Gabut

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2018 dalam kategori Bahasa & Budaya, Pikiran Rakyat
Sila Nilai-Bintang!

KATA “gabut” bukanlah kata dalam referensi Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapisangat sering kita dengar. Kata ini hanya ada pada kamus gaul, yang sangat dominan dipakai oleh masyarakat, ter uta­ ma daerah perkotaan. Dalam pemakaian awal, kata “gabut” adalah singkatan dari “gaji buta”.

Lalu pertanyaannya, apakah kata “gaji buta” ada dalam Kamus Besar Bahasa In­ donesia? “Gaji buta” adalah kata dasar yang tidak bisa dijadikan singkatan dalam susunan kalimat bahasa baku. Kata “gaji buta”, adalah dua suku kata yang diga­ bungkan menjadi satu dan ada dalam li­ teratur kata KBBI.

Di sini, hal menarik dalam penggunaan kata “gabut” karena makna dan arti dalam kamus kata gaul lebih dominan kedudukan­ nya daripada kata “gaji buta” dalam KBBI. Dalam perkembangannya, baik kita dengar, melihat, kenyataannya kita sering menggu­ nakan bahasa gaul. Kata “gabut” j ika digu­ nakan dalam percakapan, tidak hanya se­ bagai kata singkatan, tetapijuga sebuah ungkapan dan istilah. lni karena dengan sudut pandang berbeda, memiliki definisi yang berbeda pula.

Kata “gabut” sendiri mengalami perkembangan sebagaimana kata-kata lainnya, disebabkan tekstur budaya lokal yang banyak mengadopsi literasi kata unik dantujuannya untuk lebih memodernisasi gaya hidup. Kata ini, awalnya mulai berkembang pada tahun 2011, dan se­ cara kontekstual lebih banyak dikaitkan dengan kondisi seseorang dalam peker­ jaan, sehingga dikategorikan sebagai kata sifat dalam penggolongan kata rumusan tata bahasa (secara gramatikal).

Dari beberapa sumber, ada beberapa contoh dari kata “gabut” yang memiliki arti dan fungsi yang berbeda pula. Akan tetapi inihanya dipakai secara nonformal, dalam lingkup masyarakat yang tidak bergantung pada kaidah bahasa. Coba =kita simak kalimat di bawah ini: ” Kamu sombong, aku lewat, kamu gabut banget.”

Kata “gabut” di sini adalah singkatan “belaga buta”. Artinya, gabut dalam kali­ mat itu tidak kenal atau tidak melihat.

Atau dengan kalimat lain,dengan pengucapan sama tetapi berbeda makna, seperti: “Kamu mau ditolongin,tapi kamu gabut deh”

Di sini arti atau makna menj adi beda, kata “gabut” berarti “ga butuh”. Jadi jangan cepat-cepat mengartikan gabut, tapi lihat dulu konteks kalimatnya. Peng­ guna kata gabut ini, biasanya anak-anak muda dalam percakapan sehari-hari. Sesama mereka akan cepat paham apa yang diucapkan.

Dan masih banyak lagi contoh penggu­ naan kata ini dalam komunikasi sehari­ hari, yang dapat merusak tekstur tata ba­ hasa baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Tentu kita berharap, perkembangan bu­ daya lokal melalui komunikasisehari-hari, tidak mengurangi peran dan fungsi keber­ adaan bahasa Indonesia sebagaibahasa pemersatu bangsa. Jangan sampai karena penggunaan kata baru, mengundang salah paham.***


[1]Disalin dari karya Vito Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 21 Oktober 2018