Di Kedu Swatama itu Menjelma Diriku

Karya . Dikliping tanggal 21 Januari 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Di Kedu Swatama itu Menjelma Diriku

Akulah lelaki itu
Yang engkau tusuk kutuk di tanah Kedu
dengan penyakit kusta cintamu.

Setelah di sokalima panah cundamanik
Tak juga kuasa membunuh kesepian kita.

aku membayangkan cinta adalah perang besar
Antara Pandawa dan Kurawa di kurusetra
yang melahirkan luka-dukana.

aku sempat juga membayangkan cinta adalah dendam
kesumat
Yang diberikan rindu sebelum
gadarujakpala itu menghancurkan segala doa-doa
Yang di bangun dari mimpi-mimpi kita
Yang gagal di amini para dewa
di Astina sana.

Kedu Dalam perang Baratayudha

adalah kau dalangnya
di mana sebuah perang kembali diciptakan
untuk melahirkan kesepian.
bukan oleh Pandawa atau Kurawa
Sebab di kurusetra perang itu belum juga di mulai, katanya.
Tapi, di tanah Kedu rindu kita telah gugur satu demi satu.
Hingga tak tersisa lagi cintamu.

Baca juga:  Sang Tumbal

dari utara Astina luka membara
dari selatan amarta kesedihan lebih dulu merayakan kemenangannya.

aku pulang kepada dirimu
tapi tidak membawa kenangan
sebelum dan sesudah kunang-kunang lepas dari sangkar
ingatan
sewaktu musim hujan atau kemarau panjang menghadang
jalan.

dari atas langit setetes hujan dijatuhkan
ke dalam ladang jiwamu yang gersang..

setahun lamanya usai perang Baratayudha
menjemput nasib kita di tanah Kedu
Aku bakar dendam kesumat itu
Untuk memulai hari baru
Hari-hari rindu tanpa dirimu

Begawan Durna Gugur di Kedu

kenyataan mengabariku bahwa rindulah yang lebih dulu
membunuhmu
Sebelum perang Baratayudha itu berakhir
membuat aku pulang lagi ke tanah kedu
tanah kandung ari-ariku dan dirimu saling menancapkan
panah cinta cundamanik
Yang kita lepas bersama-sama ke arah jantung sepi yang
tertinggal di kurusetra.

Baca juga:  Rumah Baru

Sumpah Gendari Kepada Sengkuni

Telah aku lahirkan seratus bayi di tanah Kedu, Rayi
Dari seorang lelaki buta yang jatuh cinta pada seekor
ayam cemani
Ayam itu peliharaan Sanghyang Dewi Sri
Meski pun aku tak pernah tahu apakah arti bahagia
Setelah di kurusetra kesepian mengalahkan kita
Tapi matahari yang selalu gagal kita amini tiap pagi
Datang melahirkan hujan
bagi benih-benih padi yang tumbuh
di rahimku ini

Ayam Cemani di Lumbung Padi

Di atas kuburan itu bulan telanjang
Sehelai sarung menutupi auratnya.
Di tanah Kedu
ayam cemani satu demi satu mati
di lumbung tak ada lagi padi.
Telah ia tanam benih tubuhku.
ke dalam ladang jiwamu yang gersang
burung-burung terbang meninggalkan kampung halaman..
Tapi kesepian ini akan tetap bersemi
setelah kemarau panjang mengeringkan rindu kita
Tak apa, nduk,
Selama mulut masih bau tembakau lintingan.
Dan si tole rajin mengaji ke rumah Ki Ageng Makukuhan
Keselamatan atas cinta kita
tak akan pernah habis
di makan hama.

Baca juga:  Kurma dari Madinah

Budi Setiawan, tinggal di Temanggung – Jawa Tengah. Bergiat di Komunitas Seni Turonggo Setro. Buku puisi pertamanya berjudul ‘Kerokan’.


[1] Disalin dari karya Budi Setiawan 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 20 Januari 2019