Aku Akan Mengkhianatimu – Sore Yang Bersahabat

Karya . Dikliping tanggal 29 September 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

AKU AKAN MENGKHIANATIMU

Aku akan mengkhianatimu, dengan tiga buah apel
yang masih tergantung di pohon itu, karena sepasang
kekasih yang akhirnya pergi, hanya sempat memetik satu.

Aku akan mengkhianatimu, dengan seekor ayam betina
yang terpana, karena ayam jantan itu berkokok menyadarkan
murid Kristus yang bersumpah setia.

Aku akan mengkhianatimu, semenjak sajak hanya
berisi kata-kata cinta dan rindu, sementara kau adalah
duka Sang Bapa dan aku bukan seseorang yang begitu

mudah menggerutu.

(2014)

SORE YANG BERSAHABAT

Tak ada perjamuan teh di sini,
gadis berbaju merah muda itu
duduk dengan kaku. Seorang diri.

Kesepian barangkali anjing penurut
yang ikut sibuk menjamu tamu dengan
juluran lidahnya. Kau tak perlu takut.

Tiga buah gelas bening diletakkan
dan kita merangkai percakapan dari
bunyi sumbat botol yang jatuh. Akan

kita pahami nanti, arti petualangan
dan kepulangan yang tiba-tiba ini.
Seperti menebak yang berderap dan

mendekat pada sore yang bersahabat
ini: jatuh bayangan jauh di punggung,
atau ringkik kuda yang suaranya tepat

seperti masa lalu. Sementara, kita
hanya bisa duduk dan menelisik diri,
membayangkan: ada sebuah hutan tua

dan serombongan makhluk purba berpesta.
Makan dan minum dari tubuh waktu
yang terbuat dari percakapan kita.

Tapi sore ini, aku merasa begitu bahagia;
betapa bahasa yang terhimpun dari
sebuah ruang berwarna kuning tua,

di mana ada sebuah pertemuan, telah
membebaskan dan membiasakan aku
untuk menulis sajak dari istilah-istilah

asing di luar diriku. Istilah-istilah yang
selama ini membelenggu, seperti sebuah
pengertian tentang menunggu arti pulang.

Tak ada perjamuan teh di sini, gadis berbaju
merah muda itu mendekap anjing penurut itu.
Di tangannya segelas air. Sedang aku

merasa, ini sore yang bersahabat untuk
bisa pulang dan mengenang sebuah petualangan.
Dan bercerita semua itu bagi dirimu. Jika kau tak sibuk.

(2014)

Dedy Tri Riyadi tinggal di Jakarta. Giat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

Rujukan

[1] Disalin dari karya Dedy Tri Riyadi

[2] Tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 28 September 2014