Air Mata

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

BUKANKAH sedari dulu air mata ditumpahkan dengan atau tanpa alasan? Bukankah pohon-pohon, rumah-rumah dan banyak hal bercokol di dunia ini karena tumpahan air mata? Kau mengenal betul air matamu. Bagaimana kau menumpahkannya, bukanlah hal sulit untuk dilakukan. Dan tak mesti belajar sebelumnya.

Bahwa kau sudah menangis sejak baru lahir. Ya, air mata pertamamu. Saat itu belum kau sadari, untuk apa menangis. Hal itu terasa terjadi begitu saja, bukan? Lalu lebih sering lagi kau menangis, seiring usiamu bertambah. Kau menangis sebab merasakan sakit saat terjatuh, kejedot pintu atau lantai, karena hal-hal lain yang belum sepenuhnya bisa kau urai.

Hingga di TK, Bunda mulai menerakan kehilangan. Kehilangan berarti air mata. Dulu sering Bunda membersamaimu menyanyi Balonku berjumlah lima yang kemudian hilang satu. Ah, hari-hari itu memang hanya bermain, menangis pun bukan apa-apa. Tapi sekarang?

“Besok ikutlah ke rumah temanmu di Madura, tak usah pulang ke sini,” begitu nenek berujar, terdengar bergetar. “Berliburlah di sana. Di sini tidak sedang baik.”

“Tapi, Nek? Aku mau pulang saja. Lama di rumah sekalian nikmati suasana hari kurban yang sebentar lagi tiba,” hanya saja kau mencemaskan nenek. Situasi genting begitu, dengan ramalan cuaca buruk dan informasi yang kau baca di koran pagi mengenai guncangan pertama itu, tentu saja sangat mengancam nenek.

“Sudahlah, pokoknya jangan pulang. Secepat mungkin aku mengungsi dari sini.”

Hanya itu, sisanya tak ada lagi. Malam itu menjadi akhir percakapanmu dengan nenek, satu-satunya keluarga yang tersisa. Kau hanya menekur. Dulu, kepergian dari rumah menyeberangi laut, menghirup udara kota yang lain, setidaknya masa depanmu lebih cerah meski dilalui dulu dengan menumpahkan air mata yang seolaholah tak pernah kering itu. Ya dulu…

***

Bersama temanmu pergi ke sebuah pantai yang menjadi tempat wisata, menikmati suasana tersaji, memandangi laut dengan kejaran ombak–tanpa bisa kau berbuat apa-apa, pulang pun teramat tak mungkin– masih kau lihat kemuraman jauh dan semakin jauh di ujung sana. Titik-titik kecil berjatuhan bagai gedung-gedung dan tembok-tembok yang berjatuhan. Dadamu lebur bagai kota yang hancur setelah kau ketahui nama-nama korban meninggal tertimpa reruntuhan.

Air MataDan tepat sebelum hari raya kurban kau pulang. Setelah informasi terkini menyebutkan kondisi kembali aman. Selama perjalanan kau hanya membayangkan beberapa hal: kota yang hancur, wajah-wajah kusut masai, mata-mata yang lelah menangis, dan tidak seorang pun di rumah. Ya, mungkin hanya tetangga, kau bisa bertanya-tanya nantinya.

Pas hari Lebaran, tepatnya perasaanmu kembali dikorbankan. Pertanyaan-pertanyaan, untuk siapakah hari raya itu? Ayah-ibu meninggal sewaktu kau kecil lantaran kecelakaan sebuah penerbangan yang tak mau disebut lalai. Sementara kau sendiri tak mau menyalahkan Tuhan. Kendati, kata orang-orang di luar, Tuhan sedang menjatuhkan hukuman. Kau hanya ingin menangis dalam doa-doa kecilmu, sambil lalu mengakui kesalahan. “Tuhan, barangkali Kau senang dengan air mataku. Maka jangan Kau buat mataku tandus. Biarkan, semua hari adalah air mata.” ❑ – g

Madura, 2018

*) D Inu Rahman Abadi, kelahiran Sumenep 17-04-95. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu al-Qurían Nurul Islam sekaligus penikmat kopi, senja dan sastra. Saat ini tengah menunggu antologi cerpen pertamanya terbit.

[1] Disalin dari karya D Inu Rahman Abadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 26 Agustus 2018