9 / 11

Karya . Dikliping tanggal 14 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
BETAPA apes nasibku. Ketika peristiwa 9/11 terjadi, aku persis berada di jantung kota New York,di rumah keluarga teman dekatku. Aku sulit menggambarkan kepada Anda, bagaimana wajah-wajah ramah di ruang tamu itu berubah menjadi masam, sedih, histeris, dan marah. Kalau saja aku siput atau kura-kura, aku pasti sudah memasukkan kepalaku ke dalam cangkang dan perlahan-lahan beringsut dari ruang tamu yang tadinya ceria diisi canda tawa.
Aku terpaku di kursiku, mungkin wajahku pucat pasi. Mata kami semua terpaku pada layar televisi yang menyiarkan secara live menit-menit runtuhnya the Twin Tower, si Menara Kembar, digempur pesawat udara yang diawaki seorang berkebangsaan Arab Saudi. 
“Kurang ajar! Biadab!” Rob, ayah Rachel, memaki-maki dan membanting gelas di meja.
“Bagaimana mungkin? Kok bisa?” suaa perih dan putus asa Mary, ibu Rachel.
John, kakak Rachel, beranjak meninggalkan ruangan tanpa suara. Kemudian kudengar dia menelepon bebrapa teman atau kerabat, mengabarkan apa yang dilihatnya. Nada bicaranya gemas, marah, dan putus asa. James dan Ivone, dua adik Rachel yang baru duduk di Junior Scholl, meringkuk di kaki kursi ibunya, memeluk lutut, sambil matanya tak berkedip menyaksikan horor di layar kaca. Sesekali beberapa pasang mata itu melihatku dan aku merasa seperti diiris sembilu.
Rachle kemudian setengah menyeretku keluar ruangan. Kami memasuki kamar tidur. Baru kemarin kami tiba dan berencana menginap beberapa hari menghabiskan sisa liburan menjelang tahun ajaran baru. Kami bertatapan tanpa banyak akta. Kemudian dengan agak jengah, dia memelukk. Separo rasa canggung sebagai dampak peristiwa horor itu, separo lagi sisa rasa persahabatan kami.
“Maafkan aku ya, tapi sebaiknya kamu pergi…,’ bisiknya tanpa menatap mataku. 
Tanpa banyak bertanya, kulipat pakaianku, kuraih laptopku, semua barang kujejalkanke dalam backpack. Heran, backpack yang kemarin terasa longgar sekarang jadi sesak seperti mau meledak. Tanpa ba bi bu, aku bergegas keluar rumah, setengah berlari menuju halte bus terdekat. Aku bahkan tidak bisa menangis. Aku menundukkan kepala. Kepalaku yang berjilbab kututup topi jaket.
Keindahan daun-daun Maple berubah warna di musim gugur, tak lagi menarik perhatianku. Biasany aaku suka menikmati pemandangan yang tak akan kutemui di Indonesia ini. warna daun berubah, bergradasi, dari hijau menjadi kuning, kuning tua, oranye, merah terang, merah tua, cokelat, bahkan hitam. Biasanya aku menikmati bunyi “kres… kres…” di kakiku saat menginjak daun-daun gugur yang menumpuk di jalanan. Daun-daun kering keemasan. Inilah sampah yang indah, yang digambarkan dengan sempurna dalam film Autumn in Bew York yang dibintangi Richard gere. 
Biasanya aku sambil menyenandungkan lagu Michael FranK: “A fire of Maplein summer, that’s how I remember you…”
Kini semua nuansa itu lenyap. Aku merasa semua orang yang kujumpai di jalan menatapku dengan rasa benci dan marah. Aku harus menyembunyikan diri di balik jaket. 
Tiga jam kemudian aku sudah masuk rumah di Syracuse. Kukunci pintu kamar, menghindari interaksi dengan para roommate yang berasal dari Iran, Taiwan, dan seorang lagi dari Turki. Rumah kontrakan kami sepi, mungkin karena memang sedang musim libur. Baru seminggu lagi perkuliahan dimulai. Mereka pasti sedang berjalan-jalan ke kota lain, nebeng berlibur di rumah teman, dan seterusnya.
***
Rachel, teman kuliahku, memperkenalkan aku pada keluarganya pada libura setahun lalu. Tiba-tiba saja aku jadi akrab dengan John, kakaknya. Boleh dikata, kami kemudian menjalin hubungan. Sebagai keluarga Yahudi mereka persis seperti yang kubaca selama ini tentang orang-orang Yahudi. Mereka makan tidak mewah atau berlebihan (di Indonesia pasti disebut ‘pelit’ kepada tamu), namun menunya sehat dan begizi. Banyak sayuran dan ikan. Camilan sore/malam hari adalah potongan-potongan aneka keju di telenan yang diletakkan di meja besar depan televisi, ditemani beberapa jenis crackers, dan satu wadah penuh buah-buahan.
Rumah mereka dipenuhi buku, dari lantai ke langit-langit, di hampir semua dinding. Bila ada dinding kosong pasti ada lukisan yang indah tergantung, atau kata-kata mutiara dari kitab Taurat mereka. Yang paling mengasyikkan adalah melihat mereka bermain musik usai makan malam. John bermain piano dengan indah sekali, Rachel dan dua adiknya menyanyi. Mary, sang ibu, yang baru belajar bermain biola kadang merusak harmoni. Rob, sang ayah, asyik dengan kepulan asap yang diciptakan dari cerutunya. Aku adalah penonton yang beruntung.
Aku dan John kerap berdiskusi tentang agama, kehidupan sosial politik, bahkan perkawinan dan perceraian. Heran, begitu banyak persamaan di antara kami, antara Inslam dan Yahudi. Mungkin kesamaan-kesamaan itulah yang mendekatkan kami. sepanjang tahun setelah pertemuan pertama itu, kami berkirim email, text message, scype, video call, dll. John kuliah di University of Berkeley, San Franciso, jauh banget dari Syracuse. Kalau naik kereta api, tiga hari tiga malam baru sampai.
“Nadia, menurutmu bisa nggak kita pacaran?” tanyanya suatu hati.
“Entah ya John, nggak enak juga kalau kita memulai sesuatu yang harus segera diakhiri. Despite kesamaan-kesamaan kita, ada banyak sekali perbedaan di antara kita.
“Oke, understood. Kita berteman baik saja ya…”
“Yup.”
Toh, aku tak dapat menahan keinginanku untuk bercerita pada bundaku di Jombang tentang lelaki yang mengusik hatiku itu: lelaki yang santun, terpelajar, dari keluarga baik-baik. Hanya… mereka keluarga Yahudi.
“Appaaaa???” Bundaku setengah berteriakdi telepon. “Jangan macma-macam! Jangan bikin malu orang tua. Bapakmu bisa nggeblag mendengar kamu berhubungan dengan laki-laki Yahudi. Kalau kamu nggak manut Bunda untuk memutuskan hubungan, kamu pulang saja. Lanjut kuliah di Malaysia saja.”
Wadouw, bundaku jadi panik untuk hal-hal yang bahkan belum masuk dalam agenda hidupku. Aku cuma cerita saja, sambil sedikit membongkar prasangka rasial. Aku wanti-wanti bundaku untuk tidak menebarkan informasi yang serba belum tentu ini, yang dapat menganggu kesehatan bapakku. Bapakku sudah sepuh, mengasuh pondok pesantren, bisa stroke mendengar anak perempuannya berhubungan dengan laki-laki Yahudi.
Aku suka John karena dia memang laki-laki yang menyenangkan. Tentu saja dia good looking, gentle (membukakan pntu, menarikkan kursi, dst), cerdas (ciri orang Yahudi), dan sangat hormat pada perempuan. Mirip laki-laki muslim di negeriku sendiri. Di kampus, tak jarang aku mendengar percakapan tak menyenangkan di kalangan mahasiswa. Misalnya, “Cewek-cewek yang paling tidak menarik di kampus ini cewek-cewek Malaysia ya…” (dan aku paham, ‘cewek Malaysia’ itu artinya termasuk Indonesia, karena nama Indonesia tidak terlalu populer di kalangan mahasiswa di sana).
“Iya, baju mereka tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku nggak akan mau beli kucing dalam karung… Siapa yang mau pacaran sama mereka… We never know what we will get. Hahahaha…”
Benar-benar pelecehan gender, ras, dan agama, yang kalau kulaporkan pada otoritas kampus, mereka bisa kena masalah. Aturan dan sanksi tentang harrassement sangat ketat di Universita Syracuse. Tahun lalu kudengar ada mahasiswi dari India dipulangkan karena dia mengirim surat-surat bernada mesum kepada teman sekelasnya. Cewek asli Amerika itu merasa terganggu dan melapor pada dekan. Peristiwa itu menjadi isu hangat, lalu si mahasiswa India dideportasi. Di Amerika mungkin saja ada free sex, tak akan jadi masalah kalau kedua belah pihak setuju. Tapi kalau salah satu pihak tidak setuju, menolak, keberatan, merasa terganggu, itu bisa menjadi masalah serius.
Aku tidak mau pusing-pusing memikirkan keusilan cowok-cowok immature yang suka menertawakan cara kami berbusana itu. Memang, di tengah cara berbusana serbaminim dan terbuka—terutama di musim panas—kami perempuan muslim tetap brukut menutup aurat dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Setelah mengenal John, aku makin cuek pada pergulan teman-teman di kampus. Aku sudah punya teman diskusi yag asyik, keren. John yang santun, yang tidak akan ngomong hal-hal tidak penting seperti obrolan para mahasiswa itu. John juga punya selera humor. Misalnya, pagi-pagi dia video call, lalu kulihat dia menuang teh di meja, sambil berkata, “Nadia, would you like a cup of tea?” Pada momen seperti itu memang aku punya perasaan “I wish I were there with him, sipping cups of tea and cahtting about many things.”

Pasca 9/11

Aku tidak mendengar kbar dari Rachel. Dia belum juga masuk kuliah, atau masuk tapi pindah jurusan. Dan, memang keadaan kampus jadi agak kacau. Atmosfir pasangka merebak di mana-mana. Kami dihindari atau ditatap dengan pandangan yang bisa membuat batu akik pun lumer. Tapi, di rumah sewaan kami, peristiwa Menara Kembar disikapi dengan berbeda.
Roommate dari Turki, misalnya. Dia menuding, “Pasti Yahudi di balik tragedy ini.”
Roommate dari Iran lain lagi. “Aku harap Amerika mencari dalangnya di Irak. Tetangga kami itu jahat sekali. Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba nyerang Iran, nyerang Quwait.” (Aku merinding kalau ingat ini, karena dua tahun kemudian George Bush mendeklarasikan War Againts Terrorism dan menyerang Irak atas alasan mencari Weapon of Mass Destrcution).
Roommate dari Taiwan tidak banyak omong. Orang-orang dari kawasan Asia Timur memang kutu buku dan jarang terlibat dalam gerakan politik atau pesta-pesta mahasiswa. Saingan mereka dalam hal kepandaian cuma para mahasiswa dari India. Aku sering bercanda dengan teman sekelasku dari India: “Dari enam mahasiswa India yang kukenal, lima jenius. Kalian makan apa sih?”
Peristiwa 9/11 mengacaukan harmoni di kampus kami. Mayoritas penduduk kota Syracue adalah Yahudi, mayoritas dosen dan mahasiswa juga Yahudi. Namun kampus ini telah memberlakukan libur kuliah pada hari-hari perayaan agama Islam sejak 1990-an. Tidak semua kampus di Amrika bertanggal merah untuk Idul Fitri dan Idul Adha. Tapi, harmoni itu kini terkoyak.
Suasana sangat mencekam bagi kami semua, terutama yang beragama Islam dan berbangsa Arab. Di televisi dan radio, semua tokoh mencaci maki, mengecam orang-orang Islam dan Arab. Headlines koran dipenuhi prasangka dan generalisasi pada kaum muslim dan bangsa Arab. Kami semua tiarap. Masjid kami dilempari batu dan tomat serta telur busuk. Kami orang Indonesia menahan diri tidak besembahyang di masjid. Kami diimbau oleh ketua paguyuban mahasiswa Indonesia untuk stay at home. 
Pernah aku dengan sangat terpaksa berjalan keluar rumah untuk membeli sebotol susu dan air mineral serta roti. Di jalan, seseorang tak dikenal meludah tepat di depanku dengan mata membara. Teman Indonesia lain kabarnya dicegat sekelopok WASP (white anglo saxon protestan, ras yang dominan di Amerika), dan diintimidasi. Yang paling menyedihkan, di kampus aku bertemu dosen.
Dia bertanya, “Kamu muslim ya?”
“Ya.”
“Youe are bad,” ujarnya dengan sinis. Aku terpaku di lorong sepi, menangisi nasibku. Apes benar aku, kuliah di Negeri Paman Sam yang kuidam-idamkan sejak aku remaja, ndilalah kok situasinya seperti ini. Aku jadi sedih. Aku menangisi nasibu, nasib bangsaku, nasib saudara-saudara muslimku.

Epilog

Tiga tahun berlalu. Aku sudah kembali ke tanah air. Kuterima sepucuk surat dari John:
“Maafkan aku atas sikap keluargaku yang buruk padamu pada waktu itu. Maafkan aku atas ulah negaraku dan bangsaku yang tidak adil terhadap kaummu, kaum muslim. Aku telah belajar, dan itu bukan persoalan agama atau ras. Itu persoalan kebodohan. Aku menolak wajib militer. Aku unjuk rasa menentang pengiriman tentara wamil ke Irak dan Afghanistan. Aku tak mengerti mengapa mereka harus kami perangi. Aku selalu ingat kamu, gadis kecilku yang lugu, yang manis, very smart girl. I miss you…”
Air mata membasahi pipiku. Aku mungkin tidak berjodoh dengan John, tapi keasadaran John akan makna peristiwa itu sungguh membuatku bersyukur. ***
September 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sirikit Syah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 13 September 2015
Beri Nilai-Bintang!