Aku Dan Tante Ima

Karya . Dikliping tanggal 18 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Tabloid Nova
Barangkali, akulah perempuan terbahagia di dunia. Memiliki suami dengan karier yang bagus di bisnis property, anak-anak yang sehat dan lucu-lucu, bisa melihat orangtua tersenyum dengan pemberian rejeki melalui tanganku dan teman-teman yang asyik untuk bergaul yang asyik diajak hangouts kapan saja, kemana saja.
Lalu suatu hari, aku merasa asing dengan rumahku, suamiku, anak-anakku. Tidak, akulah yang asing bagi mereka. Hampir semua tugasku diambil alih bibik. Aku tidak lagi memikirkan menu masakan hari ini apa atau suamiku ke kantor pakai baju mana atau anak-anak sudah mengerjakan PR atau belum, aku bahkan lupa tanggal pernikahanku dan kotak kecil yang diberikan suamiku sebagai kado ulang tahun pernikahan yang ke-10 tahun, aku lempar ke laci paling bawah tanpa sempat kubuka, karena aku terburu-buru, teman-temanku sudah menungguku di acara ulang tahun salah satu dari kami.
@@@

“Ibu, aku mau maem sama sop bakso hari ini,” pesan Akila sebelum berangkat sekolah. Ya, aku menampung pesanan semua anggota keluarga, ayah ingin makan pecel, kakak perkedel jagung, adik sop bakso, semuanya aku penuhi. Kebahagiaan tersendiri ketika melihat mereka yang tersayang berkumpul menghabiskan masakanku waktu itu.

Aku terlahir dari keluarga yang timpang, menurutku. Orangtuaku memutuskan bercerai ketika usiaku tiga bulan. Lalu aku diasuh nenekku, dan aku harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orangtuaku sudah menikah lagi dengan pasangannya masing-masing.
Beranjak SMP, aku diambil mama, tinggal bersama keluarga mama yang baru, bersama tiga anak dari suami mama. Dan dari pernikahan mama dengan bapak tiriku lahirlah Ima, adikku. Tidak jarang akupun sengaja main ke rumah bapak atas perintah kakek karena walau bagaimanapun dia adalah bapakku, dan ada lima adikku yang terpaksa harus kuanggap adik. Detik-detik bertemu bapak sangat menegangkan. Entah kapan aku terakhir melihatnya. Di awal SMP, kakek membawaku ke suatu tempat, kakek bilang ke rumah bapakku.
Lulus SMA, aku dilamar lelaki sederhana yang bekerja sebagai kuli. Tepatnya kuli bangunan. Aku melihat sorot mata mama ketidaksetujuannya kalau aku menikah dengan Ahmad. Tapi bagiku, Ahmad adalah lelaki yang kucintai dan berharap Ahmad akan membawaku keluar dari rumah mama karena di sana terlalu pengap hatiku. Ahmad orang yang sabar, dengan sikap mama seperti itu, dia tetap berusaha menunjukkan bahwa dia serius untuk menikahiku. Akhirnya Ahmad melamarku.
Selayaknya pasangan baru, kami mencoba mencari rumah kontrakan yang terjangkau keuangan kami. Delapan tahun menjadi pengontrak, berpindah-pindah dari kontrakan lainnya tidak masalah bagi kami. Aku sangat bahagia dengan keluarga kecilku. Akila, Alima, anak-anak yang dikaruniai Tuhan untukku agar aku belajar bagaimana cara mencintai, bagaimana merasakan apa yang dirasakan orangtuaku dulu, ketika aku kecil. Tidak, ketika kecil mereka tidak ada disisiku. Hanya wajah nenek, perempuan penuh kasih yang terpikir di kepalaku.
Bekerja selama sembilan tahun. Ahmad menjadi orang kepercayaan bosnya, dia dibelajari ilmu bagaimana menjadi seorang pemborong dan ilmu bisnis property. Aku mendukung suamiku. Atas kehendak Tuhan dan selebihnya adalah usaha yang gigih, Ahmad mulai berani lepas dari bosnya dan mulai merintis dari nol dengan mendirikan CV sendiri.
Proyek pertama yang diambil Ahmad, bisa membawa kami sekeluarga pindah dari rumah kontrakan ke rumah milik pribadi di Bandung. Aku sangat bersyukur dengan perubahan itu. Bukankah itu mimpi sebuah keluarga, rumah. Dan dari proyek yang lainnya, Ahmad bisa membeli mobil dan bisa menyekolahkan Akila dan Alima di sekolah elit.
Lalu timbul dalam hatiku kalau mama harus tahu dengan kesuksesan Ahmad. Ini lo Ahamad, kekasihku yang dulu mama pandang sebelah mata. Ahh, itu hanya pikiranku saja. Pada kenyataannya aku tidak tega menyakiti mama. Ada perasaan dalam hatiku bahwa aku menyayangi mama, walaupun sampai saat ini aku sering bertanya-tanya kenapa mama dan bapak bercerai disaat aku masih bayi, apakah mereka tidak mempertimbangkan keputusan mereka dengan melihatku?  Mungkin mama punya alasan, karena menurut nenek, mamalah yang paling bersikeras ingin bercerai. Sekarang mama sudah tidak bekerja, sudah tampak kerut-kerut di wajahnya. Dua mesin jahit dan dua mesin bordir cukup membuat mama bisa diam di rumah ditemani karyawannya. Sebenarnya uang kiriman dariku cukup menghidupi mama dan bapak, tapi kata mama semua badan mama bisa sakit kalau tidak ada kegiatan.
@@@
Bibik Nah harus pulang ke Tegal, anak semata wayangnya yang dia titipkan adiknya tiba-tiba sakit.
“Kamu darimana Wi?” Tanya mama. Dari sorotan mata mama aku tahu kalau mama sedikit menahan marah. 
Sehabis shoping  bersama teman-temanku, aku kaget dengan kehadiran mama di rumahku yang tiba-tiba. Rupanya setelah Bik Nah mendapat telepon dari Tegal, Bik Nah buru-buru berkemas dan kebingungan harus menghubungi siapa. Ahmad sedang di luar kota, dan aku, menyimpan hapeku di dalam tas sehingga beberapa panggilan dari Bik Nah tidak terdengar olehku. Akhirnya Bi Nah menghubungi mama.
Setelah Tuhan menurunkan rejeki yang melimpah kepada kami, hidup di lingkungan yang baru, pola hidup yang baru, aku berubah total, kata mama. Dulu aku tipe ibu yang diam di rumah, sekarang menjadi perempuan sosialita yang mementingkan bagaimana pendapat orang lain, mementingkan fesyen, dan terlalu sibuk di luar hanya untuk urusan shoping dan arisan.
“Besok kamu harus ada di rumah, kasihan anak.anak.”
“Gak bisa Ma…aku sudah janji mau ketemu Bu Aini. Kalau aku enggak datang Bu Aini akan mencapku tidak disiplin.”
Aku melihat mama terdiam. Aku menjadi kesal, teringat waktu aku kecil dulu, ketika aku terjatuh dan pingsan, nenek menelpon mama ke pabrik tempat mama bekerja, tapi mama seakan tidak peduli padaku, mama malah menyuruh bibikku, adiknya mama, yang satu pabrik dengannya untuk izin pulang dan melihat kondisiku.
“Ya sudah, aku suruh Ima ke sini besok, untuk mengurusi anak-anak selama kamu keluar.”
Ima, adikku, anak kesayangan mama. Sedari kecil aku sering cemburu padanya. Bagaimana tidak, jika Ima dibelikan baju sama mama tiga pasang, aku hanya satu pasang. Ima dibelikan gadget seharga dua juta. Aku? Kata mama nggak usah beli, belum perlu. Kejadian-kejadian yang nampak sepele itu terekam di otakku. Dan membuaku sakit jika ingat hal itu. Tapi aku tidak membenci Ima, Ima adik kesayanganku di antara banyak adikku.
“Ya sudah, nanti Mama bilang sama Ima ya?”
@@@
Anak-anak senang ditemani tantenya. Ima yang berwatak lembut dan keibuan membuat anak-anak betah sampai-sampai Ima tidak diperbolehkan pulang sama Akila. Tapi setelah aku bujuk, Ima pun diperbolehkan pulang sama Akila. Karena tugas Ima hanya sampai aku pulang.
“Gimana dengan anakmu, Ima?”
Ima bercerai dengan suaminya dan kembali ke rumah mama. Rara, anaknya diperebutkan oleh Ima dan suaminya, tapi hak asuh ada pada mantan suami Ima. Ima yang malang, jatuh ke dalam pelukan penipu temperamental. Penipu? Ya penipu. Dia palsukan identitasnya yang sudah beristri dan menikahi adikku.
@@@
“Eh Jeng, tahu enggak, Jeng Asti, mau bercerai sama suaminya lho…” kata Bu Aini di sela-sela acara arisan ibu-ibu kompleks.
“Kenapa?” tanyaku.
“Jeng Asti enggak bisa menjaga suaminya, dia sibuk main di luar, akhirnya dia naksir deh sama pembantunya yang masih muda dan cantik.”
Jleb, perkataan salah satu teman tepat mengenai ulu hatiku. Aku jadi teringat Ahmad dan Ima. Ima sudah terlanjur dekat dengan anak-anakku dan lebih sering berada di rumah bersama Ahmad, suamiku. Pikiranku sedikit kacau dan akupun langsung pamit pulang. Aku mampir ke toko kue kesukaan Ahmad dan anak-anak. Aku jadi ingat, dulu sekali, kami tidak berani masuk toko kue karena harganya yang mahal.
Aku menjalankan mobilku dengan kencang, sepi, kerena memang sudah malam dan hujan. Aku semakin resah.
Sesampainya di rumah, setelah aku masukkan mobil di garasi yang kubuka sendiri. Aku melihat sepintas rumah sangat sepi. Tidak ada celoteh Akila dan Alima yang senang dengan kedatanganku. Tidak ada Ahmad tidak ada Ima. Dengan sedikit curiga aku buka satu persatu kamar yang ada di rumahku. Tapi tidak ada satupun dari mereka. Aku tambah penasaran. Aku coba hubungi nomor Ahmad begitu juga nomor Ima, tapi dua-duanya tidak diangkat. Aku hanya diam di ruang keluarga, di kegelapan, sendirian, ditemani, pikiran-pikiran kotor di kepalaku. Tidak terasa airmataku berjatuhan. Aku pandangi kue yang kubeli, berharap, Ahmad akan segera memakannya. Aku sengaja tidak menelepon mama, karena mama hanya akan balik memarahiku.
Tepat pukul sepuluh, aku dikagetkan klakson mobil Ahmad. Aku pun beergegas menuju mereka. Aku melihat keceriaan di wajah Akila, Alima, Ahmad, dan Ima. Semakin kental pikiran kotor di kepalaku. Akupun menyuruh Ima untuk pulang dengan motor matiknya. Akila merengek minta ditemani tidur, akupun menemaninya sampai dia tertidur.
Aku hampiri Ahmad yang sedng menonton televisi. 
“Mas aku beli kue kesukaanmu,” kataku dengan sedikit muka ditekuk.
“Simpan saja, aku masih kenyang, tadi aku dan Ima dan anak-anak sudah makan di tempat biasa kita makan dulu, ternyata Ima juga suka makan di sana.”
“Mas menyukai Ima?” kataku dengan nada tinggi.
“Dewi, kamu ngomong apa! Ima adikmu, adik iparku!”
Aku, dengan penuh kesadaran membanting kue yang ada di meja dan meninggalkan Ahmad yang tajam menatapku.
Aku masuk ke kamar, aku buka laci meja paling bawah dan kuambil kotak kecil yang hampir kulupakan. Aku buka perlahan, ada sebuah cincin yang dulu sekali aku pernah mengingnkan cincin seperti itu, tapi karena tidak ada uang, jadi hanya sebatas keinginan. Aku bahkan lupa, tapi Ahmad ingat dan membelikannya untukku. Aku menangis, antara kesal, senang bercampur aduk.
Selang beberapa menit, Ima sms, dia curhat, kalau Ima suka dengan lelaki yang dikenalkan Ahmad tadi di sebuah restoran Sunda. Aku menangis, aku sudah salah paham. Aku segera menghampiri Ahmad yang sedang memunguti kue-kue yang sudah tidak karuan lagi bentuknya di lantai. Aku rebut sapu dan pengki yang ada di tangan Ahmad. Dan aku terdiam ketika Ahmad memelukku. Aku merasa kangen dengan pelukan itu, sudah lama aku telantarkan Ahmad. Ahmad lelaki yang normal, bisa saja dia mencari kebahagiaan di luar sana.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lina Maulina
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Nova” 17 Mei 2015