Akik Bergambar Naga

Karya . Dikliping tanggal 5 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
DESA Ngadiluwih geger, saat orang-orang mendengar Goprak menemukan batu akik bergambar naga sesudah bertapa di makam Nyi Gantiwarni tujuh malam tujuh hari. Orang-orang berdatangan di rumah Goprak. Menyaksikan batu akik yang diyakini dapat mendatangkan rezeki dari delapan penjuru.
Berita menggemparkan tentang penemuan batu akik bergambar naga oleh Goprak kian meluas sesudah beberapa televisi swasta nasional mewartakannya. Nama Goprak kian tersohor. Terlebih ketika banyak orang menyebut batu akik itu dengan ‘batu goprak.’ Selain sebagai nama lelaki itu, goprak bermakna sebagai alat pengusir burung di sawah. Karenanya, mereka menganggap kalau batu akik itu jua dapat dijadikan alat tolak balak.
Karena tak lagi menggunakan akal sehatnya, orang-orang kaya yang rakus berdatangan ke rumah Goprak untuk membeli batu akik bergambar naga. Kebanyakan mereka menawarkan batu akik ituseharga Rp 1 miliar. Beberapa orang menawar Rp 2 miliar. Babah King dari negeri Singa nekat menawar Rp 3,5 miliar, mereka pulang bertangan hampa. Goprak tak ingin menjual batu akiknya.
“Sebaiknya kamu jual batu akik itu pada Babah King. Dengan Rp 3,5 miliar, kita bisa punya rumah dan mobil mewah,” Istri Goprak menyarankan. “Ingat, Kang! Beras, bumbu dapur, gula, teh, dan kopi sudah habis. Kompor gas sudah memerah apinya. Tagihan listrik sudah dua bulan menunggak. Biaya sekolah kedua anak kita sudah menanti.”
“Santai saja!” Goprak menjawab dengan nada dingin. “Percayalah! Tak lama lagi, kita akan menjadi miliuner. Berkat batu akik ini, uang akan datang dengan sendiri-nya. Tanpa aku harus bekerja keras di proyek. Bersabarlah!”
“Bersabar?” Istri Goprak membanting asbak kosong. “Bersabar sampai kiamat tiba? Sudahlah, Kang! Kalau kamu tak mendapatkan uang minggu ini, lebih baik kita cerai! Aku sudah tak kuat hidup bersama seorang pemimpi besar yang malas bekerja.”
“Cerai?” Goprak tertawa ngakak.
“Baik. Sesudah mendapatkan uang yang akan muncul dari dasar bumi seperti mata air dan menumpah deras serupa hujan dari langit, aku akan membawamu ke KUA. Aku akan menceraikanmu.”
Mendengar jawaban Goprak yang tak masuk akal, istrinya hanya terdiam dengan wajah masam. Taka da kata yang perlu diucapkan. Tak ada tindakan yang perlu dilakukan, selain memasuki kamar. Mengemasi seluruh pakaian. Pulang tanpa sepeser uang ke rumah orangtuanya. Bersama kedua anaknya yang perutnya mulai akrab dengan rasa lapar.
Kepergian istri dan kedua anaknya tak mengubah pendirian Goprak untuk tidak menjual batu akiknya. Tak mengubah niatnya untuk tidak bekerja di proyek, sebagaimana dilakukan sebelum mendapat batu akik itu. Dalam hati, Goprak masih yakin kalau uang akan segera datang bagai bah di musim ke sembilan.
***
BULAN demi bulan, Goprak menunggu datangnya keajaiban dari batu akik bergambar naga yang diyakininya dapat mendatangkan rezeki berlimpah. Namun sekian lama ditunggu, rezeki itu tak kunjung tiba. Hingga, pendiriannya mulai goyah. Goprak bermaksud menjual batu akiknya pada Babah King.
Sesudah mendapatkan uang pinjaman dari bank dengan jaminan sertifikat tanah, Goprak ingin terbang ke negeri Singa. Menjual batu akiknya pada Babah King. Pukul 07.00, pesawat yang ditumpanginya lepas landas dari bandara. Menuju negeri Singa. Negeri kecil yang tingkat kemakmurannya sepuluh kali lipat dengan negerinya sendiri.
Mengacu alamat pada kartu nama, Goprak yang keluar dari bandara di Negeri Singa itu bergegas menuju rumah Babah King dengan taksi. Sesampai di depan pintu pagar besi yang mengelilingi rumah mewah berlantai tiga, Goprak ditemui seorang ellaki muda bermata sipit.
“Anda siapa?” Lelaki muda itu menatap Goprak penuh selidik. “Tampaknya Tuan datang dari jauh?”
“Benar,” jawab Goprak santun. “Perkenalkan. Namaku Goprak.” 
“Apa maksud kedatangan Tuan Goprak di rummahku?” 
“Ingin menjual batu akik bergambar naga pad aBabah King.”
“Ayah telah meninggal dua hari lalu. Terkena serangan jantung.”
Wajah Goprak pucat. Tanpa mengucap salam, Goprak kembali ke bandara dengan taksi. Sepanjang perjalanan, tak ada yang dipikirkan. Selain harapannya untuk mendapatkan uang Rp 3,5 miliar telah pupus. Dalam diam Goprak mengutuk Nyi Gantiwarni. Leluhur Ngadiluwih yang memberikan bisikan kalau batu akik miliknya akan mendatangkan rezeki berlimpah.
***
PUKUL tujuh malam, pesawat yang ditumpangi Goprak landing di bandara terbesar di negerinya. Dengan langkah gontai, Goprak meninggalkan bandara. Selagi menunggu angkot di trotoar jalan , seorang lelaki menyambar ranselnya yang berisi perbekalan dan batu akik bergambar naga. Teriakannya sia-sia. Lelaki itu telah kabur dengan motornya.
Goprak yang terduduk lunglai di trotoar jalan itu melihat langit tak berbintang tampak akan runtuh. Menimbun tubuh dan harapannya. Harapan untuk menjadi seorang miliuner. Harapan untuk memiliki rumah dan mobil mewah, sebagaimana yang diimpikannya sejak kecil.
Kiranya Tuhan masih bermurah hati pada Goprak. Manakala kakinya sudah tak mampu lagi berjalan, mobil butut mertuanya melintas di depannya. Goprak dibawa ke rumah mertuanya itu. Sesampai tujuan, Goprak diusir istrinya. Dengan hati serasa disayat-sayat ribuan silet, Goprak pulang ke rumah.
Malam itu, Goprak serasa menjadi mayat hidup. Seluruh anggota tubuhnya masih bisa digerakkan, namun semangat hidupnya benar-benar padam. Terlebih daat kehilangan tanah warisan mendiang ayahnya, karena tak mampu mengembalikan utangnya pada bank.
Sehari sesudah tanahnya disita bank, Goprak meninggalkan rumah, Menjalani hidup sebagai orang gila. Hidup yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Sementara, orang-orang yang mengenal dan melihatnya di jalan selalu berkata dalam hati, “Goprak telah terbebas dari penderitaannya!” (k) ❑ 

Cilacap, 19 Mei – 4 Agustus 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 4 Oktober 2015