Bahasa (Indonesia) Perdagangan

Karya . Dikliping tanggal 29 Oktober 2018 dalam kategori Esai & Opini, Suara Merdeka
Sila Nilai-Bintang!

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah dimulai. Orang mulai sadar, jika persentuhan MEA tak hanya soal ekonomi, tetapi juga melibatkan bidang lain seperti politik, sosial, pertahanan dan keamanan, serta khususnya budaya.

Sayang, kesadaran itu justru membuat orang meragukan kemampuan bahasa Indonesia dan memilih bahasa Inggris untuk bersaing dengan pendatang guna mendapat nafkah. Orang lupa, sejarah kebahasaan kita menyatakan cikal-bakal bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu.

Pada masa itu, bahasa Melayu juga dikenal sebagai lingua franca alias bahasa perdagangan. Istilah itu tentu tidak jatuh dari langit begitu saja, hingga hadir sebagai bahasa kita. Menurut sejarah, bahasa Melayu sangat luas digunakan oleh masyarakat Nusantara sejak 14 abad lalu. Waktu itu, bahasa Melayu merupakan bahasa resmi istana (Kerajaan Sriwijaya), sehingga digunakan sebagai bahasa transaksi di pelabuhan-pelabuhan dagang.

“Bahasa Melayu merupakan bahasa perdagangan antara orang-orang asing (India, Tionghoa, Arab, Eropa) dengan orang Indonesia. Dan juga antara orang-orang Indonesia yang berlainan bahasa,” kata pakar bahasa-sastra Melayu klasik dan modern ATeeuw (1978:21).

Dari sana tampaklah kejayaan dan kekayaan Sriwijaya tak lepas dari peran bahasa. Tentu bukan sekadar mampu berbahasa seperti kebanyakan orang, tetapi membutuhkan pula keterampilan berbahasa agar tidak terjadi kekacauan akibat salah paham dalam penafsiran bahasa.

Menurut seri buku keterampilan berbahasa, Henry Guntur Tarigan menyebut empat hal yang mendasari seseorang agar terampil dalam berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berkaitan dengan hal itu, dua permasalahan terakhir — membaca dan menulis — digambarkan sebagai modal penting kerja dagang. Kita bisa menyimak kisah klasik Siddharta karya Herman Hesse. Novel itu menggambarkan dengan apik: membaca dan menulis merupakan modal besar meraih kesuksesan dan kekayaan.

Waktu itu Siddharta, yang telah meninggalkan identitas sebagai brahmana dan samana, memutuskan pergi ke kota untuk belajar cara menikmati cinta dari seorang pelacur kelas tinggi, Kamala. Namun kehidupan dia tanpa harta jelas tak menarik hati Kamala, yang kelak menjadi istri Siddharta. Kamala lalu memberikan tiga syarat agar Siddharta dapat merasakan kenikmatan cinta, yaitu pakaian yang bagus, kasut, dan dompet penuh uang.

Kemampuan Siddharta membaca dan menulis membuat Kamala memperkenalkannya pada pedagang kaya, Kamaswami, agar diberi pekerjaan. Dengan mudah Siddharta mendapat pekerjaan itu dan belajar banyak hal dari Kamaswami. “Usaha ini cukup baik sehingga menghasilkan uang baginya (Siddharta) untuk Kamala, dan memberinya jauh lebih banyak dari yang diperlukannya” (Hesse, 2014: 81).

Menyimak dan Berbicara

Dua hal lain sebagai keterampilan berbahasa, yaitu menyimak dan berbicara, juga menjadi penting dalam komunikasi perdagangan. Ilustrasinya tertuang melalui sebuah iklan (asuransi) di Thailand. Kisahnya begini. Ada seorang anak perempuan menjual nanas dingin. Seharian dia berkeliling menjajakan dagangan. Namun tak sebatang nanas pun terjual. Yang terjadi, es kristal dalam termos untuk mendinginkan nanas lebur menjadi air biasa.

Ia datang kepada ibunya dengan muka sedih. Lalu sang ibu menyuruh dia pergi ke pasar. Saran sang ibu, “Lihat, dengar, dan perhatikan strategi orang-orang yang berjualan di pasar!” Anak itu pun berangkat dengan polos, menoleh ke kanan dan ke kiri, menyimak dengan saksama. Akhirnya ia tahu strategi dagang orang-orang itu. Ada yang membuat papan untuk menyatakan makanan yang dijual enak, ada yang berteriak-teriak menawarkan dagangan seharga 10.000 dapat tiga, dan lain-lain. Ia belajar banyak dari pasar. Ia pulang, lalu membuat tulisan dan menempelkan di termos. Keesokan hari, ia berkeliling sambil berteriak-teriak menawarkan dagangan. Tak sia-sia, seluruh dagangan ludes.

Dari sejarah dan pengalaman dua tokoh itu, kita dapat belajar arti penting bahasa dalam banyak hal, termasuk ekonomi. Di sinilah peran bahasa sebagai alat perhubungan komunikasi) menjadi sangat penting. Seperti kata Koentjaraningrat (1980), bahasa adalah saka guru kebudayaan. Dan, ekonomi mengekor di belakang kebudayaan. Tentu saja kita harus ingat, bahasa Indonesia atau Melayu sampai sekarang masih banyak digunakan di kawasan Asia Tenggara. Tidak hanya di Indonesia dan Malaysia, tetapi juga di beberapa negara ASEAN. Bahasa Melayu masih cukup kuat bersaing dengan bahasa Inggris.

Akhirnya, saya ingin mengutip kata-kata orang tua: hidup ini selalu berputar. Dalam masyarakat Jawa juga dikenal konsep cakra manggilingan. Sejarah bahasa kita sebagai bahasa perdagangan telah membawa kejayaan pemerintahan pada masa lalu. Siapa tahu dengan keberadaan MEA, dengan bahasa Indonesia yang kita junjung, inilah saatnya kejayaan bahasa dan ekonomi itu bisa terulang. (28)

Hanputro Widyono, anggota Karang Taruna Bitaris Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo


[1]Disalin dari karya Hanputro Widyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 28 Oktober 2018