Menemukan Karya Sastra yang Berpijak di Bumi

Karya . Dikliping tanggal 10 Februari 2020 dalam kategori Esai & Opini

Pertama kali saya perkenalkan novel Pikiran Orang Indonesia (POI) melalui opini saya di harian Kompas, “Membangun Akal Sehat” (24 April 2018). Ketika membaca ulang novel tersebut, terbersit dalam pikiran saya tentang ketekunan dan keuletan penulisnya dalam menghimpun data dan fakta yang akurat di kancah politik Indonesia. Ketekunan yang spontan dan tulus dalam menggeluti suatu bidang, biasanya berseberangan dengan kepamrihan popularitas yang selalu menuruti selera pasar.

Saat ini, mungkin tidak sedikit orang Indonesia yang hidup dalam kecintaan dan kesukaan orang lain, lalu terpaksa ia tenggelam dan mengabdi di dalamnya. Padahal, apa-apa yang disukai oleh bos dan masternya, boleh jadi merupakan sesuatu yang dibencinya. Jadi, terpaksa ia melakukan sesuatu – selama bertahun-tahun – hanya untuk membuat orang lain senang dan bangga dibuatnya.

Dalam soal berpikir pun, tidak sedikit para penulis muda yang terlampau sibuk dengan urusan tren yang sedang hot. Seakan bagus mentereng dan terkesan bagi banyak orang. Belum lagi, soal apa yang sedang ramai-ramainya diperbincangkan di medsos, televisi, majlis taklim, bahkan hingga ke selera membaca dan menonton film. Banyak orang cenderung memilih apa yang sedang disukai orang lain ketimbang apa yang disukai oleh dirinya, dari kedalaman hati nuraninya sendiri.

Berkaca dari pengalaman Hafis Azhari dalam menggarap novel-novelnya, kiranya layak saya mengajukan pertanyaan, sebagaimana pertanyaan yang pernah disampaikan Koordinator KontraS, Malik Feri Kusuma, apakah para penulis Indonesia memiliki software sastra dalam benak mereka (khususnya setelah tahun 1965)? Mengapa banyak karya-karya sastra yang mubazir, mengawang-awang, seakan tak pernah berpijak di atas bumi? Apakah selama ini para penulis kita menyukai sesuatu secara independen dan tidak melulu berpikir In of the box? Sanggupkah mereka menekuni suatu bidang permasalahan yang kelak membawa manfaat bagi banyak orang, meskipun hari ini menjadi bahan lelucon dan guyonan bagi orang lain?

Jika kita mengambil intisari dari novel POI, sudah sanggupkah kalangan seniman, intelektual dan akademisi mendapat banyak tertawaan atas hasil karyanya, meskipun oleh segelintir orang – yang beradab – sebenarnya ia sedang berkarya secara serius bagi kemaslahatan dan perbaikan moral bangsa?

Silakan Anda jawab sendiri berdasarkan hati nurani yang terdalam, siapakah orang-orang Indonesia yang selama ini berbuat dan berkreasi secara serius, ulet dan tekun, tentang apa yang disukai oleh dirinya. Ketimbang mereka yang hanya berkarya demi untuk menyenangkan hasrat dan ambisi orang lain.

Selama ini, banyak orang yang ternyata hanya sibuk berpikir tentang apa yang dipikirkan orang lain. Juga terkesan pada sesuatu yang ternyata hanya pesona bagi orang lain. Terlepas apakah itu akan berdampak baik atau buruk untuk masa yang akan datang.

Suara yang Terbungkam

Dalam opini seorang aktivis HAM dari Koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontas), “Pancasila dan Gebuk” (www.padebooks.com), secara gamlang dijelaskan tentang kekuasaan militerisme Orde Baru yang mengarahkan bangsa ini pada pola berpikir hanya dengan satu dimensi. Mereka menyebutnya dengan istilah “manusia seutuhnya”, yang pada hakikatnya menggiring pemikiran suatu bangsa yang prural dan kompleks kepada keseragaman imajinasi yang bersifat militeristik.

Bangsa yang besar ini akhirnya kehilangan kesenangan dalam banyak hal yang mestinya menjadi pengalaman otentik dirinya sendiri, yakni hasrat dan keinginannya yang paling dalam.

Bangsa yang besar ini telah terjebak ke dalam suatu siklus, serta terkerangkeng oleh kesenangan orang lain, lalu membiarkan diri “membungkam” suara-suara dari perasaan dan pikirannya sendiri, karena merasa harus menyamakan diri dengan suara-suara dari perasaan dan pikiran banyak orang.

Lalu, apakah kita harus menjadi orang yang anti-mainstream dalam segala hal? Tentu saja tidak. Bila memang tak perlu, buat apa kita melawan arus? Jika yang lagi nge-tren adalah perubahan untuk memajukan peradaban Indonesia, untuk apa kita melawannya? Tidak semua yang berbeda itu positif, juga tidak semua yang sama itu negatif. Hal ini paralel dengan prinsip yang dituangkan novel POI, bahwa tidak selamanya konsep konflik itu negatif, juga tidak selamanya konsep harmoni itu positif.

Seorang seniman atau penyair tak perlu merasa hebat hanya karena dia melawan arus, atau berbeda dengan yang umum. Yang menjadi prinsip di sini adalah fokus pada apa yang benar-benar ingin dicapai dan dituju, tetapi juga harus memerhatikan moral massage, bahwa tidak setiap yang benar itu boleh disampaikan kepada publik, selama kebenaran itu tidak memberi kemaslahatan.

Dengan demikian, karya tulis pun akan menyatu dengan alam semesta, ajaran agama hingga rumus-rumus Fisika dari khutbah Albert Einstein: “Tidak semua yang bisa dicapai oleh kekuatan otak manusia, boleh dilakukan sekehendak hatinya.”

Saat ini, banyak generasi muda (tak terkecuali sastrawan) sibuk mengejar kemapanan karier yang memberikan rasa aman, jabatan yang keren, profesi yang mendatangkan popularitas secara instan, serta pekerjaan yang bercitra gengsi tinggi. Kita hidup di suatu era ketika hampir segala hal dengan mudah menjadi jargon. Terkait dengan ini, tentu kita membutuhkan generasi baru yang memiliki sikap dan pemikiran yang revolusioner, ulet, tekun dan pemberani, apapun penilaian orang tentang dirinya (dalam jangka pendek).

Novel POI, sebagaimana penggambaran opini K.H. Eeng Nurhaeni dalam harian Media Indonesia, “Skizofrenia dan Hasrat Berkuasa” (24 April 2019) digagas untuk menciptakan visi pembangunan Indonesia ke depan. Memang tidak membutuhkan popularitas dalam jangka pendek, karena untuk melahirkan ide dan gagasan baru yang brilliant mesti dilakukan atas dorongan perasaan dan pikiran pribadi. Bukan mengandalkan ketertarikan dan kepentingan pasar.

Kisah Chandrashekar

KSI -Esai“Orang bego dan sableng itu namanya Chandrashekar!”

Seperti itulah tuduhan para koleganya dari kalangan akademisi dan intelektual di Universitas Chicago. Nama lengkapnya, Subrahmanyan Chandrasekhar (1910-1995). Ia adalah seorang dosen Astrofisika yang rajin mengajar tentang teori evolusi bintang yang mendasari konsep “lubang hitam”. Teorinya itu kemudian dianggap lelucon, dan para mahasiswa tidak menyukainya sama sekali.

Mereka menolak sesuatu yang tidak nge-tren pada zamannya. Terbukti, di tahun berikutnya, peminat jurusan itu semakin anjlok. Kini, hanya tinggal dua mahasiswa yang mendaftar dan terus mengikuti perkuliahan, yakni Tsung Dao Lee dan Chen Ning Yang, keduanya berasal dari Cina.

Sekitar 160 mil Chandrashekar (sebut saja ‘Pak Chandra’) harus bolak-balik untuk mengajar dua mahasiswa yang tidak kapok-kapok mengikuti matakuliahnya. Mereka dihina dan dilecehkan oleh kawan-kawannya. Mau jadi apa nanti. Hari gini kok memilih jurusan yang gak jelas juntrungannya. Beberapa dosen merasa iba dan kasihan, lalu mengusulkan agar jurusan yang hanya dua peminat itu dihapus saja dari Universitas Chicago. Tetapi, Pak Chandra tetap bergeming dan bersikukuh mempertahankannya.

Berbulan-bulan dan bertahun-tahun kelas Astrofisika hanya diisi oleh tiga orang, satu dosen dan dua mahasiswa. Lee dan Yang terus menekuni matakuliah kesukaan mereka. Bersama Pak Chandra mereka bereksperimen, menganalisis, mengobservasi akurasi data yang dimiliki mereka. Ibarat menaiki sebuah bukit dengan memanggul batu besar di pundak, mereka terpeleset jatuh, dan batu pun menggelinding ke bawah. Tak merasa jera, mereka turun dan mencoba naik lagi, gagal lagi, tersungkur lagi.

“Sudahlah, kawan, melakukan sesuatu yang gak jelas itu hanya buang-buang waktu saja,” seloroh seorang teman mahasiswa.

“Hanya orang-orang gila yang mengharapkan sesuatu yang sia-sia!” seru yang lainnya.

“Dosen kalian itu sableng, jangan sampai kalian ketularan gilanya!” teriak yang lain lagi.

Dalam ruangan yang diikuti oleh dua mahasiswa selama bertahun-tahun itu, akhirnya mereka berhasil mengangkat batu besar itu sampai ketinggian bukit. Ya, mereka berhasil memecahkan teori dan ide-ide cemerlang yang menjadi teka-teki para pakar astrofisika selama ini. Padahal, kelas mereka hanya ruangan kecil yang diikuti oleh tim kecil dalam sejarah pendidikan universitas. Namun, siapa menyangka kalau beberapa tahun berikutnya, kelas kecil itu kelak menjadi kelas universitas yang paling sukses sepanjang masa.

Kedua mahasiswa itu, Tsung Dao Lee dan Chen Ning Yang, akhirnya dinobatkan sebagai peraih nobel termuda di bidang Fisika pada tahun 1957. Beberapa dasawarsa kemudian, sang guru pun menyusul. Subrahmanyan Chandrashekar juga meraih nobel untuk bidang yang sama (Fisika) pada tahun 1983. Mereka menerima sertifikat Nobel, medali emas dan uang senilai Rp 15 milyar atas namanya sendiri. Terimakasih untuk para pembenci dan pendengki! *


Chudori Sukra, Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI) Jakarta

Keterangan

[1] "Menemukan Karya Sastra yang Berpijak di Bumi" adalah artikel yang dikliping dari karya
[2] Esai & Opini ini merupakan karya yang tersiar sebagai hasil-kiriman langsung dari Penulis