100 Kepala di Bawah Rembulan

Karya . Dikliping tanggal 22 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
GERIMIS menyudahi dirinya. Desa Manisrenggo hanyut dalam suasana mencekam. Seluruh daun pintu dan jendela memejam, begitu erat; enggan terbuka seakan menampik malapetaka yang bisa kapan saja datang. Doa-doa gelisah tak putus mendengung; mengawang, seperti mengusir kedatangan para hantu dan iblis. Perkampungan benar-benar menjelma menjadi tempat angker yang mengerikan.
Banyak pemuda desa yang mendadak menghilang beberapa hari terakhir. Tidak tahu ke mana rimba para pemuda tersebut. Beberapa minggu lalu pun, dua orang pemuda dan seorang pria paruh baya diangkut oleh kendaraan hijau milik aparat di tengah malam. Wajah mereka rusak; bopeng, karena popor dan tendangan. Darah tak luput meleleh melumuri tubuh.
Nasib malang memang sedang menghantui warga desa. Kericuhan politik di kota ikut terseret hingga ke daerah-daerah. Sebuah kutukan yang mengerikan. Kerisuhan yang dapat membuat tubuh bergetar bila membayangkannya. Tarno pun demikian. Sebenarnya, ia ingin meninggalkan rumah: menyalamatkan diri. Tetapi melihat ibunya yang tak berdaya di atas rancang karena sakit, membuatnya tak sanggup untuk meninggalkan. Pria itu hanya berharap supaya nasib baik menyertainya malam ini.
***
Semua kekacauan dimulai dari tuntutan warga desa yang meminta hak atas hasil tanah yang mereka gadai kepada para saudagar kaya di kampung. Gerakan protes petani miskin ini dinggap langkah paling tepat setelah janji yang dicita-citakan oleh pemerintah melalui Undang Undang No 2 Tahun 1960, tentang perjanjian bagi hasil, atau yang lebih dikenal Undang Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH); yang diselewengkan dari mandat awal.
Para tuan tanah seakan membutakan mata dan kuping. Mereka bertindak tak sesuai dengan kesepakatan awal; mengenai tanah-tanah yang mereka modali agar digarap oleh para petani miskin desa. Hasil penen yang melimpah, dan kemakmuran yang terlihat di depan mata, tidak dapat dirasakan oleh para petani. Kelaparan masih saja menghuni perut. Hidup penuh kekurangan.
Karena merasa ditipu, Tarno, bersama para pemuda, serta petani miskin gencar melacarkan tuntutan. Mereka meminta hak atas hasil yang seharusnya diberikan. Bersama sebuah organisasi yang bergerak membela hak-hak petani miskin, Tarno dan seluruh warga secara pelan mulai mendapatkan hasil dari tuntutan.
Namun seiring waktu, gerak sosial itu malah menjadi sebuah pertikaian politik yang melibatkan partai-partai besar. Cukup pelik. Para tuan tanah yang merasa dirugikan karena banyak lahannya dirampas dari aksi-aksi sepihak petani; menggambungkan diri dalam PNI. Begitu juga para petani miskin, bersama: BTI/PKI. Saling culik dan bunuh terjadi setiap hari. Karto misalnya, petani miskin itu ditemukan mati dengan leher digorok di tepi rel kereta minggu lalu.
Bahkan, kekacauan itu semakin meruncing ketika pusat kota mengabarkan tentang: para jenderal yang diculik dan dibunuh. Sebuah tragedi politik yang pada akhirnya menyeret Tarno dan warga desa ke dalam penistaan.
***
Tujuh kali kentong gebyok bertalu. Remang tubuh Tarno mendengarkan. Ia tahu suara itu adalah pertanda: baru saja ada seorang yang ditangkap oleh para aparat. Sudah tujuh kali pula ia mendengar derak truk yang melintas di depan rumahnya. Di dalam rumah, Tarno pun hanya dapat merapal doa; pasrah menyerahkan dirinya pada nasib yang tak tentu.
Ia memandang ibunya. Sangat tenang wanita itu tertidur. Keringat dingin sudah tidak membasuhnya.
”Apakah kita memang ditakdirkan untuk terus hidup dalam penderitaan seperti ini ibu?” Ibunya tidak menjawab. Semakin lelap wanita itu tidur.
”Ayah mati menahan lapar. Ia rela tidak makan berhari-hari demi menyisihkan ubi untuk kita,” lanjut
Tarno.
Ia raih tangan ibunya. Dingin menyergap. Begitu beku. ”Kau pun demikian ibu. Habis tenagamu menjadi babu pada tanahmu sendiri; yang kau gadai kepada seorang tuan tanah. Hidup ini sudah begitu malang bagi kita.”
Tarno menggenggam erat tangan ibunya. Dan ia menemukan tak ada detak nadi yang berdenyut di ta
ngan ibunya. Sebuah nyawa kembali hilang. Pecah tangis Tarno. Ia tiada rela kehilangan kembali.
Begitulah. Di tengah kesedihan yang belum mereda, mendadak terdengar derak pintu yang terbanting. Kencang. Sekelompok militer menyeretnya keluar; menghajarnya.
”Dasar bandit!”
”Pengkhianat negara!”
Lemas tubuh Tarno dirajah tendangan dan pukulan. Bahkan, setelah itu ia diangkut sebuah truk ke suatu tempat yang entah…
***
Kini Tarno tahu ke mana para pemuda menghilang. Mereka semua berada dalam satu kamp konsentrasi militer. Setiap malam mereka disiksa dan dipaksa mengakui kesalahan yang tak pernah dilakukan. Banyak wanita yang diperkosa; dianggap sebagai pelacur oleh para introgator. Wajah-wajah terpampang pucat dan putus asa. Seperti tiada gairah untuk hidup.
Pun, memasuki malam ke-70, sekitar seratus orang digiring; dibariskan di tepi Kretek Kebo Mati. Deras arus kali Pandansimping mengalir merah. Tarno mendengar, satu persatu tembakan melejit; memecah kepala. Satu persatu, kepala menggelinding dipenggal di tepi sungai. Seratus kepala itu pun
mengenang dengan tenang di bawah cahaya rembulan. Tarno termenung, menggigil menunggu giliran. θ – g
Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayambera menulis sastra mahasiswa se-Indonesia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo Uhamka (2013). Buku Kumpulan Cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di berbagai media. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 20 September 2015