, 2017 at 7:12 pm

    Ode #1- buat Agustav TrionoBiar saja matari remuk dihantam temaramAtau pohon-pohon di sepanjang trotoarTerisak meratapi guguran daunBuah langit yang kau kupas kulitnyaMenebar puisi beraroma kopiPekat tanpa gula mengoyak mataAgustav dan aku orangnya entah mengapaSering alpa mengeja peta buta“Di mana kau kubur penyair bengal itu?Dia hutang sekantung keping puisi”Jadi begini AgustavKadang kala malam lebih gurihDibanding gelap yang kau sangrai di tungku batuAtau keringat yang matang di […]

Selengkapnya…