Akhir Tahun

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2010 dalam kategori Arsip Cerpen, Batam Pos, Koran Lokal
Apakah kamu akan datang di hari-hari ini? Kini sudah Desember lagi. Sudah sekian Desember aku menunggu kedatanganmu. Aku ingin kita bersama di akhir tahun ini, paling tidak, sekedar untuk mengingat bahwa kita pernah sama-sama menjalani kehidupan untuk waktu yang lama.
Lima tahun yang lampau aku dan kamu menjalani bulan Desember bersama, bahkan kita sering berbagi perasaan. Kita berjalan sore di akhir tahun yang penuh makna itu, tentu saja bagi kita. Bermain domino, berlama-lama nonton TV, bermain gitar, kamu yang nyanyi dan aku yang memetik gitarnya. Sungguh semua itu tak kan bisa begitu saja berlari dari ingatanku.
Kamu hampir setiap hari datang ke rumahku, membantuku menyiapkan makan pagi, makan siang, bahkan makan malamku. Yang kala itu, kedua orang tua dan adik kecilku berada di rumah nenekku di kampung. Dan aku tidak ikut dengan alasan ingin mencoba hidup sendirian, menyiapkan makanan dan menyiapkan yang lain dengan tanganku sendiri. Tapi, semua itu hanya alasan kecil yang sengaja aku ucap serius di depan mereka sewaktu semalam sebelum keberangkatannya ke kampung. Lebih dari itu, aku tak ingin jauh-jauh dari kamu. Untung saja kamu mengerti, setelah mereka berangkat kamu pun datangi aku, membantuku menyiapkan segalanya. Memasak, membuat jus jeruk kesukaanku. Sering kali aku melarangmu untuk pulang karena aku ingin ditemani kamu. Dan kamu pun senang.
Tapi, semuanya tak ‘kan pernah terulang kembali. Kamu pasti saat ini sedang menyiapkan makan malam untuk seseorang itu. Seseorang yang membelai rambutmu dan menciumi keningmu setiap akan tidur. Atau kalau boleh aku mengulang ceritamu tentang dia (ah, betap sakit hatiku menyebut dia, suamimu itu), kamu selalu di belikan boneka barbey dengan bermacam gaya setiap dia terima gaji akhir bulan. Tentu kamu sangat menyukainya. Suatu malam yang membuat sedikit aku tahu tentang itu, ponselku menerima satu pesan dari kamu. Suatu malam akhir bulan Juli kamu mengatakan di sms-mu suka pada boneka itu: “yang, aku suka banget pada bonekanya.” Itulah sms yang aku terima. Tapi, itu bukan untukku, melainkan untuk suamimu itu, tanda kamu menyukainya, menyayanginya. Hanya saja kamu salah mengirimkannya!
”Aku ingin punyak boneka barbey,” ucapmu suatu waktu ketika kita jalan-jalan sore. Aku sempat membelikanmu waktu itu. Tapi, setelah aku akan memberikannya padamu, kamu sudah akan berangkat, dan aku tak mungkin segera memberikannya. Kamu akan segera pergi untuk melangsungkan akad nikahmu. Bersama orang lain, bukan aku.
Apakah kamu masih mengingat semua itu? Aku mendatangi rumahmu dengan boneka di tanganku yang telah aku pernak-pernik sedemikian rupa, tak lupa aku selipkan bunga kesukaanmu di bagian bungkus warna birunya, juga warna kesukanmu. Tapi setelah di depan pintu rumahmu, seorang laki-laki semampai memakai dasi kupu-kupu, jas hitamnya menambah kemanisan wajahnya, memasukkan kamu ke dalam mobil mewahnya yang paling baru di otomotif kelas nasional. Tentu kamu melihat kekecewaanku saat itu. Hanya saja kamu berlagak tidak ada apa-apa, seseorang itu mengalahkan keindahan kenangan yang terlampau indah saat kamu bersamaku.
Tepat setelah kepergianmu aku tak bisa benar-benar menjalani hidupku dengan sempurna. Tak ada lagi kamu yang sekian waktu bersamaku. Tak ada lagi kamu menemaniku makan pagi dan makan malamku, yang waktu itu sambil aku menikmati gerak bibirmu yang bergerah indah mengunyah makanan. Mengingat semua itu, aku tak tahu seperti apa bentuk hatiku.
Waktu itu, setelah kepergianmu, keluargaku datang dari kampung. Dan beberapa hari selanjutnya, aku pun juga melangsungkan akad nikah dengan seseorang yang tiba-tiba, entah memang takdirku untuk tak lama-lama belasungkawa atas kepergianmu, atau memang aku seperti pada lelaki pada umunya, perempuan itu mampu mengisi ruang kosong di hatiku. Aku merasa nyaman dengan gadis yang kunikahi itu. Aku cukup bahagia dengan perlakuan keibuannya. Ia gadis yang pernah suatu waktu bertemu denganku ketika aku bersamamu di sore menjelang jam empat itu. Ia mengajakku bicara, bahkan terlihat akrab. Dan kamu pada saat itu terlihat cemberut. Sedang aku dengannya bercanda tawa riang. Mungkinkah karena itu semua kamu meninggalkan aku? Kamu cemburakah sehingga kamu gelap mata menerima seseorang itu? Seseorang yang melebihi semua yang ada padaku.
***
Setiap bulan Desember datang, seolah ada gairah berkobar yang membakar sendi-sendi di ulu hatiku. Aku seolah menunggu keajaiban datang menghampiriku. Kedatanganmu itulah yang kuharap. Aku membayangkan kamu datang padaku dengan membawa cinta yang telah lama kita pendam. Lalu, kita sama-sama menanti senja seperti bulan Desember beberapa tahun yang lalu. Ah, tapi itu hanya keinginan yang akan menambah kesakitanku, keinginan untuk segera mengulang saat-saat indah bersama kamu beberapa tahun yang lalu membuatku semakin sakit tak terperikan.
Bulan Desember ini, tiba-tiba aku ingin berlama-lama mengenangmu. Mengenang kenangan indah saat dengan kamu. Kenangan yang begitu nikmat merayap di setiap detak-detak jantungku.
Apakah kamu mengalami hal yang sama seperti apa yang aku alami ini? Atau jangan-jangan kamu telah menguburnya dalam-dalam? Entahlah. Mengapa setelah sekian lama aku menikmati cinta dari istriku, semua tentang kamu muncul seperti kilatan petir yang menyambar. Apa lagi di Bulan Desember ini.
Aku sangat mempedulikan perasaan semburat ini? Ada rasa nikmat menjaganya. Setiap debar-debar yang berdetak seakan memberiku sekian rasa yang manis. Aku ingin menjaganya seperti kumenjaga perasaan istriku yang selalu nampak murung akhir-akhir ini. Aku tahu ia mulai merasakan perasaan yang tak semestinya. Ia tahu aku mulai bersikap dingin padanya. Hanya saja, dengan segenap tenaga aku tak ‘kan memberi tahu bahwa aku masih mengenangmu. Kuakui perempuan memang pandai menjaga perasaannya, seperti yang terjadi pada istriku. Ia tak sekali pun menampakkan rasa tak nyamannya padaku. Rahasia hatinya ia simpan rapat tentang keganjalannya bahwa aku tak lagi sepenuhnya mencintainya lagi. Sungguh perempuan memang pandai menjaga perasaan yang bagi laki-laki tak ‘kan mungkin bisa melakukannya.
Mungkinkah kamu masih menjaga rapat perasaan itu? Perasaan yang pernah kita sama-sama memilikinya. Memang kita tak pernah mengakat bahwa kita saling mengingini satu sama lain. Tapi, kita pun tak pernah membantah waktu itu. Ya, waktu kita sama-sama betah berdua. Dan itu bagiku cukup untuk membuktikan bahwa kita mempunyai perasaan yang sukar untuk diungkapakan. Kau pun menyenangi berada di sisiku. Kau juga tak melarangku menikmati setiap kedip-kedip yang berasal dari matamu. Kau membolehkan aku menatapmu lama-lama.
Kini, seperti Desember yang sudah-sudah, aku menunggumu untuk datang menemuiku. Meski hanya untuk sekedar mengingat bahwa kita pernah bersama di kurun waktu yang lama. Aku menginginkan semua itu. Bukankah kamu pernah bilang padaku waktu itu bahwa kamu senang bila bersamaku? Ya, aku masih ingat tentang semua itu.
“Aku suka sekali bersama kamu, seperti suami istri,” ucapmu waktu itu setengah bercanda. Aku pun mengiyakannya.
Dan kini, aku masih mengingatnya seperti ku mengingat kapan hari Desember indah bersama kamu itu.
Bulan Desember ini, lagi-lagi seperti tahun yang lalu, jika siang, kadangkala hujan, bagai perasaanku padamu yang terus bergerimis. Dan malam seakan merayap dengan membawa kebosanan. Segalanya sangat miris tanpa pernah kumengerti apakah karena tak kunjung bisa kupahami mengapa aku selalu merindukanmu.
Ingin rasanya aku datangi kamu nun jauh di sana dan kubawa berlari tanpa kuhiraukan suamimu itu. Atau paling tidak aku kabari kamu melalui pesan singkat bahwa aku merindukanmu. Atau saja aku tanyakan pada kamu apa kamu sudah mengendong buah darinya? ahi.
Jika saja kamu tahu bahwa aku kian gelisah dengan datangnya bulan Desember ini, mungkin perasaanku sedikit lega (tapi tetap gundah). Bukan lantaran karena aku harus segera menyiapkan acara di tahun baru bersama istriku yang rencananya akan ke Bali. Bukan itu. Kalau boleh aku mempertimbangkan, sejujurnya, aku ingin ditemani kamu di setiap malam dan siangku. Dan sesekali kumenikmati gerak bibirmu yang manis itu. Aku ingin berlama-lama berjalan sore dengan kamu seperti beberapa tahun lalu.
Aku tak ingin bulan Desember ini cepat berlalu. Aku takut perasaan ini juga menghilang jika akhir tahun telah lewat. Setiap dera, setiap datangnya waktu seolah ada keindahan datang menghampiriku. Andai saja akhir tahun ini lebih lama dari yang telah ditentukan, tentu saja aku masih bisa berlama-lama menikmati setiap tikaman rindu yang nikmat. Rinduku padamu!
Segalanya seolah indah meski aku tahu penungguanku hanya sebatas menunggu, tak lebih dari itu. Sebab, bulan Desember ini mungkin akan mengantarkan kita pada kejauhan yang semakin tak kutahu harus dengan apa kuartikan kerinduanku padamu.
Lebih dari itu, pada awal tahun depan nanti aku harus segera membeli ranjang kecil yang mungil. Aku harus membeli baju-baju warna-warni untuk buah dari hasil pernikahanku. Aku harus sesegera mungkin menyiapkan nama bagus untuk anakku. Ya, sebentar lagi, waktunya istriku melahirkan. Dan aku bahagia karena akan segera menimang-nimang buah hatiku. Tapi aku merasa kecewa, sebab tak akan ada waktu lagi untuk mengenang saat-saat Desember denganmu. Bertambahnya kesibukan mungkin dengan perlahan akan menghapus kenikmatan-kenikmatan yang tak cukup kuartikan hanya dengan sekedar membayangkanmu datang.***
Yogyakarta, 2008
Rujukan:
Disalin dari tulisan Rachem Siyaeza
Pernah dimuat di Batam Pos