Akhir Riwayat Pohon Jambu

Karya . Dikliping tanggal 4 Januari 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
SEPASANG ular hijau bercinta di pohon jambu di halaman rumah. Menurut Kyai Mahmud, mereka adalah keturunan bangsa iblis yang diusir Tuhan dari surga. Jauh sebelum kiamat, mereka menurunkan ribuan ular yang akan menjelma sebagai nabi-nabi palsu. Memasuki rumah demi rumah dengan mengenakan jubah sutera. Mengajarkan orang-orang tentang kenikmatan dunia yang harus diperebutkan dengan menghalalkan segala cara.
Tak hanya Kyai Mahmud, tetangga kiri-kanan memintaku untuk mengusir sepasang ular itu. Bahkan Maimunah, tetanggaku yang rajin pengajian setiap malam Jumat itu selalu memintaku, “Tebanglah pohon jambu itu! Pohon jambu yang telah digunakan sepasang ular untuk tempat bercinta akan berbuah khuldi. Buah yang akan menjerumuskan setiap manusia ke lembah dosa.”
Sesudah kupikir-pikir, aku mulai percaya dengan perkataan Maimunah. Karenanya, aku bergegas mengambil parang. Selagi akan menebang pohon jambu, istriku melarangnya. Ia tak merelakan pohon warisan mendiang kakeknya itu, aku tebang. Katanya, “Pohon itu telah memberikan rezeki dari Tuhan.”
Mendengar penuturan istriku, aku dihadapkan pada pilihan rumit antara menebang dan membiarkan pohon jambu itu tetap tumbuh. Tapi sebagai suami yang numpang di rumah istri, aku terpaksa mengurungkan niat untuk menebangnya. Sungguhpun aku akan turut menanggung dosa. Sebagaimana Adam yang diusir Tuhan dari taman surga ke muka bumi.
***
BERKAT doa Kyai Mahmud, sepasang ular itu tak lagi datang di pohon jambu untuk bercinta. Meskipun begitu, Maimunah tetap memintaku untuk menebang pohon itu. Alasannya masih sama, “Pohon itu akan berbuah khuldi. Barang siapa menyantapnya akan terjerumus ke lembah dosa.”
Pikiranku kembali kacau, ketika semakin mempercayai perkataan Maimunah tentang pohon jambu itu. Pikiranku semakin berantakan, ketika istriku yang tengah hamil muda itu bilang, “Kalau pohon jambu itu berbuah, petikkan sebuah untukku!”
Malam itu, aku tak bisa tidur. Pikiranku serupa burung malam yang berkeliaran tanpa juntrung. Tak tahu apa yang harus aku putuskan. Menebang pohon itu tanpa sepengetahuan istriku atau membiarkannya hingga berbuah. Demi istriku yang tengah mengandung. Demi jabang bayi yang dikandungnya. 
Mataku baru dapat terpejam sebelum azan awal berkumandang dari surau. Dalam tidur, aku bermimpi didatangi seorang lelaki tua. Rambutnya yang memutih diikat udheng wulung. Mengenakan surjan lurik dan sarung kotak-kotakl. Berdiri tanpa terompah. Menatapku tajam serupa elang. “Jangan kau tebang pohon jambu yang aku tanam! Barang soapa yang menebang pohon itu akan mendapatkan kutukanku!”
Sontak aku terbangun. Turun dari ranjang. Menuju ruang makan. Menuang air putih dari kendi ke dalam cangkir. Mereguknya untuk meredam pikiranku yang kacau. Sesudah sedikit tenang, aku mulai menduga sesungguhnya siapakah lelaki tua yang datang ke alam mimpiku. Apakah ia adalah jin yang selalu datang dengan menjelma sebagai arwah orang meninggal? Apakah ia benar-benar arwah kakek istriku yang menanam pohon jambu itu? Jawaban baru aku dapatkan sesudah melihat foto mendiang kakek istriku yang terpajang di ruang keluarga.
***
WAKTU merangkak. Hingga aku dapat melupakan perkataan Kyai Mahmud tentang sepasang ular yang pernah bercinta di pohon jambu itu adalah jelmaan iblis. Aku pun telah melupakan perkataan Maimunah untuk menebang pohon itu. Dua hal yang aku ingat hanya pesan istriku untuk memetik sebuah bila pohon itu berbuah, dan perintah arwah kakek istriku untuk tidak menebangnya. 
Empat bulan kemudian. Pohon jambu di halaman depan rumah mulai berbuah. Sejak itu, aku mulai tak percaya dengan perkataan Maimunah. Pohon itu tetap berbuah jambu. Karenanya, aku memetik sebuah untuk istriku yang tengah hamil tua.
Dengan lahap, istriku menyantap buah jambu selepas senja. Karena sangat manisnya, istriku memintaku untuk memetik sebuah lagi. Sebagai suami setia, aku akan memenuhi permintaan istriku. Namun, tidaak malam itu. Malam yang dilanda deras hujan, hingga pohon jambu sangat licin untuk dipanjat.
Teramat pagi, aku terbangun dari tidur. Tanpa mencuci muka terlebih dulu, aku keluar rumah untuk memetiak buah jambu. Sesudah membuka pintu depan, aku tersentak. Manakala pohon itu telah ditebang oleh seorang yang belum aku ketahui identitasnya.
Tak jauh dari tonggak pohon jambu, sekian lama aku berdiri terpaku bagaikan patung garnit. Hingga tak aku ketahui, Kyai Mahmud telah berdiri di sampingku. Menurut orang yang dituakan di kampungku itu, kalau yang menebang pohon jambu adalah Maimunah.
“Dari mana Kyai tahu, kalau Maimunah yang menebang pohon jmabu?”
“Sesudah hujan reda, aku keluar rumah. Melihat Maimunah menebang pohon itu. Dibantu suaminya.”
Mendengar kesaksian Kyai Mahmud, aku bergegas pergi ke rumah Maimunah untuk meminta pertanggungjawaban. Selagi di sampai di halaman rumahnya, tak aku temukan Maimunah. Hanya orang-orang yang mengatakan kalau Maimunah baru saja dilarikan suaminya ke rumah sakit. Kata seseorang dari mereka, “Perut Mainumah menggelembung serupa balon. Ia terus memuntahkan darah yang bercambur biji-biji jambu.”
***
KABAR buruk tentang Maimunah, aku sampaikan pada istriku. Mendengar kabar itu, istriku tersenyum dingin. Katanya, “Hukum Tuhan tak dapat dilawan. Siapa yang iri, keiriannya akan menjadi sebilah belati. Senjata yang akan menikam tuannya sendiri.”
“Aku tak tahu maksud di balik perkataanmu.”
“Ketahuilah! Maimunah yang selalu memintamu untuk menebang pohon jambu itu hanya didorong rasa keiriannyaa. Iri karena pohon warisan kakekku itu selalu berbuah. Tak seperti pohon jambu yang sesudah ia tanam di halaman rumahnyaa selalu mati. Ia mendapatkan kutukan dari kakek. Barang siapa menebang pohon jambu dan memakan buahnya akan menemui petaka besar.”
Benar apa yang dikatakan istriku. Sejam kemudian, Kyai Mahmud mengumumkan lewat speaker surau, “Maimunah meninggal. Jenazahnya akan dikubur selepas Zuhur.” Tanpa rasa dendam, aku berangkat melayat. Turut mengantarkan jenazahnya ke makam.
Malam usai pemakaman Maimunah tetangga kiri-kanan berdatangan di halaman rumahku. Berkerumun di seputar tonggak pohon jambu. Ketika aku tanya kenapa berdatangan di halaman rumahku, jawab mereka ringan, “Kami mendengar rintihan arwah Maimunah yang bersumber dari tonggak pohon jambu ini. Ia meminta tolong pada kami untuk membebaskannya.” (k)
[] Cilacap, 17 Mei – 18 Desember 2015.
Sri Wintala Ahmad: pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Menulis dalam tiga  bahasa (Inggris, Indonesia, dan Jawa). Tinggal di Karangtalun RT 01/RW VII, Cilacap Utara, Cilacap Jawa Tengah.  
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 3 Januari 2016