Pesimistis

Karya . Dikliping tanggal 26 November 2018 dalam kategori Bahasa & Budaya, Pikiran Rakyat

PERTEMUAN tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, menuai pro dan kontra. Polemik tersebut merupakan buntut pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang mencapai angka Rp15.200 pada awal Oktober. Selain itu, sebagian kalangan mempermasalahkan pertemuan tersebut karena diadakan saat Indonesia sedang berduka.

Pihak kontra menganggap bahwa pertemuan tersebut menelan biaya yang sangat besar. Padahal, Indonesia sedang dilanda bencana di beberapa wilayah seperti Palu dan Donggala. Dengan begitu, pertemuan tersebut justru akan menghambur-hamburkan uang negara. Kubu kontra juga merasa pesimistis acara tersebut akan menaikkan roda ekonomi negeri ini.

Sementara itu, pihak pro berpandangan bahwa pertemuan tersebut justru akan mendongkrak pariwisata Indonesia, termasuk memberikan potensi penerimaan devisa. Ajang tersebut juga merupakan bukti bahwa Indonesia diakui dunia internasional dalam menjaga kestabilan ekonomi. Kepercayaan itu akan membuat banyak pihak berinvestasi di Indonesia sehingga nilai rupiah akan menguat.

Pihak pro optimistis Indonesia tidak berada dalam krisis luar biasa. Selain itu, acara tersebut diklaim pemerintah tidak menghabiskan dana yang lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Dari dua pandangan tersebut, kita bisa melihat si pesimis dan optimis mengenai perekonomian Indonesia. Sejalan dengan itu, dari segi bahasa, bersikap tidak punya harapan bisa disebut pesimis atau pesimistis? Sebab, sebagian pemberitaan di media tidak membedakan arti pesimis dengan pesimistis. Padahal, dua diksi tersebut, nyatanya, memiliki pengertian yang berbeda.

Menurut Kamus Besar Bahasa indonesia dalam jaringan edisi kelima, pesimistis (a): bersikap atau berpandangan tidak punya harapan baik atau mudah putus harapan; bersikap tidak mengandung harapan baik; (sikap) ragu akan kemampuan atau keberhasilan suatu usaha. Sementara itu, pesimis (n): orang yang bersikap atau berpandangan tidak punya harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dan sebagainya); orang yang mudah putus (tipis) harapan.

Melihat arti di atas, pesimistis dan pesimis memiliki kelas kata yang berbeda. Pesimistis memiliki kelas kata adjektiva atau kata sifat yang menggambarkan suatu makna dalam kata benda. Sementara itu, pesimis memiliki kelas kata nomina atau kata benda untuk menyatakan suatu nama atau orang yang memiliki sikap mudah putus asa.

Oleh karena itu, penggunaan lema tersebut dalam sebuah kalimat harus dibedakan pula. Misalnya, perbedaan tersebut akan terlihat dalam kalimat: (1) Sebagian politikus pesimistis perekonomian Indonesia membaik setelah pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia. (2) Seorang pesimis tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kekalahan. Melihat contoh kalimat yang dipaparkan bisa ditarik kesimpulan bahwa pesimis dan pesimistis harus digunakan dalam konteks yang berbeda.’■


[1] Disalin dari karya Julia Hartini
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 25 November 2018