#2

Karya . Dikliping tanggal 8 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
“KAKEK itu datang lagi hari ini.”
“Tuan Hojo?” tanya Izumi
“Tuan Hojo,” kata Nozomi.
“Ia menyukai roti lapis kita,” kata Izumi seraya meluruskan letak hiasan rambutnya.
“Ia menyukai kopi kita,” kata Nozomi seraya merapikan celemeknya.
“Tidakkah kau memperhatikan gadis itu?”
“Ya, kelihatan sudah tua.”
Izumi meraih lap bersih di atas rak dan mulai mengeringkan piring-piring kecil dengan sistematis. Di luar sana langit berwarna hitam seperti hendak mendatangkan badai. Nozomi menata kue-kue tiramisu ukuran mini di etalase, yang sebetulnya tidak perlu ditata karena sudah rapi. Kue-kue tiramisu berjajar di sebelah kiri kue pavlova, gumamnya kepada diri sendiri seperti menghafal teks. Tiramisu berasal dari Italia, pavlova dari Selandia Baru. Pretzel diletakkan di atas baki. Pretzel berasal dari Jerman. Biji kopi digiling mulai pukul enam pagi. Dan sebagainya. Tokyo Shimbun diletakkan di rak paling atas. Dan sebagainya. Izumi membersihkan segala macam. Kafe itu beraroma vanilla, dan kopi yang baru digiling, dan kue yang baru dipanggang, lengkap dngan cahaya yang bersih kekuningan dari lampu-lampu berbentuk bunga di dinding, serta bunga-bunga segar di atas meja (bunga-bunga itu langsung dipetik dari laboratorium rekayasa genetika dan diantarkan oleh penjual bunga, aromanya tahan sepanjang hari). Setiap pagi, Izumi dan Nozomi berkeliaran mengenakan seragam berwarna merah muda, tetapi di sore hari mereka akan bersalin dengan seragam berwarna ungu lembayung yang lembut seperti awan. Begitulah permintaan dari Tuan Pemilik.
Pagi itu kafe itu terang-benderang meskipun di luar gelap gulita. Tidak ada tamu lain kecuali kakek bernama Hojo itu dan teman perempuannya. Seperti biasa, mereka duduk di dekat jendela yang menghadap Shibuya, supaya Tuan Hojo bisa memandangi jalanan dan supaya ia juga bisa berada dekat dengan stop kontak. Izumi mencuri dengar Tuan Hojo berkata, “Hari ini di berita, mereka berkata bahwa akan ada taifun.”  Nozomi mengkalkulasi bahwa usia kakek itu 77 tahun. Teman perempuannya berkata, “Kopi hitam akan membuat gelisah dan sulit tidur.”
“Aku akan mencemaskan sulit tidur nanti malam ketika malam sudah benar-benar datang. Kita baru saja melalui malam tadi malam.”
“Roti gandum lebih baik untuk kesehatan.”
“Baiklah, baiklah. Tapi hari ini ada perayaan. Kau tahu perayaan apa? Hari ini ulang tahunmu.”  Tuan Hojo mengangkat tangannya memanggil Nozomi.  “Kau punya kue ulang tahun?” tanyanya.
“Kami punya kue dan lilin ulang tahun” jawab Nozomi.
“Tolong pesan satu.” Tuan Hojo mengedikkan kepala ke arah teman perempuannya. “Kami ada perayaan. Hari ini hari ulang tahun istriku.”
“Selamat ulang tahun,” kata Nozomi. “Kami memiliki berbagai jenis kue. Tiramisu dari Italia. Pavlova dari Selandia Baru.”
“Kami mau yang dari Selandia Baru. Bisakah kau siapkan lilinnya juga?”
“Segera datang.”
“Taifun akan datang,” kata gadis itu.
“Kau tidak bertambah tua sedikitpun,” kata Tuan Hojo kepada gadis itu seraya tersenyum. Tetapi Nozomi menghitung bahwa meskipun penampilannya seperti 23 tahun, usia gadis itu tepat 40 tahun, sudah sangat tua, jadi Nozomi pun pergi ke dapur untuk menyiapkan kue pavlova dengan lilin ulang tahun berbentuk angka 4 dan 0 yang kemudian ia nyalakan dengan pemantik. Lilin itu memancarkan cahaya yang bersih kekuningan, seperti lampu, sementara di luar tak terlihat adanya cahaya alami apapun melainkan hanya dari lampu.
Ilustrasi oleh Munzir Fadly
GADIS itu sudah tua sekali,” kata Nozomi memberi  tahu Izumi. “Hari ini hari ulang tahunnya yang ke-40.”
“Bohong.”
“Benar, aku tidak pernah salah.”
“Oh kasihan,” kata Izumi.
“Berarti ia sudah ada sejak tahun 2024.”
Izumi meraih lap bersih di atas rak dan mulai mengeringkan piring-piring kecil dengan sistematis. Nozomi menata kue-kue tiramisu ukuran mini di etalase, yang sebetulnya tidak perlu lagi ditata karena sudah rapi.
“Karena itu ia hanya bisa tersenyum.” Nozomi menunjuk wajah gadis itu yang membeku dalam senyum manis abadi. “Rupanya ia istri Tuan Hojo.”
“Oh kasihan, ya. Kasihan.”
Nozomi berkata, “Taifun akan datang, Mereka tidak akan bisa pulang.”
“Biarkan saja mereka di sini. Kasihan.”
Dari tempat mereka berdiri, Izumi dan Nozomi memperhatikan Tuan Hojo menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang gemetar untuk istrinya, yang hanya tersenyum tetapi tidak mengatakan apa-apa. Selesai menyanyikan lagi ia pun meniup lilin. Lalu ia memotong kue pavlova tersebut, yang langsung dilahapnya dengan mata berbinar-binar. (“Apakah Mii-chan boleh memotongnya?” — “Aku bisa sendiri.” — “Kandungan gulanya 30 gram.” — “Begitu lezat sampai aku hampir menangis terharu. Sayang betul Mii-chan tidak bisa memakannya.”)
Izumi dan Nozomi saling bertatapan. Pemandangan itu begitu menyenangkan untuk dilihat, karena Tuan Hojo tampak benar-benar bahagia.
“Tetapi, Taifun akan datang,” kata Izumi.
“Sudah semakin dekat,” kata Nozomi.
Taifun bergulung-gulung kehitaman di langit dan batas cakrawala. Sudah lama tidak ada bakal badai seperti itu. Tuan Pemilik akan pulang dari luar kota selepas petang –Izumi dan Nozomi sangat berharap ia tidak akan terjebak dalam taifun. Di atas kepala mereka, petir pertama telah menggelegar; satu dan kemudian dua, dan kemudian tetes hujan pertama. Satu kemudian dua. Kemudian hujan menjadi sangat deras begitu tiba-tiba, diiringi angin kencang yang meniup rambu-rambu dan reklame Machiko Satsuru (iklan minuman kaleng rasa buah hasil rekayasa genetika) hingga bergoyang-goyang. Orang-orang di Shibuya mulai berhamburan mencari tempat berteduh, tetapi anehnya tak ada satu orangpun yang masuk ke dalam kafe itu –mereka hanya berteduh di bawah kanopi di luar kafe. Bisnis memang sedang lesu. Kasihan Tuan Pemilik.
“Aku mengkhawatirkan Tuan Pemilik.”
“Aku juga. Semoga ia baik-baik saja.”
Tiba-tiba, petir yang sangat dahsyat menggelegar di atas atap. Izumi dan Nozomi memekik kecil berbarengan. Tiba-tiba semua lampu padam dan Tokyo segera diselimuti kegelapan yang basah berair.
“Hei, nyalakan generatornya!” seru Tuan Hojo. Izumi beranjak untuk menaikkan tuas generator di belakang bangunan. “Apakah sudah dinyalakan?” kata Tuan Hojo lagi. “Astaga, semua kegelapan ini merusak perayaan kami. Benar kan, Mii-chan?” Tidak ada jawaban. “Mii-chan?”
Tetapi kemudian Nozomi melihat siluet istri Tuan Hojo bergoyang-goyang maju dan mundur, seolah tertiup angin kencang dari luar. Sewaktu generator menyala dan lampu-lampu kembali hidup, istri Tuan Hojo ambruk menelungkup di meja.
Tuan Hojo berseru, “Tidak! Mii-chan! Hei, nyalakan generatornya!”
“Sudah menyala,” kata Izumi.
“Kau bohong!”
“Semua lampu sudah menyala,” kata Nozomi. Izumi dan Nozomi bergegas menghampiri meja Tuan Hojo dan istrinya. Ketika tiba di sana, mereka mendapati Tuan Hojo sedang menangis tersedu-sedu.
“Oh, Tuan Hojo…”
“Generator belum menyala! Tidak ada listrik” Tuan Hojo berlutut di lantai untuk memeriksa stop kontak. “Mengapa tidak ada listrik?”
“Ada listrik, Tuan Hojo.”
“Lalu mengapa istriku mati?”
Kabel yang menancap pada stop kontak masih tersambung ke tubuh istri Tuan Hojo seperti biasanya setiap kali mereka mengunjungi kafe itu, tetapi gadis itu tetap menelungkup di meja, tidak bergerak. Dengan panik, Tuan Hojo mengeluarkan kepingan pengisi daya jinjing dari tasnya, kemudian menempelkan benda itu ke punggung istrinya di balik baju hangat hijau muda yang dikenakannya. Ada suara berdengung, tetapi gadis itu tetap menelungkup di meja, tidak bergerak.
“Mengapa istriku mati?”
Sepasang mata kecil Tuan Hojo kini bernuansa kemerahan yang basah berair. Tanpa berkata-kata, Izumi berlutut di lantai untuk memeriksa stop kontak dan kabelnya. Tidak ada yang salah, semua bekerja seperti biasanya. Sesungguhnya ia tidak tahu harus berkata apa. “Tidak ada yang tidak berfungsi, Tuan Hojo,” katanya.
“Tapi aku menyambungkannya ke stop kontak itu,” kata Tuan Hojo. “Dan sekarang dia juga tersambung ke pengisi daya.” Ia mengguncang-guncang tubuh di meja tersebut. Gadis itu tetap diam tidak bergerak. “Mii-chan, bangunlah,” katanya dengan sedu-sedan yang lembut. “Ayo, bangun. Kita pulang.”
Kata Nazomi, “Tuan Hojo, di luar ada taifun.”
Seraya menangis terangguk-angguk, Tuan Hojo berkata, “Oh, aku tahu, aku tahu. Tetapi aku mencintainya.” Ia meraup tubuh istrinya dengan perlahan dan memeluknya. Wajah istrinya masih sama, senyumnya abadi, kedua matanya terbuka. “Kau tahu,” kata Tuan Hojo kepada istrinya, “di luar ada taifun dan aku mencintaimu, jadi kau harus bangun.”
Kata Izumi, “Tuan Hojo, ia telah rusak.”


TUAN Pemilik baru tiba beberapa saat sebelum tengah malam karena taifun mengacaukan jadwal seluruh alat transportasi. Ia adalah pria yang praktis. Ia kelihatan lelah dan berantakan seperti baru saja ditiup angin kencang, tetapi ia tidak mengeluh ataupun bersungut-sungut. Ia langsung naik ke tempat tinggalnya di lantai dua di atas kafe, mandi, memakai pakaian bersih yang hangat, dan duduk di ruang kerjanya dimana Izumi dan Nozomi telah menyalakan penghangat ruangan, menyiapkan makanan hangat, serta teh yang masih hangat mengepul. Ia tidak pernah banyak berkata-kata. Selesai makan, ia akan menuju ke ranjangnya, lalu bercinta dengan Izumi dan Nozomi. Kadang bergantian, kadang bersamaan. Saat bercinta pun ia tidak pernah banyak berkata-kata. Ia lebih senang apabila orang lain yang berkata-kata.
Itulah yang mereka lakukan seusai bercinta. Tuan Pemilik bersandar pada dua buah bantal yang ditumpuk, diam sambil memejamkan mata, mendengarkan Izumi dan Nozomi bercerita. Ia senang mendengarkan kedua gadis itu bercerita: “Hari ini hujan badai sejak pagi, tapi Tuan Hojo datang lagi dengan teman perempuannya.” — “Teman perempuan itu adalah istrinya.” — “Istrinya seorang Geminoid Rumi generasi kedua.” — “Listrik mati dan Geminoid Rumi itu juga mati.”
“Geminoid Rumi generasi kedua hanya bisa mencapai 35 tahun,” kata Tuan Pemilik kepada Izumi dan Nozomi. “Bahkan seri Rumi sudah tidak diproduksi lagi. Seharusnya si kakek Hojo itu mengembalikan Rumi-nya ke produsen untuk dihancurkan. Itu aturan pemerintah. Ia bisa dipenjara.”
“Tetapi Tuan Hojo mencintainya,” kata Nozomi.
“Tuan Hojo benar-benar pria malang,” kata Izumi.
“Cinta itu sebuah kebodohan,” kata Tuan Pemilik.
Keheningan menyusupi ruangan kecil itu ketika tampaknya Tuan Pemilik telah jatuh tertidur. Lalu Nozomi berkata, “Tetapi… tidakkah Tuan Pemilik mencintai kami?”
Tuan Pemilik membuka matanya.
“Cinta itu sebuah kebodohan,” katanya. “Terutama antara manusia dan robot android-nya. Si kakek Hojo itu manusia yang bodoh karena ia menikahi robot android. Lalu, sekarang kalian harus berhenti menanyakan hal-hal bodoh. Aku ingin tidur.”
Ia memejamkan matanya dan langsung tertidur hanya dalam beberapa menit saja. Sementara itu, Izumi dan Nozomi berbaring di sisi kiri dan kanannya dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit: meskipun mereka adalah Geminoid seri X-156 yang sudah jauh lebih canggih dari seri Rumi, mereka tetap tidak dapat tidur seperti halnya manusia tidur.
Izumi berkata, “Ia ternyata tidak mencintai kita.” Dan Nozomi mengangguk sedih.
Mereka mulai menangis pelan. Memang salah satu kelebihan seri X-156 dari generasi sebelumnya adalah bahwa mereka bisa merasa sedih dan menangis seperti halnya manusia merasa sedih dan menangis.
Izumi dan Nozomi menangis sepanjang sisa malam itu.


KEESOKAN paginya Tuan Pemilik terbangun dan mendapati kedua android pelayannya berbaring diam tak bergerak di ranjang. Ia mengguncang-guncang tubuh mereka, mencubit lembut lengan mereka, tetapi mereka tidak menunjukkan reaksi apa pun. Maka ia menghubungi salah satu kantor cabang produsen Geminoid untuk meminta ahli reparasi, yang langsung tiba tidak lama kemudian. “Cepatlah, kami harus segera membuka kafe ini,” katanya. “Apa yang terjadi pada mereka?”
Ahli reparasi itu memerlukan waktu setengah jam untuk membongkar mesin keduanya lalu merakitnya kembali. Setelah selesai ia berkata, “Mereka harus dibawa ke pabrik.”
“Mengapa?”
“Motor penggerak utama mereka telah rusak. Anda lihat di sini, di tengah sini? Jika di tubuh manusia, benda itu disebut jantung hati. Kedua Geminoid ini rusak jantung hatinya, jadi kami harus membawa mereka kembali ke pabrik untuk mengganti motor-motor tersebut.”
Tuan Pemilik adalah pria yang praktis, maka ia berkata, “Lakukan saja. Ah, tunggu. Tolong tukar saja mereka dengan android yang generasinya di bawah X-156. Mereka hanya android pelayan, saya tidak butuh yang dilengkapi emosi atau jantung hati.”
“Mohon ditunggu dalam tiga hari. Atas nama perusahaan Geminoid seri X, saya meminta maaf atas ketidaknyamanan Anda.”
Tuan Pemilik hanya mengangguk, meski ia sebal. Kafenya tidak bisa dibuka selama tiga hari hingga android pelayan yang baru tiba.
28 November 2014
Dias Novita Wuri lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulus dari Program Studi Rusia, Universitas Indonesia. Ia tinggal di Jakarta.


Rujukan
[1] Disalin dari karya Dias Novita Wuri
[2] Tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 7 Desember 2014