Toleran, Tolerir, dan Toleran(isa)si

Karya . Dikliping tanggal 15 Januari 2019 dalam kategori Bahasa & Budaya, Pikiran Rakyat

APA yang menyebabkan negeri ini bersatu? Jawaban dari pertanyaan terse-but tentulah karena adanya kesamaan nasib. Soe Hoek Gie pernah berkata dalam bukunya Catatan Seorang Dernonstran (2015), “Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’.”

Cinta, iba, dan duka adalah tiga hal yang saya pikir adalah bagian dari nasib yang sama itu. Merasa mencintai negeri ini, iba hati melihat ke-merdekaan bangsa lain, juga duka sebab keterja-jahan yang dirasakan selama berabad lamanya. Menghancurkan memang bisa dalam waktu yang sekejap. Namun, menyusun sebuah puzzle keberagaman hingga menjadi sebuah lukisan yang indah tentu butuh waktu yang tak sebentar.

Toleransi, akhir-akhir ini menjadi isu besar yang digoreng terus-menerus, terlebih di tahun 2019 yang syarat akan kepentingan politik. Menyedihkan memang, sebab puzzle yang telah lama disusun itu lambat laun mulai ambrul dengan adanya isu tersebut. Padahal toleransi adalah modal bangsa ini dalam perjuangan ke-merdekaan silam.

Lalu, dari sudut pandang kebahasaan, apakah pemakaian kata toleransi sudah tepat digunakan? Ada toleran, tolerir, dan toleransi. Ketiga kata tersebut sangat berkaitan satu sama lain. Menu-rut KBB1 (2008) toleran/to•le•ran/ a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, mem-biarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Tolerir/to•le•rir/? toleransi yang berarti lihat kata atau merujuk pada toleransi. Sementara itu, toleransi/to•le•ran•si/ n sifat atau sikap toleran.

Apakah penggunaan kata toleransi yang beru-pa kata benda sudah tepat digunakan dalam konteks perbedaan pendapat, pandangan, kepercayaan, dan sebagainya itu? Jika merujuk pada pengertian secara kebahasaan tersebut, toleransi itu adalah sebuah bentuk dari sifat yang dibentuk oleh kata toleran. Jadi, manusia harus bersikap toleran dan membentuk toleransi satu sama lain.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai pembentukan kata toleransi, yang tentu saja berasal dari bahasa latin tolere, atau bahasa Inggris tolerance. Sufiks asing dalam bahasa In-donesia untuk penurunan nomina toleran men-jadi toleransi adalah dengan adanya penam-bahan (is}asi seperti organisasi, elektrifikasi.

Ada pelesapan yang tidak biasa dalam kata toleransi, yaitu penghilangan tiga huruf isa, dan hanya menyisakan akhiran -si sebagai penam-bah kata toleran. Ini pengecualian yang sebetul-nya tidak lazim dalam bahasa Indonesia, karena pada umumnya tidak banyak pengecualian-pengecualian seperti ini.***


[1] Disalin dari karya M Romyan Fauzan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 13 Januari 2019