Abal-abal

Karya . Dikliping tanggal 28 Januari 2019 dalam kategori Bahasa & Budaya, Pikiran Rakyat

KATA “abal-abal” sering kita dengar, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Akan tetapi, apakah arti atau makna sebenarnya!? Tentu dalam pengucapan sebuah kata, memiliki makna dan tujuan. Jika merujuk asal-usul kata (etimologi), kata “abal-abal” berasal dari kata dasar “abal” dan berasal dari bahasa Lembak.

Dalam pendidikan bahasa saat ini, terutama penggunaan bahasa secara umum, baik percakapan sehari-hari maupun pemberitaan media cetak dan sosmed, telah terjadi kerusakan tekstur kata yang akhirnya menjadi pengakuan tak tertulis. Salah satu yang menjadi topik bahasan seperti kata “abal-abal” yang hanya ditemukan dalam kamus gaul. Tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Untuk lebih memahami secara utuh dan mengerti penjelasan kata “abal-abal”, di bawah ini ada beberapa contoh kalimat.

1. “Kenapa kalian masih saja beli barang di toko tersebut, toko itu hanya abal-abal.”
2. “Adik saya tertipu, dia membeli motor lewat online, tetapi ternyata perusahaan itu hanya abal-abal.”

Dari kalimat itu, kata “abal-abal” dalam susunan gramatikal bahasa Indonesia berfungsi sebagai “keterangan kalimat” sebagai adjektiva (kata sifat) untuk menerangkan unsur kalimat. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, kalimat ini bisa dipahami dan diterima karena tanpa ketentuan tertulis yang mengharuskan masyarakat menggunakan pedoman bahasa sesuai Ejaan Yang
Disempurnakan. Ini karena perbedaan definisi yang tidak pernah melibatkan para pakar bahasa dalam peran bahasa sebagai penyeimbang budaya. Akan tetapi, dalam konteks pendidikan formal, kalimat ini dibiarkan menjadi rancu. Kata “abal-abal” tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Salah satu keterbatasan kita, sebagai pengguna bahasa yang baik dan benar adalah kata-kata tersebut bisa diterjemahkan secara internasional dalam kamus Inggris. Tentu kata yang dimaksud itu tidak akan kita temukan dalam sinonim atau terjemahan bahasa Inggris. Akan tetapi, kebiasaan buruk yang terjadi secara umum adalah penggunaan kalimat yang bebas dan terus dibiarkan berkembang tanpa ada memperhitungkan aspek kualitas bahasa.

Dalam temuan lain, kata “abal-abal” juga memiliki kesamaan arti dengan ecek-ecek, palsu, imitasi ataupun fiktif (tidak ditemukan). Kesan ini hanya untuk mempertegas fungsi kalimat yang sebenarnya salah. Ada banyak kata dalam penggunaan kalimat bahasa Indonesia yang perlu diluruskan untuk menjaga ekosistem budaya dan nilai-nilai pendidikan secara utuh dan benar.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hanya ditemukan kata “abal” yang memiliki arti memegang atau meraba yang diadopsi dari bahasa Lembak. Makna kata ini terus berkembang hingga berubah fungsi sebagai bahasa yang lebih mudah diterima dan dimengerti oleh masyarakat, meski terjadi kerancuan tata bahasa.***


[1] Disalin dari karya Vito Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 27 Januari 2019