Tauhid

Karya . Dikliping tanggal 17 Desember 2018 dalam kategori Bahasa & Budaya, Pikiran Rakyat

BAGI kaum Muslim, tauhid merupakan suatu doktrin yang suci, bahkan menjadi prasyarat nomor satu atas peresmian keimanan keislaman mereka, yang berarti pengakuan dengan penuh kesadaran bahwa Tuhan itu tunggal. Terambil dari bahasa Arab, kata ini berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan, yang kesemuanya dapat terangkum dengan kata “satu”.

Di Indonesia, lebih populer menggunakan istilah esa daripada tunggal untuk menyepadankan kata tauhid, sesuatu yang identik tetapi sebenarnya memiliki perbedaan dalam perinciannya. Jika yang pertama masih merangkul keberagaman dalam simpul kesatu-an, sebaliknya istilah yang kedua telah menu-tup rapat penggabungan unsur-unsur, dan de-ngan demikian hanya ada Dia satu-satunya.

Sebenarnya ekspresi kebahasaan ini pun memiliki kemiripannya dengan bahasa yang di-gunakan oleh Alquran, yakni ahad dan wandah. Dengan menggunakan penafsiran tematik, Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Wawasan Alquran mengungkapkan bahwa kata ahad hanya digunakan untuk sesuatu yang tidak dapat menerima penambahan, baik dalam benak maupun kenyataan. Oleh karena itu kata ini, ketika berfungsi sebagai sifat, bukan bermaksud pada rangkaian rentetan bilangan, sebagaimana terangkum dalam surat Al-lkhlas. Biasanya ayat-ayat yang menggunakan kata ahad sedang menekankan aspek zat Tuhan yang tiada duanya.

Berbeda dengan ahad, definisi wandah lebih menekankan aspek keragaman dalam kesatu-an, yang dengan demikian masih menerima jumlah atau bilangan-bilangan.

Penggunaan kata ini lebih cocok untuk menggambarkan keberagaman sifat-sifat Tuhan, sebagaimana tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 163. Maka wajar jika bilangan satu di dalam bahasa Arab menggunakan kata wahidun bukan ahadun karena setelah angka satu akan ada angka-angka selanjutnya.

Jika kita beralih melirik pancasila, maka terli-hat bahwa para founding fathers lebih memilih untuk menggunakan kata esa daripada tunggal karena memang cocok dengan kultur ke-agamaan masyarakat Indonesia yang beragam.

Masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai suku, adat istiadat, dan tentunya agama. Mere-ka tidak bisa ditunggalkan kecuali disatukan dengan kata esa. Dengan demikian, keberagaman masih terpelihara.

Pemakaian kata ini pun sudah selaras ketika disandingkan dengan kata sebelumnya (ketuhanan) yang cenderung merujuk pada aspek sifat Tuhan, bukan zat-Nya. Terlebih harus diakui bahwa terdapat beragam pema-haman mengenai konsep ketuhanan dalam agama-agama di Indonesia. Dengan demikian, tepatlah jika Indonesia memiliki slogan Bhin-neka Tunggal Ika (Unity in Diversity).

Berbeda dengan kata tauhid yang kental dengan kesakralan. Ketika kalimat sakral ini diperlakukan secara tidak wajar, bahkan terke-san ternodai, wajar jika muncul kecaman dari berbagai pihak.***


[1] Disalin dari karya M Jiva Agung W
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 16 Desember 2018