Akong

Karya . Dikliping tanggal 15 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
KAKEKKU, Tjen Sauw Tjung,
meninggal dunia pada 22 Juni 1986 dalam usia 78 tahun, tepat ketika
Diego Maradona menyarangkan bola dengan tangannya ke gawang Peter
Shilton dalam perempat final Piala Dunia di Meksiko. Hanya beberapa
detik selepas gol paling kontroversial sepanjang masa yang kemudian
dikenal sebagai “Gol Tangan Tuhan” itu, beliau mengembuskan
napasnya yang penghabisan di depan televisi.
Kurasa waktu itu keluarga kami tak
kalah kaget, kalang-kabut dan gemparnya dengan para pemain Inggris
yang menyerbu wasit Tunisia, Ali Bennaceur, dan melayangkan protes
keras. Tapi, kau tahu, seperti halnya protes sia-sia para penggawa
Tiga Singa itu, tak ada yang bisa kami lakukan… Toh, Sang Maut telah
meniupkan pluitnya. Ibuku menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh
Akong1 yang tergolek di kursi goyangnya.
Ah, bertahun-tahun kemudian, mama
masih sering menyesali kenapa bapaknya mesti mati dengan cara
sekonyol itu. Dan, nenekku – yang bertahan hidup hingga usia hampir
100 tahun dan berlaku layaknya seorang Ibu Suri Dinasti Qing
(atau bak seorang Ursula Buendía dalam novel “Seratus Tahun
Kesunyian”-nya Gabriel Garcia Marques) dengan enam putra, dua
putri, lima menantu, sebelas cucu, empat cicit – seolah tak pernah
memaafkan sang suami.
***
ORANG China, kau tahu, memang
suka bertaruh nasib. Mereka menciptakan banyak permainan judi dan
bisa menjadikan apa saja sebagai wadah perjudian.
Sebagian dari mereka adalah
spekulator yang ulung dalam berbisnis, tapi sebagian lagi adalah para
petaruh yang nekat. Yang tak segan-segan mempertaruhkan sebagian atau
seluruh harta bendanya di meja judi – dari meja ke meja, lapak ke
lapak –dan gemar nangkring di depan batu-batu atau pohon besar
dengan dupa menyala. Hm, datanglah ke kota kecilku, akan kutunjukkan
padamu orang-orang semacam itu…
O, tidak. Kurasa kakekku bukanlah
seorang setan judi sebagaimana keyakinan Pho-pho2.
Beliau mungkin lebih cocok digolongkan sebagai tipe yang pertama
sekaligus yang kedua. Ya, banyak orang mengakui bahwa Akong
sebenarnya seorang pembisnis hebat. Kau tahu, ketika pertama kali
datang dari daratan Tiongkok, ia cuma membawa sebuntal pakaian butut!
Aku pernah mendengar cerita yang
beredar pada tahun 50-an tentang orang-orang China yang melarikan
diri ke Hongkong dari kekuasaan komunis di daratan Tiongkok.
Dikisahkan, mereka mendiami rumah-rumah kardus yang berimpitan di
lorong-lorong kumuh di pinggiran kota dan dengan modal seadanya
berjualan apa saja yang bisa dijual di mulut-mulut lorong. Dari
permen, ikat rambut, lilin, rokok, hingga korek api. Namun hanya
dalam waktu beberapa tahun saja mereka sudah pindah ke rumah-rumah
susun di pinggir kota yang mirip kotak susu dengan balkon penuh
jemuran melambai-lambai. Dan, tak lama kemudian, sebagian dari mereka
tahu-tahu telah mengontrak ruko di pusat keramaian, bahkan segelintir
di antaranya memiliki ruko sendiri.
Tapi kakekku nyatanya lebih
mencengangkan lagi. Hanya dalam waktu kurang lebih dua tahun
setibanya di kota kecil ini – kata orang-orang—Akong sudah
berhasil membeli sebuah ruko bertingkat dua! Itu terjadi pada
pengunjung masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.
Awalnya ia menjajakan tenaga sebagai
kuli pikul di pasar; berkarung-karung beras, jagung, atau tepung
terigu, juga berkeranjang-keranjang ikan. Atau, seringkali pula para
penjual ikan memanfaatkan jasa tenaganya mengangkut air dari sumur
dari belakang tempat penjagalan babi. Begitulah cara beliau
mengumpulkan sekeping demi sekeping logamnya yang pertama. Dan
kurang-lebih enam bulan berselang, dengan modal kecil-kecilan yang
dikumpulkannya itu, Akong kemudian berjualan tahu goreng
keliling. Pekerjaan itu dilakoninya selama setahun empat bulan. Ah,
bisa kubayangkan betapa kehidupannya saat itu yang sungguh tak mudah.
Aku tak tahu, berapa jumlah uang
yang dipertaruhkannya untuk memasang nomor lotre yang mengubah
hidupnya itu. Kata papa, itu seluruh simpanan Akong. Toh,
sebagaimana halnya seorang cukong China di Jawa yang kemudian dikenal
sebagai pendiri pabrik rokok kretek paling terkemuka di negeri ini
setelah mempertaruhkan hartanya yang penghabisan di meja judi, Akong
sendiri juga tak bakal menduga kalau dirinya akan keluar sebagai
pemenang yang gilang-gemilang.
“Pilihanku waktu itu hanya dua.
Mati kelaparan atau pasrahkan nasib pada keberuntungan!” tukasnya
suatu kali lalu terkekeh.
***
YA, sejak itu perlahan Akong
mulai dikenal sebagai pemilik toko dan bengkel sepeda di kota
kecamatan kecil ini yang pada masa itu berstatus kawedanan. Usahanya
maju pesat. Bahkan pada tahun ketiga ia sudah memiliki tujuh orang
pekerja. Empat orang bekerja di toko yang merangkap bengkel, dan tiga
orang membantu di rumah.
“Wedana Belanda pun membeli sepeda
dari toko kakekkmu,” kata Thai Khiu –demikian aku
memanggil kakak lelaki ibuku yang paling tua—seminggu setelah Akong
meninggal.
“Waktu itu di sini sudah ada
sebuah bengkel sepeda. Tapi cuma kakekmulah yang punya tokonya dan
menjual sepeda baru bermerk seperti Fongers, Gazelle, Simplex atau
Humber,” lanjutnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Namun rupanya kemujuran nasib dan
kesuksesan usahanya itu tidaklah membuat Akong berhenti
bertaruh. Pun setelah ia menikahi Pho-pho, anak seorang mandor
penambangan timah yang pernah menjadi pelanggan tahu gorengnya.
Kau tahu, judi sudah lama menjadi
tradisi orang China sejak berabad-abad lamanya. Karena itu tak perlu
heran jika kau temukan orang-orang China — tua-muda,
lelaki-perempuan, kaya-miskin—suka berkumpul semalam suntuk untuk
bermain mayong dan kartu. Bagi orang China, berjudi tidaklah
selamanya buruk –sebaliknya ia sering dijadikan ajang silaturahmi
antarkeluarga, antarteman-kolega. Di meja judi, perkara pelik dan
silang sengketa diselesaikan bersama, kesepakatan bisnis tercapai,
reuni dirangkai-kenangan lama dibesuk… Dan pada hari-hari raya,
Tahun Baru Imlek utamanya, beragam jenis judi bakal memenuhi seantero
kota kecil ini hingga ke dusun-dusun pinggiran. Ya,
perkampungan-perkampungan Tionghoa…
Lihatlah, mereka yang begitu uzur
pun menghabiskan hari-hari tuanya yang panjang dengan membanting batu
mayong, mengocok kartu ceki dengan riang-gembira selagi maut
belum datang menjemput. Dan anak-anak, sedari dini sudah belajar
bersiasat dengan kartu, seolah belajar menyiasati hidup yang keras
dan tak mudah. Ah, begitulah dulu –kuingat—aku dan kawan-kawan
sebaya mempertaruhkan sekeping uang logam untuk berjajan!
Karena itu, tak perlu heran apabila
–seperti halnya kebanyakan orang China yang lain—judi agaknya
memang tak mungkin lagi dipisahkan dari kehidupan Akong. Jika
Thai Khiu suka mengenang betapa cerdik dan uletnya Akong
dalam menjalankan bisnis toko sepedanya sejak zaman Belanda,
ibuku sebaliknya selalu mengingat bagaimana bapaknya itu saban malam
tak pernah absen berjudi. Dari rumah ke rumah, meja ke meja. Atau,
kadangkala diajaknya teman-temannya untuk bermain mayong di
rumah.
“Waktu itu Akong sudah
punya backing polisi?” tanyaku suatu kali, teringat pada Pak
Supardi, kapolsek yang sering berkunjung ke rumah dan ngobrol
panjang-lebar dengan Akong. Mama hanya tersenyum, “Jangan
kau bandingkan dengan sekarang. Dulu orang masih bebas berjudi.
Bahkan, siapa saja bisa menggelar judi di pinggir jalan. Di bioskop
sana, kau tahu, penuh dengan lapak judi kodok-kodok! Apalagi, kalau
lagi ada pasar malam. Segala macam judi ada!”
Akong sendiri suka
membanggakan kemenangan-kemenangan judinya. Termasuk kepada kami
cucu-cucunya. Misalnya ia mengaku pernah mendapatkan seekor kerbau
dalam judi kartu 21. Di lain waktu ia bercerita bagamana dirinya
memenangkan permainan poker secara berturut-turut selama sebulan.
Baca juga:  Neraka Kembar Rajab
“Sehabis itu, tak ada yang berani
lagi menantangku main poker! Hahaha!” ujarnya tertawa
terbahak-bahak hingga kedua matanya yang sipit tinggal segaris. Ia
kemudian melanjutkan ksiahnya sambil melinting tembakau, sementara
aku duduk di sampingnya. Memijat-mijat sebelah kakinya yang terjulur
lurus ke atas sebuah kursi kayu kecil.
“Kau pikir kartu-kartu Akong
selalu bagus?” tanyanya sambil menyunggingkan senyum. Aku tidak
menjawab, hanya memperhatikan ia menggulung kertas tembakau. Kemudian
diselipkannya gulungan tembakau itu ke sudut bibirnya dan menyalakan
sebatang lidi korek api. Diisapnya dua kali. Asap kelabu yang pekat
dan wangi berembus keluar dari lubang hidung di sela bibirnya.
Ia terkekeh saat hendak meneruskan
ceritanya. Katanya, “Sebenarnya aku lebih sering mendapatkan
kartu-kartu buruk! Kartu-kartu kecil. Paling tinggi Kiu Peh3!
Bahkan Akong pernah tiga kali mendapatkan deretan kartu Mut
Tep
4!”
Ia menyeringai saat melihatku
melongo. Ditepuk-tepuknya bahuku.
“Kau harus paham, Loi. Yang paling
penting dalam poker itu bukanlah deretan kartu bagus. Tapi strategi
kemenangan! Sikap dan ekspresi wajah yang dingin adalah kuncinya.
Beda dengan judi kartu lain, dalam poker kita harus bisa
menipu lawan. Dan, yang tak kalah penting adalah mental! Keberanian.
Tahu kau? Saat mendapatkan kartu Mut Tep, Akong sorongkan
seluruh uang yang Akong bawa! Dan tak ada yang berani ikut!
Hahahaha, habislah semua urang di meja itu Akong raup!”
Aku – yang waktu itu masih duduk
di bangku kelas enam SD—ikut tertawa. Dapat kulihat dengan jelas
bayangan kebanggaan di kedua matanya yang berbinar-binar. Jika sudah
demikian, kadang-kadang ia mulai sesumbar.
“Tapi kau percaya tidak? Kakekmu
ini pernah mendapatkan kartu Thung Fa Thai Sun5!
Akong yakin, sampai sekarang cuma Akong-lah
satu-satunya orang yang pernah mendapatkan deretan kartu tertinggi di
kota ini!” katanya lagi.
Ah, ayahku pernah mengingatkanku
suatu kali: “Omongan kakekmu itu jangan semuanya ditelan
mentah-mentah. Meski ada benarnya, ia itu suka berlebihan kalau
menceritakan dirinya.”
Papa mungkin benar tentang bapak
mertuanya itu. Banyak orang mengatakan Akong pembual bermulut
lebar, yang lain menyebutnya tukang kibul. Sebagian lagi bilang ia
sombong. Namun demikian, toh Akong juga tak pernah malu-malu
mengakui kekalahan-kekalahan yang pernah ia peroleh di meja judi.
Paling tidak kepadaku. Dari kekalahan kecil sampai yang paling pahit,
dari yang bikin geli sampai yang rasanya musykil.
Baca juga:  Parfum
Contohnya, sampai sekarang tak
seorang pun percaya kalau ia pernah menemukan sebuah pedang bergagang
emas di reruntuhan Benteng Kuto Panji. Menurutnya, pedang itu
terlepas dari tangannya keesokan malam di meja mayong. Dan itu
adalah kekalahan terbesar yang pernah ia derita dalam hidupnya.
“Nenekmu bahkan belum sempat
melihat pedang itu. Kalau dijual harganya mungkin bisa untuk
membangun sepuluh ruko! Akong benar-benar menyesal
mempertaruhkan pedang itu,” ucapnya dengan nada sedih.
Aku tidak tahu seberapa kadar
kebenaran dalam pengakuannya ini. Toh, Akong tak pernah bisa
menunjukkan bukti pada orang-orang yang meledeknya kalau ia memang
penah memiliki pedang bergagang emas tersebut. Dengan siapa ia
bertaruh, Akong juga selalu berkilah bahwa ia sudah lupa.
***
AH, beliau sebenarnya pernah jatuh
bangkrut pada masa pendudukan Jepang. Tentu saja bukan karena kalah
judi. Waktu itu seluruh sepedanya, bahkan termasuk alat-alat bengkel
yang ia miliki, disita balatentara Dai Nippon hingga tokonya kosong
melompong. Tak seorang pun menyangka ia bakal bisa bangkit lagi
ketika para serdadu kate itu akhirnya hengkang.
“Kami sudah lama tak makan nasi.
Hanya sekarung kecil singkong yang tersisa,” demikian kenang Lian
Ji6 – anak Akong nomor dua – dengan mata
berkaca-kaca.
“Dengan beberapa sen terakhir yang
ia miliki, kakekmu kemudian ikut undian yang diadakan orang Belanda
di Societet. Ia menang. Tidak besar, tapi cukuplah buat ia pakai
berjudi dari satu tempat ke tempat lain. Tapi setiap malam ia bisa
membawa pulang uang… Kami bisa membeli beras. Beras yang sangat
buruk. Kuning, bau, dan penuh kutu…”
Betul, dengan uang kemenangannya di
meja judi itulah, perlahan Akong kemudian membangun kembali
rukonya. Sedikit demi sedikit. Banyak orang curiga kalau beliau
menyimang azimat yang membuatnya selalu beruntung kalau berjudi.
“Kakekmu itu punya buntet7
lipan!” kata Ho Suk8, ayah temanku Budi.
Yang lain mengatakan Akong
memelihara tokek dengan buntut bercabang dua. Bahkan, pernah juga
aku mendengar orang menuduh beliau memelihara jin. Ayahku hanya
tertawa kuceritakan semua yang kudengar itu padanya.
“Jin? Jin apa? Jin lampu ajaib?
Huh, memangnya film Aladin? Kita orang China punya banyak dewa, tapi
tidak punya jin!” tukasnya geli.
“Jinnya justru kakekmu sendiri!
Jin judi!” cetus Pho-pho geram. Wajahnya tampak masam. Kami
semua tahu, belakangan Pho-pho memang sering kesal melihat
Akong pergi berjudi setiap malam. Terlebih setelah beliau
dibabtis oleh seorang pastor Belanda.
“Gereja katolik,” kata si pastor
kurus jangkung itu padanya, “tidak melarang orang-orang Tionghoa
menyembahyangi arwah leluhur dengan cara tradisi. Tetapi tinggalkan
judi. Itu dosa!”
Sejak itulah Pho-pho bukan
saja tak pernah lagi mau diajak main qua atau 21 oleh para
tetangga dan teman-teman akrabnya, namun juga mulai membangun
perseteruan dengan sang suami. Keduanya mulai kerap bertengkar.
“Kalau bukan karena judi, mungkin
aku ini sudah mati kelaparan seperti anjing buduk di jalan!” tukas
Akong dengan nada meradang. Pho-pho menyahut dengan
suara tak kalah tinggi, “Kau sendiri yang mengatakan begitu!”
“Memang begitu kenyataannya! Aku
tak mungkin punya toko, dan kita mungkin juga tak pernah menikah
kalau aku tidak menang judi!”
Pho-pho tertawa sinis dan
berkata, “Tapi apa perlu setua ini kau masih kelayapan tiap malam?
Kau seharusnya dulu tidak datang ke Bangka, tapi ke Makau9!”
Begitulah. Sepasang suami istri yang
telah puluhan tahun hidup berumah tangga dan seharusnya melewatkan
usia senja dengan damai-bahagia sambil memomong cucu itu mendadak tak
ubahnya seperti kucing dan anjing. Ibu dan ayahku –satu-satunya
anak dan menantu yang tinggal bersama mereka dan meneruskan usaha
bengkel sepeda—hanya bisa menghela napas setiap kali mereka
bercekcok. Sia-sia saja melerai kedua orang tua yang keras kepala
itu. Karena tak tahan ribut terus, Akong-lah yang akhirnya
lebih banyak mengalah dan pindah ke kamar yang pernah ditempati oleh
Khin Khiu10, anaknya nomor empat sebelum menikah.
***
YA, judi bola tak hanya
merenggut nyawa center back Kolombia, Andreas Escobar, delapan
tahun kemudian. Pemain bernomor punggung 2 itu, kau tahu, tewas
mengenaskan dengan dua belas lubang pelor di tubuhnya pada 2 Juli
1994. Ia diberondong oleh seorang lelaki yang kalah taruhan, dua hari
sekembalinya dari pentas Piala Dunia di Amerika Serikat.
Namun inilah kenyataan pahit yang
terjadi dalam keluarga kami: kakekku Tjen Sauw Tjung terkena serangan
jantung di depan televisi 21 inci tepat ketika Diego Maradona
menjebol gawang Inggris dengan tangan kirinya. Ia bahkan tak sempat
menyaksikan “gol terbaik abad 20” yang dibuat Maradona lima menit
berselang dengan melewati lima pemain lawan!
Hm, sebetulnya Akong bukanlah
seorang pecandu sepak bola seperti ayahku. Ia juga jarang bertaruh
bola. Hanya sesekali saja ia ikut memasang skor taruhan. Itu pun tak
pernah besar. Sejak menyerahkan toko sekaligus bengkel sepedanya pada
ayahku, Akong memang tak pernah lagi bertaruh dalam jumlah
besar. Namun, hari itu, entah setan laknat mana yang merasukinya
(demikian ujar Pho-pho dengan geram bertahun-tahun
kemudian),ia diam-diam mempertaruhkan kalung emas Pho-pho yang
berliontin batu giok. Itu kalung kesayangan Pho-pho, pemberian
mendiang ibunya (buyut perempuanku) sebelum meninggal.
Baca juga:  Kupu-Kupu Bersayap Elang
Tentu bisa dibayangkan betapa
murkanya Pho-pho ketika mengetahui hal itu. Bahkan keesokan
sorenya ketika jenazah Akong selesai dimandikan dan hendak
dimasukkan ke peti mati, beliau tak juga mampu menahan cacimaki di
antara isak tangisnya.
Ia kehilangan dua hal terbesar dalam
hidupnya sekaligus: suami dan kalung kebanggaannya! Kami bahkan tidak
tahu tangisnya itu condong untuk kehilangan yang mana. Untuk kalung
kebanggaan yang harus berpindah tangan atau suami yang meninggal
mendadak, atau kedua-duanya? Ia menangis begitu kencang, nyaris
histeris, ketika jenazah Akong dimasukkan orang-orang ke dalam
peti mati.
Demikianlah… Hingga belasan tahun
lamanya beliau seolah-olah tak pernah memaafkan sang suami. Tak
pernah mau menziarahi makam Akong pada perayaan Chin Min11.
Dan kalau saja bukan lantaran tuntutan kewajiban sebagai seorang
istri, barangkali beliau juga enggan menyiapkan sesajen dan memegang
dupa di depan papan nama Akong saat sembahyang Chit Ngiat
Pan12 dan Tahun Baru Imlek.
“Tak perlu kalian bakar kimci
banyak-banyak untuk dia. Pasti bakal dihabiskannya untuk berjudi
di alam sana!” celetuk Pho-pho ketus setiap kali melihat
anak-anaknya membakar uang orang mati untuk Akong. Kami semua
tentu cuma bisa mengurut dada.
Ah, seringkali aku berandai-andai
sekiranya Pho-pho tahu kalau kalung berliontin gioknya yang
dipertaruhkan Akong itu hanyalah seuntai kalung imitasi…
Seandainya saja! Sebab kalung yang asli milik mendiang ibunya
diam-diam telah dicuri dan dijual oleh Chen Ji, anak
bungsunya. Ya, Chen Ji sendirilah yang mengakui perbuatannya
itu pada ibuku sambil menangis suatu malam, tak lama setelah Akong
wafat. Saat itu aku tak sengaja menguping. Keduanya duduk di
dapur sambil menunggu adonan kue yang sedang dipanggang dalam oven
tanah liat.
“Moga-moga mama dan arwah papa mau
memaafkanku, Ce13… Waktu itu aku tak punya jalan
lain. A Hiung terlilit utang banyak! Aku bahkan tak tahu ia suka
berjudi!” tangis bibiku itu tersedu-sedu dengan kepala bersandar di
bahu ibuku. Kulihat mama hanya bisa mengelus-elus punggung sang adik.
Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Kedua matanya tampak
berkaca-kaca. ***
Krapyak Wetan,
Jogjakarta, Oktober 2013

Catatan:

1. Kakek (dialek China – Hakka)
2. Nenek (dialek China – Hakka)
3. 9 Pair (istilah judi poker)
4. None (istilah judi poker)
5. Straight Flush (istilah
poker): semua kartu berbunga (gambar) sama dan berurutan. Contoh:
Semua kartu bergambar hati, dengan nomor 9-8-7-6-5 (berurutan) atau
Ace-K-Q-J-10. Ia merupakan deretan kartu terbesar dalam judi poker. Straight Flush yang terkuat adalah “Royal Straight Flush”
(dengan kembang lada).
6Bibi, adik atau kakak dari ibu
(dialek China – Hakka)
7. Berasal dari bahasa
Melayu-Bangka. Sejenis batu mutiara yang dihasilkan oleh bisa lipan.
Binatang dan tanaman lain yang memiliki buntet adalah ular
dan pohon kelubi. Orang China menyebutnya sebagai “Cu”.
8. Paman dari pihak ayah, juga
sapaan untuk laki-laki yang usianya lebih tua, lebih muda, atau
sebaya dengan ayah.
9. Makau atau Macao adalah sebuah
pulau bekas koloni Portugis. Ia merupakan koloni Eropa tertua di
China. Diserahkan kepada Portugal pada 1557 akibat sebuah kekalahan
perang. Pemerintah Portugal menyerahkan kembali kedaulatan Makau
kepada RRT pada 1999 dan kini Makau adalah sebuah Daerah
Administratif Khusus Tiongkok. Makau dikenal sebagai pusat perjudian
terbesar di Asia, dan kedua terbesar di dunia setelah Las Vegas,
Amerika Serikat.
10. Paman dari pihak ibu; juga
sapaan untuk laki-laki yang usinya lebih tua, lebih muda, atau
sebaya dengan ibu.
11. Atau Qing Ming (Mandarin:
Chūnfēn): Hari berziarah kubur. Menurut kalender Gregorian, Chin
Min biasanya dimulai sekitar 4 April (5 April di Asia Timur) dan
berakhir sekitar 20 April (guyu).
12. Hari raya
para hantu, jatuh pada setiap tangal 15 bulan 7 kalender lunar.
13. Kakak perempuan, atau sapaan
untuk perempuan yang lebih tua (dialek China – Hakka).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Tersiar di Surat Kabar “Jawa Pos” pada 14 Desember 2014