Ali Arkam dan Istrinya dan Kucing

Karya . Dikliping tanggal 7 November 2017 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
HUJAN sudah berlangsung
empat belas hari dan tak
ada tanda-tanda akan
selesai. Gulungan men-
dung masih merajai langit, mem-
berkahi bumi dengan kegelapan
absolut. Sawah dan
ara-ara
berubah menjadi kolam. Tanaman
membusuk. Hewan ternak mati
kedinginan. Ikan-ikan mengintip
cemas ke permukaan perairan,
berharap setitik cahaya dari
angkasa. Orang-orang bertanya-
tanya, dosa apa yang telah mereka
lakukan hingga Tuhan mengirim
azab semacam itu. Sebagai jawaban,
Tuhan mencipta mendung yang
lebih tebal dan menjatuhkan hujan
lebih deras lagi. 
Ali Arkam mendengkur di
balik selimut tebal. Istrinya
sebal. 
’’Tidak adakah yang bisa
kaulakukan selain tidur dan
mendengkur?’’ perempuan
itu mengibaskan selimut
yang melindungi tubuh Ali
Arkam. 
Di dapur, seekor tikus
dekil menjelajahi lemari
makanan, lalu melompat ke
tempat bumbu, bergerak
gesit menuju meja makan,
lantas memeriksa gentong
beras yang terbuka. Dan sete-
lah yakin segala usahanya
sia-sia belaka, ia berjalan
lesu di lantai. Seekor kuc-
ing kurus mengamatinya.
Mencari waktu yang tepat untuk
menancapkan cakar-cakarnya pada
tubuh bungkring tikus itu.
Kesabaran si kucing membuahkan
hasil tiga belas detik kemudian. 
Ali Arkam berjalan gontai untuk
mencari air minum ketika tikus
malang itu tinggal ekor.
Melampiaskan kekesalan yang diak-
ibatkan oleh gangguan dari istrinya
dan cuaca yang tak kunjung mem-
baik, Ali Arkam menyepak si kuc-
ing. Begitu keras tendangannya
hingga si kucing terpental dan mem-
bentur dinding lembap. Kucing itu
mengeong sebentar, lalu mengejat-
ngejat. Darah kental mengalir dari
mulut dan mata kirinya. 
’’Ada apa?’’ terdengar suara cem-
preng dari kamar tidur. 
’’Kucing terkutuk itu mati,’’ Ali
Arkam menjawab sengau. 
’’Apa maksudmu?’’ perempuan
itu tergopoh-gopoh menyusul ke
dapur. 
’’Jangan marah. Ambil sisi
baiknya. Setidaknya sekarang kita
punya sesuatu untuk mengganjal
perut kita selain air,’’ ujar Ali
Arkam. Air mukanya pias, namun
sesungging senyum tak mampu ia
tahan, sebuah reaksi dari perpaduan
antara perasaan terkejut menyadari
kekejaman yang barusan ia lakukan
dan kegembiraan mendapatkan ide
cemerlang yang tak pernah ia sang-
ka-sangka. 
Dan, itulah yang terjadi. Sisa hari
itu menjelma saat-saat terindah
dalam kehidupan rumah tangga Ali
Arkam selama seminggu terakhir.
Istri Ali Arkam mendapat kesibukan
lain selain mengomel. Tangan-tangan kokinya mendapat bahan
untuk memuaskan hasrat. Dengan
keterampilan tingkat tinggi, ia menguliti kucing itu, memotong-motong
dagingnya, menyimpan tulang belu-
langnya, dan menjilati darah yang
menetes-netes. Kelaparan yang
menyerang perempuan itu berhari-
hari telah mengubah dari orang yang
anyih-anyih
menjadi persona yang
hemat dan cermat memperlakukan
apa pun yang memiliki pontensi
mengenyangkan dan tercerna lambung. 
Ali Arkam tak mampu menahan
tawa menyaksikan darah belepotan
di bibir
perem-
puan yang sudah enam tahun
dia nikahi itu. 
’’Apa yang lucu?’’ perempuan itu
menoleh. Senyumnya mengembang.
Kesadaran sebentar lagi mereka
akan menyantap daging setelah hari-
hari yang sulit menyebabkan
kegalakannya menguap.
Kegembiraan meluap-luap dari
hatinya dan terlihat jelas di air
mukanya. 
’’Kamu, Sayang,’’ ujar Ali
Arkam. ’’Coba bercerminlah.’’ 
’’Ambilkan cermin kecil di
kamar. Tangan-tanganku sedang
sibuk.’’ 
Mereka tertawa bersama ketika
melihat bayangan wajah perempuan
itu di cermin. 
’’Kamu seperti vampir,’’ Ali
Arkam menggoda. 
’’Dan kamu seperti manusia serigala,’’ balas istrinya seraya meraupkan tangan kanan yang belepotan
darah ke muka Ali Arkam. Dan
mereka kembali tertawa, lebih keras
dari sebelumnya. Di luar rumah,
hujan jatuh makin rapat. 
Ketika daging kucing itu sudah
terpotong kecil-kecil, Ali Arkam
menyalakan kompor gas. ’’Anjing,’’
ia memaki begitu menyadari gas
elpijinya habis. ’’Ada uang?’’ ia
bertanya kepada istrinya. 
’’Sudah tidak ada. Kemarin yang
terakhir,’’ istrinya menjawab lesu. 
Sebagai petani sayur, mereka
mendapat uang dua hari sekali dari
hasil penjualan tomat atau cabai.
Sejak sawah tergenang dan tanaman
membusuk, mereka tidak lagi men-
dapatkan penghasilan. Hal itu terasa
makin menyakitkan lantaran
seharusnya pada hari kedua hujan
tak habis-habis ini, mereka memasu-
ki puncak masa produksi cabai
dalam musim tanam tahun ini.
Mereka telah menghabiskan banyak
dana untuk membeli benih dan obat-
obatan. Tabungan musim kemarin
habis terkuras. Dengan pertimbang-
an matang, mereka memilih benih
terbaik yang jauh lebih mahal dari
yang standar. Berharap benih-benih
itu tumbuh sebagai
tanaman yang baik
dan meng-
hasilkan
banyak
buah-
bua-
han, mere-
ka mengan-
gankan keuntungan
berlipat sebagai akibat dari
kenaikan harga menjelang tahun
baru, seperti yang selalu terjadi pada
tahun-tahun sebelumnya. 
Ali Arkam menjelajahi seantero
rumah, mencoba menemukan kayu
sebagai bahan bakar untuk menyate
daging kucing itu. Setelah setengah
jam yang sia-sia, kemarahannya
bangkit. ’’Aku tak mau makan
daging mentah,’’ gumamnya. 
’’Ambil saja satu kursi. Pilih
yang sudah hampir rusak,’’ istrinya
berkata. 
Itu ide cemerlang. Kegembiraan
kembali menguasai pasangan yang
oleh tetangga-tetangganya kerap
diolok-olok
gabuk
lantaran tak kun-
jung memiliki momongan itu. Olok-olokan itu sering membuat mereka
depresi. Beberapa famili men-
yarankan mereka mengadopsi anak
sebagai pancingan. Dengan nada
meyakinkan, mereka menyebut
nama-nama yang berhasil mendapat-
kan momongan setelah mengadopsi
anak sebagai pancingan. 
’’Yu Ginah dua puluh tahun man-
dul. Kau tahu? Kini ia punya si
Jupri setelah sebelumnya ngambil si
Ali, anak mbakyunya.’’ 
’’Pak Supri juga begitu kan?
Istrinya nyaris gila saking stres.
Lalu mereka ngambil Juminten. Dan
lihatlah. Sekarang mereka punya
tiga anak. Dan Bu Supri sudah
hamil lagi.’’ 
Pada waktu itu, kebetulan
kakaknya yang sudah memiliki dua
putra tengah hamil dua bulan.
Setelah perundingan yang berlang-
sung mudah, tercapai kesepakatan
janin itu kelak diadopsi sebagai
anak pancingan oleh Ali Arkam.
Selagi menunggu kelahiran si anak,
Ali Arkam memungut seekor kucing
kampung, sekadar untuk menghibur
diri dari sepi, yang kini dagingnya
akan mereka santap. 
’’Kecap ada?’’ 
’’Ada. Banyak
kayaknya
.’’ 
’’Bumbu-bumbu gule?’’ 
’’Ada juga.’’ 
Mereka memanfaatkan tungku
yang sudah berbulan-bulan mereka
pensiunkan, tepatnya sejak pemerin-
tah membagi-bagikan kompor gas
berikut tabung elpiji tiga kilogram.
Asap mengepul menyesaki dapur.
Ali Arkam membuka jendela dapur,
namun segera menutup setelah air
hujan menampias. 
Mereka tidur lelap setelah
menyantap sate daging kucing dan
bercinta habis-habisan. Tiga jam
kemudian, ketika hari telah gelap,
mereka terbangun bersamaan dan
merasakan perut mereka panas. 
’’Seperti ada yang mencakar-
cakar lambungku,’’ keluh Ali
Arkam. 
’’Aku bahkan seperti mendengar
suara ngeong dari dalam perutku,’’
istrinya menjawab. 
’’Barangkali organ pencernaan
kita kaget. Kita kan sudah lama
tidak makan daging?’’ 
’’Bisa saja.’’ 
’’Atau ini pertanda lambung kita
menginginkan daging kucing lagi.
Sisa-sisa kucing yang kita gule itu.’’ 
’’Yah, mungkin lebih baik bila
kita makan lagi.’’ 
Maka mereka menyantap gule
tulang-belulang kucing, beserta
kepala si kucing. Ali Arkam dengan
rakus mencungkil kedua bola mata
kucing, dan istrinya memilih
menyikat congor beserta lidah si
kucing. Mereka membagi bongkahan otak kucing sama besar. Gigi-gigi mereka mengerikiti belulang,
dan lidah mereka sigap menyedot
sumsum. 
Hawa dingin dan perut kenyang
mendatangkan kantuk begitu tulang
belulang kucing telah licin di piring.
Suami-istri itu tidur bergelung di
kamar, damai dalam siraman cahaya
lampu yang tidak terlalu terang.
Meringkuk seperti dua ekor kucing. 
Ali Arkam bangun lebih dulu
keesokan paginya. Hidungnya terasa
gatal dan ia bersin-bersin. Seperti
ada bulu-bulu yang menggelitiki
lubang hidungnya. Ia terlonjak dari
tempat tidur begitu mendapati di
sampingnya, tengah tidur bergelung,
seekor kucing besar, begitu besar
hingga lebih layak disebut kucing
raksasa. Kucing yang mengenakan
daster seperti yang dipakai istrinya
ketika berangkat tidur malam
sebelumnya. 
Ali Arkam memanggil istrinya
dengan panik, mengira istrinya telah
bangun lebih dulu dan pergi keluar
kamar untuk melakukan sesuatu.
Namun yang keluar dari mulutnya
hanyalah suara meong yang parau.
(44) 

Dadang Ari Murtono
,
lahir dan tinggal di Mojokerto,
Jawa Timur. Buku ceritanya yang
sudah terbit
Wisata Buang Cinta
(2013) dan
Adakah Bagian dari
Cinta yang Belum Pernah
Menyakitimu
(2015). Buku puisinya
Ludruk Kedua
(2016). Saat ini
bekerja penuh waktu sebagai
penulis dan terlibat dalam kelompok
suka jalan.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 5 November 2017