Teks Cacat di Luar Tubuh - Afrizal Malna

Teman Ngobrol: Teks-Cacat di Luar Tubuh Afrizal Malna

KLIPINGSASTRA kembali berkesempatan ikut dalam diskusi bersama Afrizal Malna dalam “Teks-Cacat di Luar Tubuh Aktor” di PKKH UGM pada sore 2 Agustus 2017, setelah malam sebelumnya juga menyimak bincang beliau di area Radiobuku Sewon Bantul dalam helatan Festival Kesenian Yogyakarta dengan tema “Menanam Cerita di Halaman”.

Afrizal Malna n Dika KalanariAcara TemenNgobrol  yang menghadirkan Afizal Malna ini dihelat oleh Ibed Surgana Yuga dan kawan-kawan Kalanari Theatre Movement sebagai acara rutinnya. Yang menjadi lebih menarik adalah, bahwa pada kesempatan itu hadir pula seniman pantomimer gaek; Jemek supardi, banyak orang tak menyangkanya karena memang beliau datang spontanitas saja. Salah satunya hanya berniat hendak mengucapkan terima kasih kepada Afrizal Malna, karena jasa Afrizal dalam kepenulisan, yaitu sempat beberapa kali menulis tentang Jemek dan karya-karyanya.

Pada acara temenngobrol itu, salah satu pemaparan Afrizal perihal kepenulisan karya “Teks Cacat di Luar Tubuh” diawali dengan bahasan mengenai bahasa. Bahwa bahasa Indonesia ini sejatinya ditopang oleh bahasa Belanda yang semakin lama semakin menipis. Karenanya Afrizal Malna berpikir ualng untuk mengubah arahnya “Bagaimana kalau bahasa Indoensia ini ditopang oleh bahasa Jawa saja?” Karena dengan begitu akan ada kemungkinan bahwa bahasa Indonesia memiliki kosakata yang lebih kaya. Artinya, tanpa penopang kuat, bahasa itu pada akhirnya hanya akan dikuasai pasar.

Tentang kisah perjalanan, selama di Jakarta ia memang memilih profesi sebagai penulis, namun usai tujuh tahun meninggalkan Jakarta untuk mukim di Jogja, Afrizal justru tak bisa lagi kembali sebagai penulis. Kurun waktu tujuh tahun menjadikannya memandang Jakarta sebagai kota yang teramat keras.

Berlanjut Mengenai “Tubuh Teks,” Apa sih Maksudnya?

Bagi Afrizal, yang dimaksud dengan tubuh teks adalah, bahwa keberadaan tubuh itu sangat terkontaminasi oleh bahasa, oleh teks. Artinya gestur tubuh ketika berbicara menggunakan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris tentu memiliki perbedaan. Tak sama!

Pada akhirnya, sebagai sebuah kompleksitas teks, orang yang datang mengobrol dan berbicara ataupun menonton pertunjukan teater jarang dianggap sebagai teks. Padahal sejatinya mereka semua masuk dalam kategori teks.

Ibed Surgana Yuga -Kalanari Theatre MovementHal menarik adalah ketika dalam menerbitkan buku “Teks-Cacat di Luar Tubuh” ini Ibed Surgana Yuga sama sekali tak melakukan pengeditan, karena bisa jadi baginya semua kata teramat sayang untuk dibuang. Namun sebaliknya, Afrizal Malna sebagai penulis malah menyebut naskah “Teks Cacat di Luar Tubuh Aktor” itu tak ubahnya sebagai sampah.

Selanjutnya jika ditarik ke masa kini, modernisme menjadi penting karena saat ini kita dibanjiri oleh data. Bahkan, lembaga arsip sekalipun, dengan sadar telah membanjiri kita, lagi-lagi dengan data! Karenanya reduksi menjadi perihal penting agar kita tetap memiliki akal sehat dan memiliki kemampuan untuk berpikir jernih. Yang kemudian ketika dibawa ke ruang teater tetap memberi efek berbeda.

Bahasa tak lebih hanya membuat pengap, tercekik, tercengkeram. Oleh karenanya, ini menjadi saat yang tepat untuk keluar. Yaitu dengan membebaskan teks dari tipografi; bebas order adegan.

Ihwal aktivitas dalam menulis, Afrizal Malna memaparkan bahwa staminanya dalam menulis dan membaca bukan sebatas 24 jam, namun ia menulis dan membaca sepanjang 27 jam 🙂

Hanya saja tentang banyak orang yang mendewakannya dalam hal menulis, baik puisi pun prosa, Afrizal Malna justru merasa terganggu dengan segala sesuatu yang megalomaniak, yang mendewakan dirinya sendiri. “Kamus saya adalah tubuh saya. Jadi saya menulis puisi menggunakan kecenderungan saya. Sementara saat menulis prosa, saya baru akan menggunakan kecenderungan bahasa.”

Demikian mengenai bincang dengan banyak teman ngobrol di PKKH. Bagi Anda yang berminat dengan buku “Teks Cacat di Luar Tubuh Aktor”www.kalanari.org ini, bisa langsung menghubungi kalanari teater, baik melalui kanal website-nya ataupun menghubungi beberapa kanal media sosialnya. [uth]

 

Sila Tinggalkan Komentar