30 Cerita tentang Jendela di Bukit Tidur

Karya . Dikliping tanggal 1 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Cerita 1. Jendela itu seakan berdiri di sana sendirian. Bangunannya sudah tak lagi terlihat, hanya tersisa sedikit dinding bata merahnya yang ada di tepi kusen. Dinding itulah yang tampak seperti menahan tegaknya jendela. Namun anehnya, kayu-kayu jendela masih tampak sempurna, sama sekali tak aus termakan cuaca. Kacanya pun masih tampak bening, bahkan pengait kuncinya masih berfungsi baik. Siapa pun yang datang dari arah desa, dapat melihat dengan jelas apa yang ada di balik jendela: langit biru paling cerah.

Cerita 2. Kalau kau ingin melihat satu keajaiban kecil, datanglah ke Bukit Tidur di mana sebuah jendela berdiri sendirian. Datanglah ke sana saat hujan, saat di sekelilingmu dipayungi awan hitam! Lalu, lihatlah apa yang ada di balik jendela itu. Di sana kau akan tetap melihat langit biru paling cerah.

Cerita 3. Sejak dulu, tak ada yang mengenal penghuni rumah di Bukit Tidur itu. Ia datang saat hujan paling deras untuk menemui kepala desa. Ia berniat menyewa Bukit Tidur dengan sepeti uang emas, yang tentu tak mungkin bisa ditolak. Di bukit itu, ia kemudian membangun sebuah rumah yang cukup besar, dan tinggal di sana hanya ditemani seorang pelayan setianya.

Cerita 4. Jangan tanyakan kenapa disebut Bukit Tidur! Jawabannya mungkin terdengar tak serius. Tapi, sejak kecil, orang tua kami selalu menceritakan seorang raksasa yang tengah tidur di situ. Bukit itu adalah perutnya yang buncit, dan puncak batu yang menjulang tinggi di dekatnya adalah penisnya.

Cerita 5. Pelayan setia rumah di Bukit Tidur itu bernama Launabrina. Ia yang mengurusi seluruh isi rumah, walau tentu saja tak ada yang terlalu yakin apa benar ia yang mengerjakan seluruhnya. Namun, yang pasti, ia yang membeli semua keperluan pemilik rumah itu di desa. Orang-orang desa selalu bertanya-tanya kepadanya dengan ingin tahu. Sayangnya, Launabrina orang yang tak banyak bicara, sehingga penduduk desa tak mendapat cerita apa-apa darinya.

Cerita 6. Kakekku merupakan salah satu orang yang membangun rumah di Bukit Tidur. Bersama dirinya, ada sekitar 40 orang lain yang bekerja kala itu. Aku ingat satu cerita kakek yang selalu dia ulang-ulang: jendela yang kini berdiri sendirian di bukit itu adalah bagian yang dipasang paling akhir. Kakek dan para tukang lainnya tak pernah tahu dari mana jendela itu berasal. Ia seperti tiba-tiba saja datang di bukit itu.

Cerita 7. Suatu kali, sebuah badai besar datang dengan tiba-tiba. Seluruh desa nyaris hancur tersapu angin, termasuk rumah besar yang ada di Bukit Tidur. Tak ada yang tersisa dari rumah itu, selain sebuah jendelanya. Semua lenyap terbawa badai, termasuk laki-laki pemilik rumah itu.

Cerita 8. Launabrina adalah salah satu orang yang selamat dari badai. Itu karena pemilik toko, tempat yang sedang ia datangi saat badai, memiliki ruang bawah tanah yang aman. Tapi, saat ia kembali ke Bukit Tidur, ia menangis melihat keadaan rumah yang hanya tersisa jendelanya. Sejak itu, Launabrina tinggal di desa. Tapi, setiap hari, ia akan datang ke Bukit Tidur untuk membersihkan jendela dan memotongi rumput liar di sekitar jendela. Diam-diam penduduk desa selalu menunjuk dirinya sebagai contoh dari arti kesetiaan.

Cerita 9. Kupikir cerita ibu tentang Launabrina terlalu berlebihan. Aku yakin apa yang dilakukannya itu bukanlah sekadar perkara kesetiaan semata. Ia pastilah jatuh cinta kepada laki-laki pemilik rumah itu. Tak ada orang yang sanggup bersetia seperti itu bila ia tak jatuh cinta setengah mati. Kalian pasti setuju denganku!

Cerita 10. Tak sedikit saudagar dari kota lain yang berniat menyewa Bukit Tidur, dan membangun kembali rumah di situ. Tapi, entah kenapa, selalu saja niat itu tak pernah terlaksana. Transaksi mereka selalu gagal dengan berbagai alasan. Mulai dari si pembeli yang tiba-tiba sakit parah, uang yang telah disiapkan hilang atau dirampok, sampai sebab lainnya. Hingga beberapa tahun berlalu, tak ada seorang pun yang berhasil menyewa bukit itu.

Cerita 11. Satu hari, Launabrina jatuh pingsan saat tengah membersihkan jendela. Penduduk desa menebak ia pingsan karena kelelahan. Bagaimanapun, tahun-tahun yang telah berlalu membuat dirinya tak lagi muda seperti dulu, sehingga tak lagi bisa memaksakan diri untuk naik-turun bukit setiap hari. Sejak itulah, Launabrina tak lagi datang ke Bukit Tidur. Itu membuatnya begitu bersedih.

Cerita 12. Sejak Launabrina tak lagi bisa ke bukit, orang-orang mulai seenaknya datang ke sana. Saat itulah mereka mengetahui keajaiban yang ada di jendela itu. Cerita dengan cepat menyebar ke mana-mana. Orang-orang pun berbondong-bondong datang ke Bukit Tidur untuk membuktikan cerita tentang jendela itu.

Cerita 13. Kepala desa yang berotak bisnis membuat kotak sumbangan bagi siapa pun yang datang ke Bukit Tidur. Sambil meletakkan kotak di undakan terakhir di Bukit Tidur, ia sudah berencana menyewakan petak-petak tanah di sekitar jendela untuk para pedagang. Namun, anehnya, kotak sumbangan itu selalu hilang pada keesokan harinya. Tak pernah ada yang tahu siapa yang mengambilnya.

Cerita 14. Proyek perusahaan kami di desa ini baru saja selesai. Dua hari ini kami membuat gerbang masuk bertulisan: “Selamat Datang di Bukit Tidur. Nikmatilah Keajaiban Jendela Kami”. Kupikir ini gerbang terbaik yang pernah kami buat. Desainnya unik, dan tak pernah ada di tempat lain. Kami bangga menjadi bagian dari keajaiban jendela di Bukit Tidur.

Cerita 15. Aku pernah berkencan dengan seorang gadis dari kota. Kuajak ia ke jendela yang ada di Bukit Tidur. Di situ, setelah membuka jendela, kuserahkan sebatang mawar merah untuknya. Anehnya, mawar yang terlepas dari tanganku dan tampak akan jatuh ke luar jendela, tiba-tiba melayang begitu saja ke arah langit. Kami berdua hanya bisa memandangnya dengan tak percaya.

Cerita 16. Cerita tentang mawar yang melayang terbang ke langit melalui jendela ajaib itu segera saja menyebar dengan cepat. Ternyata hanya mawar berwarna merah yang bisa melayang terbang, tidak yang lainnya. Lalu para perayu segera memanfaatkan keadaan ini. Mereka akan merayu seperti ini, “Sebagai bukti cintaku, mawar ini akan melayang untukmu. Itu artinya Tuhan merestui cinta kita…” Tak lama kemudian, muncullah beberapa pedagang mawar merah di sekitar Bukit Tidur.

Cerita 17. Papa pernah bercerita, suatu kali ada seorang pencuri yang menyambangi Bukit Tidur untuk mencuri jendela ajaib. Kata papa, pencuri itu berpikir, kalau ia bisa memindahkan jendela itu, berarti ia bisa pula memindahkan keajaibannya. Tapi pencuri itu tak pernah berhasil. Ia bahkan tak bisa menghancurkan sebuah batu bata pun di situ.

Cerita 18. Seorang penyair pernah menulis sajak tentang jendela di Bukit Tidur. Sajak itu dimuat di majalah sastra paling bergengsi di kota. Demikian petikan sajak itu: yang ada di balik jendela itu adalah keajaiban/ dan biarkan aku melihatnya di sepenggal hidupku yang singkat/ yang ada di balik jendela itu adalah wajahmu/ dan biarkan aku memandangmu selamanya di sini… Sajak itu tak terpilih sebagai sajak terbaik. Tapi, semua tahu, sajak itulah yang selalu dibacakan para penyair muda di pentas-pentas sastra.

Cerita 19. Seorang pelukis ternama pernah datang untuk melukis jendela di Bukit Tidur. Ia mengambil posisi di balik jendela agar, saat di sekitarnya mendung, ia tetap bisa melihat langit biru paling cerah. Semula ia merasa berhasil telah melukis jendela dan apa yang ada di balik jendela dengan sempurna. Namun, beberapa detik ia berpaling dari kanvasnya, yang kemudian terlihat di lukisannya hanyalah lukisan mendung seperti yang ada di sekelilingnya.

Cerita 20. Pernah ada seorang yang selalu bersedih mendatangi jendela di Bukit Tidur. Dari kasak-kusuk orang di sekitar, ia diceritakan telah patah hati berkali-kali. Ia merasa dirinya diciptakan Tuhan hanya untuk merasakan sakit. Ia sebenarnya datang untuk melompati jendela, dan berharap ia akan seperti setangkai mawar merah yang melayang terbang menuju langit, tak lagi kembali. Namun yang ditemukan penduduk desa keesokan harinya: tubuhnya yang tak lagi bernyawa, seakan baru terjatuh dari ketinggian.

Cerita 21. Seekor burung besar pernah datang dan bertengger di jendela itu. Untuk sekian lama, ia sama sekali tak bergerak selain di situ. Orang-orang tak berani mendekat. Mereka menduga-duga, burung besar itu seperti tengah menunggu sesuatu, atau… seseorang. Laki-laki pemilik rumah inikah yang ditunggunya?

Cerita 22. Sebagai anggota pasukan semut, aku selalu berbaris dengan rapi. Pemimpin kelompok selalu berteriak-teriak: Maju ke depan, temukan makanan! Pulang ke belakang, membawa makanan! Tapi aku tak terlalu peduli kepadanya. Kulihat di jendela ini, ada beberapa lubang kasar seperti bekas cakar seekor burung raksasa. Aku jadi ingat cerita kakek buyut semut, katanya dulu jendela ini pun sudah dipenuhi lubang-lubang bekas cakar burung raksasa, namun para tukang mendempulnya dengan rapi, hingga tak ada yang menyadarinya.

Cerita 23. Aku selalu memperhatikan jalanan menuju ke Bukit Tidur. Seorang bocah yang kukenali sebagai pengantar pesan kini kerap kulihat melintasi jalanan untuk menuju ke arah bukit. Anehnya, ia tak lagi membawa surat, tapi selalu membawa setangkai mawar merah. Aku pernah menahan langkahnya dan bertanya apa yang sedang dilakukannya. Tapi ia hanya menutup bibirnya rapat-rapat. “Aku sudah berjanji tak mengatakan apa-apa!” katanya.

Cerita 24. Dalam ketuaannya, Launabrina memohon agar bisa diantarkan kembali ke Bukit Tidur. Orang-orang yang menganggap itu permintaan terakhirnya kemudian membopongnya bersama-sama ke sana. Mereka melihat Launabrina mengeluarkan sapu tangan dan mulai mengelap jendela itu. Seiring dengan gerakannya yang lambat, satu demi satu air matanya luruh dalam kesunyian. Hingga di satu detik yang ganjil, gerakannya terhenti. Ia terkulai dan tak lagi bergerak. Orang-orang yang membopongnya dapat melihat apa yang kemudian terjadi di balik jendela. Kini, bukan lagi langit biru paling cerah yang terlihat, melainkan langit mendung paling muram.

Cerita 26. Suasana desa tiba-tiba seperti ikut bersedih. Apa yang terlihat di jendela yang ada di Bukit Tidur seperti terbawa di hati mereka, walau di sekeliling mereka sebenarnya cuaca sedang cerah-cerahnya. Seorang tua kemudian bergumam pelan, “Sekian tahun kita menghibur diri dari kesedihan dengan melihat apa yang ada di balik jendela yang selalu memunculkan cerahnya langit biru. Kini, semua seperti telah usai…”

Cerita 27. Satu hari, kami digegerkan oleh kabar robohnya jendela di Bukit Tidur. Puluhan penduduk desa berusaha menegakkannya kembali. Tapi, sampai beberapa hari berupaya, mereka tak juga berhasil. Seorang yang paling dituakan di desa kemudian berujar pelan, “Sudahlah, kita tak akan bisa kembali mendirikannya. Ini adalah waktu bagi jendela ini roboh, menyusul para pemiliknya…”

Cerita 28. Aku pengelana dari jauh. Sudah kudengar kisah tentang jendela di Bukit Tidur sejak lama. Maka itulah aku menyempatkan datang ke sini. Tapi ternyata aku datang terlambat. Yang kutemukan di bukit ini hanyalah sebuah jendela tergeletak nyaris tak lagi terlihat. Ia telah ditutupi rumput liar yang tinggi dan pelan-pelan mulai menyatu dengan tanah.

Cerita 29. Saat semua orang hampir melupakan kisah jendela di Bukit Tidur, muncul seorang laki-laki asing ditemani seorang perempuan, yang tampak seperti pelayannya. Ia datang kepada kepala desa dan menyerahkan sekotak uang emas untuk izin membangun rumah di Bukit Tidur. Semua orang melihat, di saku jas laki-laki itu, terselit setangkai mawar merah.

Cerita 30. Kabar kedatangan dua orang asing yang akan menyewa Bukit Tidur membuat kami semua teringat akan kisah lalu. Benak kami tak henti bertanya-tanya, hingga nyaris melupakan pertanyaan tentang cerita 25 yang lenyap entah ke mana…


Yudhi Herwibowo. Menulis cerpen dan novel. Novel karyanya: Sang Penggesek Biola, Sebuah Roman Wage Rudolf Supratman (Imania) | “Koran Tempo“.

Beri Nilai-Bintang!

Keterangan

[1] "30 Cerita tentang Jendela di Bukit Tidur" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 30 - 31 Maret 2019