Sontoloyo

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2018 dalam kategori Bahasa & Budaya, Pikiran Rakyat

BAKANGAN ini, diksi sontoloyo dan genderuwo ramai diperbincangkan dan diperdebatkan di pelbagai media, terutama di media elektronik (televisi) dan media sosial. Dua diksi tersebut bagai selebritas yang tengah naik daun atau mungkin tengah berada di puncak popularitas, terutama di kalangan para politikus maupun para pengamat politik. Mengapa bisa demikian? Faktor utamanya mungkin karena dua diksi tersebut digunakan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk merespons keadaan sosial-politik saat ini di negeri ini.

Karena ini adalah momen politik, tentu diksi-diksi yang dilontarkan Joko Widodo ini menuai pro dan kontra, serta dimanfaatkan sebagai bahan untuk memengaruhi pandangan masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa lndonesia (KBB1), diksi sontoloyo (partikel, cakapan) memiliki makna konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian).

Dalam masyarakat Jawa, sontoloyo biasa digunaan untuk memaki. Masih ada kata lain yang semacam, misalnya jiancuk, mbelgedhes, bajiret, semprul, kampret, dan lain-lain. Meski kata-kata tersebut insinuatif dan banyak dimensinya, semuanya bermakna asor (tidak baik).

Artinya, mereka yang menjadi objek makian itu tidak bermutu atau berderajat rendah. Dalam hal ini, karena kultur Jawa itu sangat kental unggah-ungguh (tata krama), mereka itu ialah yang sepak terjang atau perilakunya mengabaikan norma dan etika. Dengan kata lain, sak enake udele dhewe (suka-suka), yang penting keinginannya tercapai (Ono Sarwono dalam tulisan Sang Sontoloyo, kolom Pigura, Media Indonesia, Minggu, 11 November 2018, halaman 10).

Sementara itu, masih menurut KBBI, diksi genderuwo (nomina) memiliki makna hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat Makhluk halus yang satu ini merupakan salah satu rnakhluk halus yang pal-ing ditakuti di masyarakat.

Menurut pandangan saya yang masih awam ini, Joko Widodo tidak serta-merta menggunakan diksi sontoloyo dan genderuwo itu, pasti ada maksudnya, mengingat suhu politik akhir-akhir ini terus memanas dan semakin bikin gerah.

Sepertinya Joko Widodo melihat para politikus dan tim sukses dari kubu lawan mengabaikan norma dan etika, berkata dan bertindak seenaknya agar tujuan politiknya tercapai dengan menggunakan manuver-manuver yang kotor, seperti melemparkan isu-isu komunis, penghancuran kehidupan beragama dan bernegara, serta isu-isu identitas primordial lainnya yang sering dialamatkan kepada dirinya. Cara itu digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat, seperti genderuwo.

Maka tak heran jika Joko Widodo menggunakan diksi sontoloyo dan genderuwo. Hal itu bukan karena ia adalah orang yang tak tahu etika dalam berbicara, melainkan karena memang keadaannya sudah parah seperti itu. Maka diksi-diksi yang dipilih adalah diksi sontoloyo dan genderuwo tersebut.***


[1] Disalin dari karya Ardian JE
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 2 Desember 2018