Alat Pembuka – Dari Ahrweiler ke Remagen Bersama Karl Mertes – Rice Cooker Adolf Bastian – Dilarang Masuk – Di Rumah Max Liebermannl – Jalan di Depan Jendela

Karya . Dikliping tanggal 7 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Alat Pembuka

seseorang menulis untuk keluar dari aku
dan ia berjalan
menuju sebuah pagar tinggi. tebal.
tebal
menjadi seekor binatang dalam kata berlalu

Dari Ahrweiler ke Remagen Bersama Karl Mertes

lembah-lembah cahaya di ahrweiler. bukit-bukit anggur
batas antara matahari tenggelam dan hampir tenggelam
suara burung melumuri dahan-dahan putih pohon birke
… tunggu sebentar
ia masih duduk di tembok benteng waktu itu
kelokan mendaki menatap orang-orang tua bertongkat
sisa makanan pada lubang bekas ledakan bom
villa romawi di bawah tanah – kota dalam benteng batu
jeritan bisu tambang besi yang ditinggalkan
ia masih duduk di tembok benteng waktu itu
terowongan bukit batu dan koperasi petani anggur
syaraf kulit, nyeri, antara mata air dan coca-cola
mengantar uang ke pengusaha atau ke petani
tunggu …
angin mulai menggotong musim gugur
daun-daun mengering. lepas. retak
memasuki toko musim dingin jadi jaket
topi (sebentar: foto selfie) sarung tangan
penutup leher —> belum pengikat leher
ia masih … tunggu
aku berikan jembatan buntung di remagen
bayangan ledakan api antara peristiwa dan ingatan
angin mendorong sungai rhein dari tombol luka
antara analog dan digital: sebentar.
seperti suara bor dalam batu —> terus terdengar
walau batu telah jadi bangku taman: tunggu.
ia masih duduk di tembok benteng setelah ini

Rice Cooker Adolf Bastian

jaringan internet. sel-sel waktu. 150 tahun berjalan ke pusat kota. toko-toko bahan makanan, perabot rumah tangga. kapal para etnolog terapung-apung dalam bahasa kesunyian. wajah yang tak pernah berhenti menatap. runcing. janggut hitam-putih. tombol-tombol digital. bau hujan sayup-sayup. setiap bangsa adalah serangga yang berusaha hidup dalam mesin bahasa. tanah berapi. deburan ombak. mesin fotocopy bernafas. serangga dari dalam otak. nyamuk malaria dan amuba dalam cahaya neon. tangan yang meneliti bungkusan kesunyian.
seseorang memegang bahunya. lembut. dalam bahasa bugis. “selamat datang di berlin,” katanya. seseorang mencium bau air kelapa dalam genggaman tangannya. seseorang membawa rice cooker dan mengetuk pintu apartemennya. “apakah waktu ketika sebutir beras berubah menjadi nasi?” tanyanya. tembakau hitam. pertanian jagung. sesajen untuk dewi kesuburan. sebuah tradisi panen bersama, mengucapkan “selamat siang” kepadanya.

Dilarang Masuk

dia meninggalkan kedua tangannya – pensil dan penggaris. berhenti bekerja. tetapi syaraf-syarafnya masih meminta kenangan tentang menulis dan memotong. dia telah menukar bahasanya dengan bahasa yang tidak berdagang. tawar-menawar di depan mesin atm. tetapi syaraf-syarafnya masih meminta kenangan tentang upah. asuransi hari tua. wajah yang terbenam dalam pasar. kenaikan harga garam dan dua potong tangan yang lupa meletakkan pensil. terseret dalam kobaran kata jual dan beli. dia letakkan kacamatanya di depan pabrik telur ayam: bahasa jatuh, berserakan, seperti jam kerja yang pecah. setiap tanda baca membesar, berubah jadi palu, pacul, linggis, dan pagar tertutup. dia telah mati 83 tahun lalu di boven digoel. mati kembali 50 tahun lalu di boven digoel. pulau dengan laut dari kawat berduri. gerobak diseret mengangkut kehampaan. syaraf-syarafnya masih meminta kenangan tentang cara bernafas dalam udara yang telah dibungkus. dan masih bernafas di sini, menatap cahaya hujan dalam film hitam-putih tentang sebutir telur ayam yang pecah dari dalam.

Di Rumah Max Liebermannl

seorang polisi meminjam sunyi di ujung jalan pariserplatz. matahari mulai meninggalkan gerbang brandenburg. suara kaki kuda dan bangku-bangku taman mulai meminjam malam. aku seperti berjalan di atas lantai yang juga berjalan meminjam malam. memasuki rumahmu yang pernah hancur setelah perang. kenangan yang meminjam puing-puingnya di depan pintu. berat. tebal. menahan pecah. cahaya putih dari dalam meminjam dirimu untuk masuk.
tamu sudah berdatangan. kau masih duduk dalam foto hitam putih, di antara tungku, rak buku, para penyair di hari puisi dunia. aku duduk di kursi malek alloula yang telah meminjam kematian, kenangan tentang perang saudara dan tumor otak. aku bawa bahasa indonesia ke dalam mikrofon, seperti air yang merembes meminjam basah. katharina narbutovic baca puisi, menghembuskan udara ke dalam udara, membuka koper ke dalam koper.
seorang lelaki berusaha menggenggam buih yang segera menghilang di telapak tangannya. dua perahu menjadi putih di atas laut berwarna putih juga. sebuah kenangan mengambil kursi, duduk dalam foto hitam-putih. dan masih duduk di sana, menunggu istrinya dari sebuah pesta impresionisme di mulut meriam, terhuyung-huyung antara cahaya dan bayangan. meminjam dirimu, meminjam kursi, dan meminjam duduk: melihat yang bersambung di luar rumahmu.

Jalan di Depan Jendela

makan curry wurst di bangku taman. sosis kering dan saos masam. sepeda awal musim panas melintas. sisa-sisa daun kering, kenangan retak pada jahitan tas. angin di bawah rumput. burung gagak melarikan remah-remah roti. cahaya mendorong cahaya yang lain. bayangan jadi putih. menggeser. memindahkan. mengganti. matahari begitu terhormat, 14 derajat setelah musim dingin. datang bersama kicauan burung. anak-anak berlari, menyusun derai tawa mereka di atas batu-batu. pohon birke tua berdaun lagi dari kerontangnya – semua lahir kembali di hari ini. tubuh telanjang, rebah di taman. melepaskan diri dari kandangnya. susunan telah ditinggalkan pada sebuah titik yang kabur: “apakah kau penjaga taman?” sebatang pohon dicabut untuk menjadi seorang gergaji. tumbuh dalam tembok. retak. tumbuh dalam kaca. pecah. tumbuh dalam besi. bengkok. tumbuh dalam bahasa. tidak. selamanya tak tahu harus tumbuh di mana. lensa telah tepat pada fokusnya, memotret panah pada busurnya: aku lupa mengatakan padamu – jalan ke kanan telah penuh sampah.

dial-a-poem

+43 1 58 50 433

kau bertanya bagaimana cara membaca puisiku?
aku berikan permen pelega tenggorokan
ke makam franz schubert di wina
kenangan ave maria tentang kematian yang pendiam
lahar dalam bahasa yang membeku
mencari kata kerja di antara kata benda. atau,
vitamin c yang hangus dalam pelajaran linguistik
john giorno memberikan nomor para penyair
mengontak puisi dalam telegraf bahasa
empat pesawat telfon hitam dan hitam
dial-a-poem … telinga tak mendengar bayangan
lahar mengecor kata kembali purba
membuka pintu untuk melihat ke belakang
kau bertanya tentang penggaris yang patah
dalam kerja alam dan kerja bahasa
memberikan garis seismograf ke leher makna
tentang bahasa jadi pengungsi dalam kode-kode digital
kata majemuk yang semakin pendiam
di depan keributan kata tunggal.
proyek puisi kontemporer
kursi diperbanyak 5.000 kursi untuk ruang tunggu yang dikosongkan.
– aku berjanji bertemu denganmu tanpa diperbanyak.
sepatu diperbanyak 5.000 sepatu untuk jadwal perjalanan yang dikosongkan.
– kamu sudah datang sebelum aku tanpa diperbanyak.
kunci diperbanyak 5.000 koper untuk gudang yang dikosongkan dan gudang yang dikosongkan.
– kamu seperti tukang cat menungguku tanpa diperbanyak.
arsip diperbanyak membedakan sejarah dan bungkusan coklat dikosongkan dari coklatnya.
– kita saling menyapa lebih tegas lagi tanpa diperbanyak.
kata-kata dicopy-paste agar penyair tahu bahasa terkapar
di mesin percetakan setelah diperbanyak.
– kita tertawa tanpa ha ha ha, katamu tanpa diperbanyak.
spiker diperbanyak untuk berbagai suara bisa melihat sebuah sudut yang telah hilang dan tetap disudutkan. gesekan materi dan media – (gitar yang membakar senarnya).
hari ini: seorang-bekas-aku melihat seorang-bekas-masakini, seperti saudara kembar dalam pesawat terbang yang tidak pernah mendarat.
Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Buku puisinya antara lain Museum Penghancur Dokumen (2013).
Rujukan:
[1] Disalin dari Afrizal Malna
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 7 Juni 2015