Ain Meni

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Itu hari Minggu yang cerah di suatu musim penghujan. Pohon-pohon gamal berbunga, daun-daun mahoni mekar dan menghijau. Ain Meni masuk ke kakus dan menangis; suaminya akan segera mati.
Ibunya dahulu bercerita, jika burung kot-kotos [1] turun ke halaman sebelum matahari terbit, akan ada tamu yang datang berkunjung. Namun jika hal itu terjadi selama tiga hari berturut-turut—kot-kotos turun ke halaman sebelum matahari terbit—dan tak ada tamu yang datang berkunjung, seorang dari keluarganya akan segera mati.

Dan itulah yang telah terjadi selama tiga hari terakhir ini. Burung kot-kotos turun ke halaman pagi-pagi benar, sebelum matahari terbit, tapi tak ada seorang pun tamu yang berkunjung. Sementara itu, Siub Suli, suaminya, makin sekarat di tempat tidur.

Kakus terletak 25 meter dari rumah, dan samar-samar ia mendengar suaminya mengerang. Dadanya luruh dan perutnya berputar-putar. Tanpa mengejan tahi cair jatuh ke penampungan jamban. Kepanikan telah membuat ia mencret.

Seminggu lalu, dengan telanjang Siub Suli terjun ke jurang sedalam 12 meter. Tubuhnya tersangkut di dahan-dahan pohon sebelum terhempas ke tanah. Beruntunglah ia tidak mati, tapi celakanya ia terluka sangat parah. Tulang pahanya hancur tak bisa digerakkan dan sekujur tubuhnya penuh luka. Dahan pohon sebesar betis sapi menghancurkan rahangnya, dan ia tidak mampu berteriak meminta tolong. Saat Neno Amaf menemukan ia pagi-pagi buta, Siub Suli tidak sadarkan diri. Ia dinaikkan ke punggung kuda, masih telanjang bulat, terjuntai-juntai sepanjang jalan masuk ke kampung.

Namun Naef Atanus, dukun kampung yang mampu mengobati patah tulang hanya dengan satu mantra dan dua kali semburan ludah sirih-pinang, menolak mengobati Siub Suli.

“Saya tidak mau mengobati pendosa. Orang tidak tahu diri ini telah mengkhianati leluhur dan bersekutu dengan iblis. Iblis telah meminta ia telanjang dan terjun ke jurang.”

“Suamiku bukan pendosa,” bantah Ain Meni. “Kita semua tahu itu. Ia tidak pernah makan nuni [2] dan mengikuti semua nono [3]. Ia tidak pernah alpa berdoa rosario di KUB [4] dan selalu datang ke kapela setiap hari Minggu. Periksalah dia. Mungkin saja, di jalan menuju kebun tuak, kebutaan menamparnya dan ia terpeleset ke dalam jurang.”

Naef Atanus menaruh telapak tangannya di atas mata Siub Suli, menggumam sebentar dan menampar ujung mata itu keras-keras. Siub Suli mendengus lemah, bereaksi terhadap tamparan itu.

Baca juga:  "Nyctophilia"

“Dia tidak buta,” dukun itu beringsut ke belakang dan memasukkan kembali ramuan-ramuan ke dalam aluk [5]. “Dia tidak buta, dia bersekutu dengan iblis. Saya pulang,” katanya.

Ain Meni yang bersandar di dinding bebak [6] rumah itu, maju perlahan-lahan, seolah sedang berhadapan dengan ular, dan menyentuh lengan Naef Atanus.

“Sembuhkan dia,” kata perempuan itu dengan suara pelan.

Naef Atanus berjalan ke jendela, membuang ludah merah sirih-pinang dan menggeleng. Tanpa berkata apa-apa, pergilah dukun itu dan tak pernah kembali.

Ain Meni ingin membawa Siub Suli ke rumah sakit di kota kabupaten, tetapi mertua dan seluruh kerabatnya menolak. Mereka tahu, untuk penyakit yang begitu parah, rumah sakit tak akan memberikan apa-apa, kecuali mobil pengangkut jenazah dan tagihan seharga beberapa ekor sapi. Mereka meminta ia merawat Siub Suli di rumah saja, memasakkan bubur jagung dan memberi beberapa ramuan, meski mereka tahu bahwa ramuan-ramuan itu tidak akan banyak membantu. Apa artinya ramuan tanpa mantra?

Ain MeniBeberapa hari dirawat, Siub Suli tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan sembuh. Ia hanya berbaring lemah, terbangun sebentar untuk makan, mengerangi lalat yang mengerubungi luka-lukanya (yang membiru dari hari ke hari) dan kembali tidur. Maka pada hari Minggu itu, ketika bunga-bunga bermekaran dan burung-burung murai turun ke halaman untuk ketiga kalinya, Ain Meni berhenti memasak, masuk ke kakus, dan mulai menangis.

“Berhenti menangis,” kata Siub Suli kepadanya tiga minggu lalu, ketika ia menangis di dalam kamar.

“Linus tidak bodoh. Anakku tidak bodoh,” katanya tanpa memedulikan Siub Suli.

Saat itu belum ada kot-kotos yang turun ke halaman dan ia tidak sedang menangisi suaminya. Ia menangisi anaknya, Linus.

Sejak kecil, Linus hanya satu kali mengganti cita-citanya. Dari Menteri Penerangan, anak itu ingin menjadi tentara. Ia mengganti cita-cita itu di pertengahan tahun 1980-an, sesudah ia bertemu beberapa orang tentara yang menembaki Fretilin di gunung-gunung. Dalam perjalanan kembali ke Kupang, tentara-tentara itu membeli kelapa muda yang ia jual di tepi jalan. Mereka menyuruh ia menyimpan kembaliannya dan berpesan agar ia menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Sejak itulah ia tidak ingin lagi menjadi Menteri Penerangan, dan ia memang tidak ingin menjadi apa-apa lagi, kecuali menjadi tentara.

Baca juga:  Makam Nyai Malinda

Dua bulan lalu, ia lulus tes tentara di kota kabupaten. Ia dan ayah-ibunya pikir ia akan segera menjadi tentara. Namun beberapa hari sesudah kelulusannya, seorang tamu yang tidak diundang datang dan meminta mereka menyiapkan Rp 10 juta.

Demi cita-cita anaknya, Siub Suli menjual tiga ekor sapinya yang terakhir dan empat bidang tanah peninggalan leluhurnya. Namun itu belumlah cukup. Tinggal satu bidang tanah lain di Mnesat Bat yang belum ia jual. Ain Meni bertanya apakah Siub Suli mau menjual tanah di Mnesat Bat itu. Siub Suli tidak ingin menjualnya. Di tanah itulah tumbuh pohon-pohon lontar yang ia sadap.

***

“Saya pergi ke padang-sabana.”

Siub Suli berkata begitu sesudah makan siang. Ain Meni diam saja, berpikir bahwa lelaki itu akan ke Mnesat Bat untuk melihat pohon-pohon lontarnya. Pohon-pohon lontar yang lebih dicintai daripada anaknya sendiri—yang selalu dikunjungi bahkan di musim hujan, musim yang buruk untuk menyadap.

Namun sesudah semua ayam naik ke dahan pohon, malam itu, dan suaminya belum juga pulang, Ain Meni memikir-mikirkan lagi ke mana suaminya pergi. Apakah terlalu banyak pekerjaan di Mnesat Bat yang membuat ia terlambat pulang? Ketika malam makin larut dan burung hantu bersiul di kejauhan, pikiran-pikiran buruk tentang suaminya menghampiri, dan ia menyesal telah menangisi masalah keuangan di hadapan suaminya.

Dua bulan lalu, tetangga mereka, Liko Domi, mati terjebak di dalam gua di bukit Sonbiko, 12 kilometer dari kampung. Ia mencari sarang burung walet, sebab anaknya yang kuliah kesehatan di Kediri meminta sangat banyak uang; uang untuk biaya praktikum, biaya study-tour, dan biaya-biaya lain dengan nama yang sulit—seperti umum-umumnya nama-nama asing. Liko Domi dan istrinya telah berdebat panjang tentang dari mana mereka akan mendapatkan uang—apakah akan mengutang ke Om Pit atau ke Om Arnoldus—sebab sapi dan tanah telah habis terjual. Jika mengutang ke Om Pit, bunganya terlalu tinggi. Jika mengutang ke Om Arnoldus, jangka waktu pengembalian terlalu cepat. Istrinya menangis keras-keras mengasihani nasib anak mereka. Empat hari kemudian, mayat Liko Domi ditemukan di dalam gua, meringkuk di antara gundukan kotoran manusia.

Baca juga:  Racun Tikus - Pesan Kakek

“Itu bukan kotoran manusia,” kata Naef Atanus di hadapan anak-anak gembala yang menemukan mayatnya. “Itu sarang walet yang berubah menjadi tahi.”

Istri Liko Domi meludahi wajah Naef Atanus, tapi angin telah mengembuskan kabar bahwa Liko Domi mati karena mencuri sarang walet dari rumah-rumah leluhur di Sonbiko.

Mengingat itu, Ain Meni sungguh tidak bisa tidur. Ia hanya bolak-balik di tempat dipan kayu itu, mengkhawatirkan cita-cita anaknya sekaligus menggelisahkan keselamatan suaminya. Bagaimana jika anaknya tidak bisa menggapai cita-citanya? Orang tua macam apa yang tidak menyediakan uang untuk melunasi cita-cita anaknya? Bagaimana jika suaminya sedang melakukan hal-hal bodoh di tanah leluhur? Bagaimana jika suaminya mati seperti Liko Domi?

Maka keesokan harinya, ketika suaminya dibawa pulang dengan telanjang dan penuh luka sobek, terjuntai-juntai di punggung kuda, Ain Meni tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pun ketika Naef Atanus menatap ia dan mengatakan perihal kenapa suaminya terjun ke jurang dalam keadaan telanjang—perihal yang akan segera menjadi gosip kampung ini—ia tak bisa berkata apa-apa. Pun pada hari Minggu yang cerah itu, di musim penghujan itu, ketika halaman berlumpur, daun-daun berguguran, dan burung kot-kotos turun ke halaman, Ain Meni masuk ke kamar dan menangis.

Keterangan:
[1] Kot-kotos : Burung Decu (Saxicola caprata)
[2] Nuni : Makanan yang diharamkan dalam sebuah suku
[3] Nono : Aturan dan hukum adat yang diikat sanksi langsung dari leluhur
[4] KUB : Kelompok Umat Basis, kelompok doa yang terdiri atas beberapa keluarga dalam gereja Katolik
[5] Aluk : Tas pinggang masyarakat Dawan. Biasa dipakai untuk menyimpan sirih-pinang, jimat, dan barang-barang pribadi lain
[6] Bebak : Dinding yang terbuat dari pelepah pohon gewang

Felix K. Nesi lahir dan menetap di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Buku cerpennya yang akan segera terbit berjudul Kode Etik Laki-laki Simpanan.

[1] Disalin dari karya Felix K. Nesi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 28-29 Juli 2018