Akibat Ketakutan

Karya , , . Dikliping tanggal 6 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen
AKU benar-benar terjerumus dalam jurang penyesalan dan tak seorangpun mau menolongku. Andai saja waktu bisa diulang kembali. Andai saja aku iniorangnya bukan penakut. Tentu peristiwa itu tak akan pernah terjadi. Aku menyesal dan terus merasa bersalah kepadanya.
Ceritanya begini….
Suara teriakan melengking memekak telinga kami, para calon anggota peleton inti yang sedang asyik menyantap makanan di kelas. Di luar ramai kakak-kakak Mitra Tama, sebuah organisasi baris-berbaris di SMA-ku.
Kami semua keluar kelas dengan wajah penuh ketakutan. Aku melompat dari pintu kelas mendarat tepat di taman sekolah. Aku menghela nafas lega. Beruntung, tindakanku ini tidak diketahui oleh kakak-kakak Mitra Tama yang judes-judes.
Kami semua berbaris membentuk tiga saf. Pandangan kami lurus ke depan dengan mata tajam menantang.
”Ambil posisi duduk!“ teriak Kak Luna.
Cepat-cepat aku mematuhi perintahnya. Aku tak mau lagi mengambil push up untuk ketiga kalinya. 
Keadaan tenang sesaat. Kak Beny, ketua Mitra Tama mulai berbicara. Menginformasikan jalannya kegiatan selanjutnya. Kami semua dengan seksama mendengarkan yang diungkapkan Kak Beny. 
***

KAMI dibagi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat orang. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan, dialah yang akan diberangkatkan duluan. Aku senang karena di kelompokku ada Rokib, teman yang kukenal kala kami saling bertemu saat pendaftaran peserta didik baru.

Aku tersenyum. Rokib berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan kakak Mitra Tama. Kami kelompok ketiga yang diberangkatkan.
Dengan membawa dua lilin kami mulai berjalan. Rokib di depan. Tangan kanannya membawa lilin. Dua orang yang di tengah diisi cewek-cewek. Satu di antara dua itu telah kukenal. Satunya lagi aku belum mengetahui namanya. Sementara aku di belakang mereka.
Aku berusaha mempertahankan agar lilinku tak mati.
Kami mulai menyusuri koridor sekolah. Jalan- alan sempit di sela-sela bangunan. Angin malam menusuk-nusuk tulangku. Bulu romaku berdiri.
Dari jarak sekitar 25 meter, aku melihat lilin. Aku yakin di sana pos pertama. Kami menghentikan langkah di sana. Dan benar, ini adalah pos pertama. Di situ ada Kak Utami dan Kak Resti yang duduk sibuk bermain ponsel pintar. Kami menghadap. Berlapor bahwa kelompok kami siap menjalankan tugas yang akan diberikan olehnya.
Ternyata dugaanku salah. Di pos pertama ini tak ada tantangan yang harus kami selesaikan. Di sini kami hanya diberi motivasi. Intinya kami disuruh untuk giat latihan baris-berbaris untuk menghadapi lomba yang akan bergulir sekitar satu bulan setengah lagi.
Lalu kami semua berdiri setelah selesai mendengarkan penjelasan-penjelasan dari Kak Utami dan Kak Resti. Kami melanjutkan perjalanan.
Aku dikejutkan oleh sesuatu. 
”Berhenti dulu,“ perintahku kepada ketiga temanku.
Mereka berhenti.
”Apa?“
Aku merunduk ke bawah. Mencari-cari yang bisa digenggam. Dan aku mengambil sebuah benda. Entah apa. Yang jelas benda itu keras. Aku melontarkan benda itu…
Aku berteriak ”Kuntilanakkk!!!“
Rokib dan kedua teman cewekku tercengang. Spontan mereka mengikuti langkahku yang lebih dulu berlari meninggalkan mereka.
***
AKU mencoba mencari tahu ada apa kiranya teman-temanku dan beberapa kakak Mitra Tama berkerumun di depan UKS. Aku mendekat ke sana.
”Ada apa ini?“ tanyaku sambil celingukan.
Aku berharap pandanganku bisa menembus ke dalam UKS lewat jendela kaca. Tapi tak bisa. Terlalu banyak orang yang berdiri di dekat jendela.
”Kau belum tahu?“
”Belum?“
Dari dalam UKS, tiba-tiba keluar Kak Beny dengan muka penuh kemarahan. Ia menyebut-nyebut namaku. Aku pun tak mengerti mengapa begitu.
”Mana Han… mana Han?“
”Iya, kak?“
”Kau kan yang melempari kepala Risda dengan benda keras? Ngakuuuu!!!“
Tubuhku seketika kaku. Aku menunduk pasrah.
Aku tidak menyangka. Kuntilanak itu ternyata Kak Risda. Kakak kelasku yang kutaksir. 
❑ Bantul, 27 Agustus 2016

Risen Dhawuh Abdullah SMAN 2 Banguntapan Bantul


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risen Dhawuh Abdullah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 4 September 2016