Hari Santri dan Djamil Suherman

Karya . Dikliping tanggal 16 Oktober 2018 dalam kategori Esai & Opini, Suara Merdeka

Peringatan Hari Santri, 22 Oktober, segera menjelang. Keberadaan santri beroleh penghormatan dengan pelbagai acara dan perayaan, dari grebeg, konser musik, hingga kompetisi menulis.

Momentum itu hendak dimanfaatkan untuk mengukuhkan identitas dan peran santri berkonteks sejarah dan nasionalisme. Pembaca buku sastra boleh punya cara lain memaknai Hari Santri. Khalayak mesti ingat sastra juga mengurusi santri. Kita mesti membongkar tumpukan buku di rak berdebu dan memperhatikan nama Djamil Suherman.

Dialah santri dan penulis prosa bertema pesantren. Seorang santri yang menulis santri. Djamil lahir di Surabaya, 24 April 1924. Ia tumbuh besar di lingkungan pesantren dan menerima pendidikan agama langsung dari sang ayah. Pada masa lalu, tak terlalu banyak pengarang yang mencurahkan sepenuh perhatian terhadap tema santri.

Djamil termasuk salah satu dari sedikit pengarang itu. Pada 1961, Djamil menyita perhatian dari mata telisik HB Jassin. Perhatian itu dibuktikan dengan pemuatan cerpen “Djadi Santri” karangan Djamil di buku Analisa: Sorotan Atas Tjerita Pendek (1961) garapan Jassin.

Buku itu memuat cerpen dan ulasan dalam satu paket. Di antara 14 cerpen dalam buku itu, bisa dibilang hanya Djamil satusatunya yang memberi perhatian terhadap persoalan kehidupan pesantren. Pesantren bagi Djamil bukan semata “tempat”, melainkan suatu masyarakat dengan tradisi dan budaya yang mengelilingi.

Penilaian Jassin itu beroleh pembuktian saat dalam perkembangan Djamil benar-benar memberi banyak perhatian terhadap sastra bertema kehidupan santri. Santri nyaris tokoh dan pokok dalam kepengarangan Djamil. Kehidupan santri beroleh perhatian dalam kerangka sejarah dan realita.

Djamil mengisahkan sosok santri sebagai bagian dari penaja kelahiran negara-bangsa Indonesia. Di sisi lain, Djamil tak lupa menghadirkan kisah kelam yang pernah dihadapi tokoh santri dalam cerita. Simak roman karya Djamil, Pejuang-Pejuang Kali Pepe (1984). Roman itu membentangkan kehidupan santri dalam konteks sosial yang romantik sekaligus heroik.

Para santri berbaur dengan masyarakat kampung tanpa sekat sosial. Jalaludin Rakhmat menyebut roman itu tak sekadar “roman perjuangan, tetapi juga sebuah catatan antropolog sosial yang manis. Polapola tingkahlaku santri, nilai-nilai, norma, dan kepercayaan di dunia pesantren, serta hubungan santri dengan kiyahi dan keluarganya dilukiskan seperti sebuah catatan sejarah”.

Roman itu menjanjikan nadanada polifonik. Dari alunan lantang kumandang azan, susul-bersusulan suara santri mendaras Alquran, selawat yang nyaring terdengar dari pengeras suara, dentuman pukulan beduk, serta suara kiai yang berat dan perbawa.

Dan, ketika kehadiran para santri diperlukan untuk melawan kolonialisme Belanda, mereka pun siap sedia berperang mempertaruhkan nyawa demi negara. Sisi heroik itu kentara membersamai para tokoh-tokoh santri dalam roman itu.

Bukan Tanpa Cacat

Yang juga perlu kita ingat, Djamil tak ingin menempatkan santri dalam persona tanpa cacat. Santri bukan tak bisa khilaf dan “salah jalan”. Lewat novel Sakerah (1985), Djamil menarasikan kisah mantan santri yang jadi pendekar pada era kolonial.

Dari ketekunan dan kepatuhan pada kiai, Sakerah “menguasai ilmu agama dan ilmu kesaktian, ilmu kebal, dan ajiaji — yang tidak setiap orang mendapatkannya.” Namun nasib baik seperti tak berpihak padanya.

Sakerah yang semula mempunyai nyaris semua sifat baik manusia, perlahan berubah menjadi sosok buas yang rela melakukan apa saja demi menuntaskan dendam. Pengkhianatan, ketidakadilan kolonial, hingga persaingan antarpendekar telah membangunkan “harimau” yang selama ini tidur dalam jiwanya.

Dendam mengantarkan dia jadi pembunuh. Namun di sudut batin yang terdalam dia masih merasa diri santri. Sakerah merasa sangat malu pada kiainya dan menyesali segala perilaku bodoh yang berlebihan. Cerita berakhir dengan pengakuan dosa Sakerah, meski nasib sudah tak berpihak padanya. Sakerah mati oleh peluru Belanda yang menganggap dia sebagai pembikin onar.

Selain dua roman itu, Djamil Suherman menulis kumpulan cerpen tentang pesantren yang termasyhur, Umi Kalsum (1984). “Salah satu vak Djamil: bikin cerpen romantik kehidupan di pesantren.

Begitu bagusnya sampai-sampai ingin rasanya saya mesantren, selain ngaji — kepingin terlibat roman seperti dilukiskan oleh Djamil Suherman,” ujar Mahbub Djunaidi (1983). Menjelang Hari Santri, kita pantas membaca kembali karya-karya Djamil Suherman. Itu tak lain upaya penghormatan dan pengakuan atas ketekunan dia menjadikan dunia santri sumur ide yang tak pernah kering.

Kita berhak mengingat dan menengok kehidupan kaum santri berkonteks sastra, tak mesti bereferensi teks sejarah. Kita membacanya lagi agar tak sembrono dalam mendefinisikan kembali santri yang makin hari kian sering dicomot dan dikutip berdalih kepentingan sesaat. (28)

– Widyanuari Eko Putra, pegiat Kelab Buku Semarang.


[1] Disalin dari karya Widyanuari Eko Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 14 Oktober 2018