Penyendiri yang Mengubah Peradaban

Karya . Dikliping tanggal 6 Januari 2020 dalam kategori Esai & Opini

“Kebenaran tidak datang dengan sendirinya, ia harus betul-betul diperjuangkan agar menjadi benar.” (Pramoedya Ananta Toer, 1925-2006)

Sahrul orang terkaya dan terpandang di Desa Karangasem, Cilegon. Rumah megah dan mobil mewah dimilikinya. Dia mempunyai banyak kaki-tangan yang siap menurutinya bila diperintah, baik dalam hal kebaikan maupun keburukan. Konon, untuk berdirinya perumahan Serang Permai dia kerahkan para cukong dan calo tanah agar melakukan aksi tipu-muslihat di bawah kendali kekuasaannya. Banyak pihak yang dirugikan tetapi mereka diam seribu basa, bahkan tidak sedikit warga yang dikorbankan tetapi mereka bertekuk-lutut dan takut memperkarakannya di pengadilan. Sampai pada suatu ketika, pemikiran semakin berkembang, kesadaran semakin terbuka, dan hari-hari menjadi bumerang bagi perjalanan hidup Sahrul sendiri.

Tokoh-tokoh semacam Sahrul tak ubahnya seperti orang yang dulunya terjajah tetapi hidup dalam bayang-bayang keterjajahan, lantas bangkit dan bermetamorfosa menjadi “penjajah baru”. Oleh dukunnya, konon Sahrul mengantongi batu kecil dengan ukiran kupu-kupu. Katanya, kupu-kupu itu berasal dari laut, dan apabila dia bermaksud pada suatu hajat dan keinginan, kupu-kupu itu harus selalu berada dalam kantong bajunya ke mana pun ia pergi.

KSI -EsaiDalam karya sastra Pramoedya Ananta Toer, selalu saja kita saksikan bagaimana dunia kekuasaan dan kekayaan berkolaborasi dengan mistik yang selalu menjadi anutan masyarakat Nusantara. Misalnya pada novel Calon Arang, Arok Dedes, Mata Pusaran, hingga Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Dalam karya yang terakhir saya sebutkan, berawal dari kunjungan Pramoedya ke daerah Lebak pada akhir tahun 1957. Dia melihat perpaduan alam yang hijau menguning, dengan hamparan bukit dan pegunungan yang indah bergelombang. Namun, rakyat yang hidup di sekitarnya begitu miskin dan terbelakang, tak berdaya, lumpuh daya kerjanya, serta memiliki sikap rendah-diri yang berlebihan.

Lambat laun, bangkitnya kesadaran masyarakat justru dipandu oleh seorang kepala desa, Ranta, yang mengobarkan semangat persatuan dan rasa keadilan, hingga masyarakat menyadari posisi dan keberadaan dirinya yang sebenarnya masih dalam bayang-bayang Max Havelaar seperti tergambar dalam novel Multatuli. Mereka bukannya tak punya harapan, tetapi secara sadar dibodohi dan dihisap, dipaksa hidup dalam ketakutan dan ketegangan yang diagendakan oleh para komprador, penjajah, maupun lintah darat.

Melalui tokoh Ranta, Pramoedya membangkitkan secercah harapan dan rasa percaya diri di tengah masyarakat Banten. Suatu keteguhan sikap untuk bangkit dari rasa takut dan putus asa, suatu ketegaran untuk melawan ketertindasan, kemiskinan dan penghisapan. “Tubuh boleh disekap, ditendang , bahkan diinjak-injak, tapi semangat hidup tidak boleh redup,” demikian Pramoedya mengutip ucapan tokoh Ivan Denisovich dalam karya Alexander Solzhenitsyn (Rusia).

Tokoh Ranta dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan kemudian berujar, “Di mana pun aku selalu mendengar, bahwa yang benar pada akhirnya harus menang.”

“Baik aku percaya, tapi kapan yang benar itu akan menang, Pak Ranta?” tanya Rojali.

“Kebenaran tidak jatuh gratis dari langit, ia mesti diperjuangkan agar menjadi benar!”

Tokoh yang ditampilkan Pramoedya tersebut nampaknya terlampau ideal, tetapi memang sesuai dengan konteks zamannya. Beda dengan tokoh Haris (dalam Pikiran Orang Indonesia) yang bergerak secara alami, suatu sinergitas antara takdir Tuhan dan ikhtiar manusia. Haris bukanlah figur idealis, meskipun dalam batinnya terus-menerus memberontak dari cengkereman militerisme Orde Baru yang bersifat tiranik dan otoriter.

Meskipun begitu, penulis-penulis penyendiri yang bergerak secara independen itu, akan sampai juga ke pintu gerbang kepentingan semesta yang terus-menerus bereaksi dan — pada waktunya — akan mengubah jalannya peradaban dunia.

Daerah Kunjungan Pramoedya

Banyak yang luput dari pengamatan para akademisi dan sastrawan Banten, bahwa nama Banten termasuk salah satu daerah terpenting yang menjadi sandaran dalam karya sastra Pramoedya Ananta Toer. Kita semua tahu, satu-satunya penulis Indonesia yang beberapa kali masuk nominasi nobel itu, dikenal dunia sebagai penulis prolific, periset yang tekun dan dokumentator yang tangguh. Di samping dikenal sebagai penulis yang introvert, dia pun dikenal sebagai “penyendiri” yang berbahaya bagi para pelaku ketidakadilan dan kesewenangan. Dia menjelajahi genre sastra dari zaman ke zaman, pada tempat dan situasi di mana kemajuan teknologi belum sepesat hari ini.

Satu hal yang perlu dicamkan bahwa Pramoedya adalah seorang penjelajah ulung di dunia perbukuan dan dokumentasi. Dia bukan tipikal seniman yang gemar luntang-lantung dari satu daerah ke daerah lain. Karena itu, jikapun pernah mendatangi beberapa daerah di Indonesia (termasuk Banten), dia mesti punya maksud dan tujuan penting untuk sampai ke situ. Bukan seperti penulis traveler yang cuma wara-wiri asal kaki ngeloyor gak puguh. Setiap daerah yang pernah dia kunjungi, mesti menjadi latar dalam alur cerita yang dituangkannya melalui tinta emas. Setelah itu, barulah perpustakaan negara menjadi tujuan utama untuk menemukan sintesis dari kreativitas pada karya-karyanya.

Selain Banten, ada enam daerah lain yang pernah menjadi latar dalam karya sastranya, yakni Blora, Bekasi, Jepara, Rembang, Surabaya dan Jakarta. Dari semua kota itu, Surabaya termasuk daerah yang sering dikunjunginya untuk melakukan riset dan penelitian bagi karya yang kemudian ditulisnya dalam tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Melalui empat novel tersebut, Surabaya dikenal sebagai kota dengan aktor-aktor pergerakan nasional yang mendunia.

Daerah lain yang cukup penting adalah Jepara yang menjadi tumpuan riset bagi penulisan biografi “Panggil Aku Kartini Saja”. Banyak penulis yang luput dari pengamatan bahwa hasil riset Pramoedya untuk penulisan biografi inilah yang mempengaruhi nama “Kartini” sebagai salah satu pahlawan wanita yang berjuang keras dengan mengandalkan pena, tanpa senjata. Secara eksplisit, Pramoedya menandaskan bahwa perjuangan dengan pena dapat mengangkat derajat manusia dari rawa-rawa kebodohan dan keterbelakangan, seperti yang diilustrasikan oleh pernyataan Kartini yang dikutip dari Alquran: Habis Gelap Terbitlah Terang (minadzulumati ilannur).

Peristiwa di Banten

Ketidakadilan dan kesewenangan yang disaksikannya langsung di daerah Banten Selatan, sangat memancing emosi dan menggelorakan jiwa dalam novel Sekali Peristiwa di BantenSelatan. Dialog-dialog yang banal dalam novel tersebut mencerminkan semangat yang menggebu-gebu untuk melawan segala ketertindasan. Tanpa memerlukan bahasa simbolik yang tersirat dalam alunan estetika puisi, Pram mengguratkannya langsung dalam bentuk dialog-dialog yang lantang. Dan untuk melawan ketidakadilan penguasa, maaf, Pram memang ogah menulis sastra dalam bentuk puisi. Ia dikenal sebagai penulis prosa dalam bentuk novel dan cerpen. Ada alasan penting yang pernah disampaikan Pramoedya, bahwa karya sastra dalam bentuk novel maupun cerpen lebih mengandung pesan yang mengenai sasaran banyak pembaca.

Dialog-dialog dalam novel tersebut, khususnya antara tokoh Rojali dengan kepala desa Ranta, lebih mencerminkan keteguhan sikap Pramoedya Ananta Toer. Dalam orasi-orasinya sering dia nyatakan bahwa kebenaran dan keadilan tidak akan jatuh gratis dari langit. Ia harus diperjuangkan oleh pikiran, perasaan, bahkan tenaga kita. Seperti yang tersirat dalam tokoh Sahrul di atas, bahwa segala kesewenangan yang ia lakukan di Desa Karangasem (Cilegon), hanya akan menjadi bom waktu yang bisa mencelakakan dirinya sendiri.

Tak beda jauh dengan tokoh dalam novel Calon Arang, yang kemudian dapat menaklukkan pengaruh mistik yang dipercayainya. Karena pada akhirnya, setiap ajal menjemput atas kekuasaan dan genggaman Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan ketika Tuhan menghendaki kupu-kupu ajaib itu hilang, atau luput dari ingatannya, maka segala bantuan dari ribuan jin dan para kaki-tangan, akan berbalik menjadi musuh bebuyutannya, sampai kemudian terungkap segala aksi tipu-muslihatnya.

Dalam kacamata Pramoedya, tokoh Sahrul tak ubahnya seorang penderita split personality (kepribadian ganda), yang di satu sisi berbuat zalim tapi di sisi lain dia mengerahkan beberapa ustad untuk mengadakan acara-acara “yasinan” tiap malam Jumat, membagi-bagi amplop sebagai tameng kepalsuan agar orang-orang menganggapnya saleh dan darmawan. Tetapi, masyarakat sudah kadung cerdas, dan menyadari betul bahwa dalam hati manusia tak mungkin bisa dipersatukan antara amal kebaikan dan kejahatan dalam satu rongga dada.

Tak ayal, pada suatu hari Sahrul lupa membawa batu berukiran kupu-kupu dalam kantongnya. Ia pun tewas karena mobil yang dikendarainya tertabrak pohon beringin tua di samping jalan raya Kota Cilegon. ***


Indah Noviariesta, Pegiat Organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa)

Keterangan

[1] "Penyendiri yang Mengubah Peradaban" adalah artikel yang dikliping dari karya
[2] Esai & Opini ini merupakan karya yang tersiar sebagai hasil-kiriman langsung dari Penulis ke Klipingsastra