Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara

KUMPULAN CERPEN

Asap

KAMU berdiri bagai patung menatap gunung terbakar. Anganmu berkelebat ke masa silam pada sebuah hutan di [...]

Baca selengkapnya »

Sayup Tifa Mengepung Humia

Kelak setelah dimiliki Bone, Waita akan menempati humia baru. Tidak lagi bersama Mama Aname. Waita akan [...]

Baca selengkapnya »

Mustajab dan Pak Bupati

Mustajab buta. Mata Mustajab tidak bisa melihat. Namun, tak ada orang di kampung kami yang begitu [...]

Baca selengkapnya »

Azab

Jen menggedor-gedor pintu. Sudah berhari-hari suaminya tak keluar kamar. Sebelumnya ada permintaan untuk tak mengganggunya selama [...]

Baca selengkapnya »

Pegasus Jatuh

Pegasus jatuh. Tumbang. Berdebam. Sebelum mendarat ke tanah, ia sempat menabrak beberapa dahan dan ranting, memunculkan [...]

Baca selengkapnya »

Mayat Gugat

Pagi masih meringkuk ketika ribuan mayat bangkit dari dalam kubur. Mayat-mayat itu melangkah gontai menyisiri sela [...]

Baca selengkapnya »

Kejadian-kejadian di Meja Operasi

Kategori: Arsip Cerpen, Koran Tempo, Penulis:

Ada baiknya cerita ini tidak dibaca oleh perempuan muda, terutama perempuan muda dengan perut buncit dan [...]

Baca selengkapnya »

Koran

AKU mungkin berbeda dengan kalian, orang-orang yang mendewakan gawai. Bagiku yang sudah kepala enam ini, koran [...]

Baca selengkapnya »

Bir Pletok

LANGIT sudah merah, Rojali baru datang. Lelah melingkar di wajahnya, berat ia bernapas. Duduk pada sebuah [...]

Baca selengkapnya »

Kemarau dan Emas Merah

Kategori: Arsip Cerpen, Koran Republika, Penulis:

Aku tak mau lagi gagal kedua kali untuk menaam cabai pada kampung kita ini. Tahun lalu, [...]

Baca selengkapnya »