Air Mata Selangkangan Pelacur – Kisah Kutukan Perempuan Waktu – Kisah Rahim Pelacur

Karya . Dikliping tanggal 23 April 2013 dalam kategori Arsip Puisi, Radar Surabaya

Air Mata Selangkangan  Pelacur

Pada selangkanganmu yang merintih.Aku bersumpah tidak mengutukmu atau sekedar membakari kata-kata. Sebab kutahuwaktu memaksamu meniduri ranjang-ranjang yang kesepian. Dari itu kaupun bekumenjadi pelacur waktu terus merayu dan merayu
Padahal kutahu ketukan pintu yangselalu memanggilmu menemani  gairahkesunyian. Adalah sekarat yang merasuki dalam tubuhmu. Kulihat kau berontaksambil bercerita tantang darah yang mengalir di ranjang itu, sepanjang waktu
Maka ketika orang-orang mengutukmumelepasi dendam ke matamu, sampai engkau menjerit meratapi waktu yang terlalukeruh. Aku tahu kau perempuan yang lahir dari rahim waktu rahim cahaya seorangibu, dimana kekanakmu yang lucu
Di ujung selangkanganmu kuajarimereka. Agara kutukan itu menjadi bisu lalu mengalir semisal salju. Pelacur ituadalah korban waktu
Garincang, Batang-batang. Sumenep.Madura 23 Januari 2012

Kisah Kutukan Perempuan Waktu

Pada malam yang sunyi, engkaumemanggil orang-orang memasuki selangkanganmu. Di dalamnya ada ranjang,aroma-aroma bunga yang merayu-rayu. Suaramu perlahan seperti sedang memainkanwaktu dalam bibirmu bergairah. Disini seribu surga katamu seraya merangsangtelanjang
Dan suatu musim yang murung, ketikaorang-orang mengutukmu jahannam. Kau tetap berlalu, menawarkan dada telanjangyang riang. Ah, mereka sekedar berkata tanpa mengerti tubuhku, katamumengalirkan air mata. Lalu dari air mata itu menjadi sungai panjang. Sepanjangtubuhmu yang dilayari sampan-sampan lelaki nelayan
Kutukan demi kutukan merajammu.Melukai hati mengalirkan darah. Aku masih melihatmu tersenyum dengan gairah jamdua belas malam. Waktu yang panjang, kau berteriak meradang mendengar sumpahserapah membakari tubuhmu. Matamu nyalang, bibirmu berdoa agar selangkanganmutidak lagi melahirkan gairah_tapi tak bisa_ waktu telah merangkai sejarah
Akhirnya padamu aku titipkancerita. Biarkan kutukan itu merangkum dendam padamu karena engkau perempuanyang melahirkanku. Menetaskan rindu dari air susumu. Akulah anakmu yangsenanitasa rindu sebab waktu selalu berlalu mengejar bulan dan matahari
Garincang, Batang-batang, Sumenep.Madura 21 Januari 2012

Kisah Rahim Pelacur

Pada matamu yang gelisah, engkaubercerita. Tubuhmu diramu dengan aroma memanggilku pada kerinduan diranjang-ranjang. Engkau mulai telanjang membuka selangkangan bagai membukapintu surge suatu siang
Dari dalam selangkangan itu aku melihat lelaki-lelaki bercerita. Tentang tubuhmu memainkan payudara sampaiengkau bergairah. Dan tiba-tiab ketiak aku berdiri di depan selangkanganmu,menatap dengan gelora. Kau menetaskan air mata
Waktu itu, aku tahu kau inginberlari meninggalakan aroma-aroma nafsu. Mengejar bulan di hatimu danmaerangkai matahari. Tapi sejarah itu telah beku. Kau hanya bisa mengisahkanair mata melalui bibirmu yang pura-pura bergairah
Ah, aku mengerti kau adalahperempuan yang menyulam waktu. Lahir dari rahim ibu. Aku menangis meringisketika orang-orang mengutukmu. Padahal wajahmu kutahu telah bisu sebagaiperempuan panggilan waktu
Sungguh, kukutuk mereka yangmengutukmu. Hingga mereka mengerti tentang pelacur itu; terpuruk karena waktu
Dan pada setiap musim; jangan kutukpelacur-pelacur itu
Garincang,Batang-batang. Sumenep Madura 22 Januari 2012
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zainul Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Radar Surabaya” Minggu 21 April 2013