Novel, Kuliner, dan Identitas Bangsa

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2018 dalam kategori Esai & Opini, Suara Merdeka

MAKANAN begitu dekat dengan laku sehari-hari manusia. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, kita selalu mengingat makanan. Makanan hal pokok yang tak bisa terlewatkan ketika memulai aktivitas pada pagi hari. Keberadaan makanan sakral bagi sebagian orang. Sebagian beranggapan tak sah memulai hari tanpa makanan mengisi perut.

Kuliner merupakan produk kebudayaan. Bahkan menjelma jadi identitas bangsa. Sepiring makanan mengusung nilai sejarah dan filosofi. Di dalamnya terhidang berbagai macam olah kreativitas manusia.

Sering makanan digunakan sebagai penciri suatu tempat atau daerah. Ketika mendengar suatu nama makanan, ingatan pasti mengelana ke tempat muasal makanan itu. Misalnya, ketika kita mendengar kata “gudeg”, ingatan pasti meluncur ke Jogja.

Indonesia adalah negara bineka. Itu dapat diraba dari betapa banyak suku, ras, dan agama yang mendiami Indonesia. Namun tak cukup dengan merujuk faktor itu saja. Kuliner juga bisa menjadi salah satu ciri yang menunjukkan kebinekaan kita. Setiap daerah pasti memiliki cita rasa dan kekhasan kuliner. Contohnya perbedaan antara orang Padang yang menyukai pedas dan orang Jawa yang cenderung menyukai rasa manis.

Keragaman kuliner antara lain disebabkan oleh khazanah kekayaan alam dan sosial masyarakat yang berbeda. Perbedaan kondisi alam berimplikasi terhadap budaya masyarakat. Misalnya, orang di Indonesia bagian timur begitu akrab dengan olahan sagu sebagai bahan konsumsi. Itu lumrah, sebab sagu salah satu tanaman yang jamak di sana. Lain dari masyarakat di Jawa yang menjadikan nasi sebagai konsumsi sehari-hari.

Novel dan Kuliner

Novel dan kuliner memiliki pertalian cukup erat. Dalam sebuah novel, kuliner bersifat sosiokultural. Ia bisa menjadi fondasi identitas budaya dan prinsip hidup tokoh. Khazanah kuliner dalam sebuah novel dapat membangun citra tokoh dan lanskap kultural.

Karakterisasi tokoh salah satunya dapat dibangun melalui medium kuliner. Misalnya, dengan narasi bagaimana si tokoh memperlakukan makanan, dari mengolah, menghidangkan, hingga menikmati. Tokoh yang memiliki rasa bangga terhadap kearifan lokal daerah atau bangsanya, akan memperlakukan kuliner khas daerahnya dengan agung. Lain dari tokoh yang memiliki sifat urban dan kosmopolitan. Tokoh itu akan lebih dekat dengan makanan cepat saji yang bersifat metropolitan.

Dalam novel Pulang Leila S Chudori, dunia kuliner memiliki kedudukan cukup strategis. Novel itu bercerita tentang eksil politik Indonesia di Paris. Meski jauh dari Tanah Air, mereka merasa memiliki ikatan kuat terhadap negerinya. Kuliner menjadi monumen yang mengingatkan tokoh-tokoh itu terhadap tanah air mereka.

Kerinduan para eksil politik itu terhadap negerinya tak lekang oleh jarak dan waktu. Meski sebagai warga negara yang teralienasi, mereka tetap memendam cinta yang dalam terhadap tanah kelahiran. Itu dapat kita lihat dalam kutipan berikut.

Ia memiliki keahlian memasak seperti Dimas. Berbeda dengan Dimas yang menyembah ritual memasak, ia lebih mementingkan rasa puas sehingga ia dapat menggantikan bumbu sate atau gado-gado dengan selai kacang (2012: 92).

Kecintaan Dimas Suryo terhadap Tanah Air tergambar lewat cara dia mengolah masakan. Ia menjadikan memasak sebagai ritual agung. Selain memasak, kecintaan Dimas terhadap Indonesia juga tergambar melalui kebiasaan menyimpan serta mencium aroma cengkih dan bubuk kunyit. Kedua benda itu Dimas gunakan sebagai pengobat rindu pada negerinya. Simak kutipan berikut.

Dia meletakkan sekilo cengkih ke dalam stoples besar pertama dan beberapa genggam bubuk kunit di stoples kedua di ruang tamu hanya untuk merasakan aroma Indonesia (2012: 198-199).

Di tengah kehidupan metropolitan di Paris, para eksil politik itu berupaya mempertahankan selera dan identitas kuliner. Mereka mendirikan restoran Tanah Air. Restoran itu menyajikan makanan-makanan khas Indonesia. Kendala dalam mendirikan restoran cukup beragam. Apalagi di tengah dominasi makanan Eropa dan kehidupan yang cenderung menggemari makanan cepat saji. Namun mereka tak patah arang. Mereka menunjukkan militansi dengan mengeluarkan biaya lebih untuk membeli bumbu semacam cabai merah, bawang merah, kunyit, dan jahe. Semua itu untuk menjaga cita rasa khas makanan Indonesia.

Perjuangan mereka mendapatkan bumbu memberikan kesan: mereka bertekad kuat mempertahankan identitas Indonesia. Totalitas Dimas dan kawankawan merupakan salah satu upaya menguatkan identitas keindonesiaan di negeri orang.

Restoran Tanah Air adalah duta kebudayaan di Paris yang sesungguhnya (2012: 122). (28)

Muharsyam Dwi Anantama lahir di Banyumas, 12 Juni 1995. Tulisan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini dipublikasikan beberapa media massa. Dia juga bergiat di Komunitas Penyair Institute Purwokerto.


[1]Disalin dari karya Muharsyam Dwi Anantama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 21 Oktober 2018