Ali Batu – Tembang Kunang-kunang – Perjalanan Lipan – Tangis Pelangar – Penginang – Bekas Cekungan Sungai

Karya . Dikliping tanggal 17 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Ali Batu

perahu terbelah. lalu ia mengubah pasukan burung jadi batu,
telunjuknya tongkat musa yang senantiasa berubah jadi naga.
mengubah deret benda jadi batu, dalam kesendirian di
rahim tuhan yang menyatu. pernah suatu malam ia tak
mampu memisahkan antara hidup dan mimpi. dijatuhkan
sunyi yang sakti dan petuah menyimpan sebuah paku, palu
dan sebuhul sabuk saje yang diikat di pinggang waktu.
sementara aku membayangkan Ali Batu datang dari sudut
malam bersama sebuhul kata yang pernah ia pendam dalam
kesendirian.

Tembang Kunang-kunang

aku mengantar butir cahaya yang melayang-layang
ke tempat bimbang seraya mencari ranting bergoyang
aku ingin meringkuk di sana, di ujung daun yang rata
mengibaskan sayap ke lekuk malam
siapa tahu sayap kelak berdendang
melantunkan kebebasan tanpa gerlap kawan di belakang
yang menghujam, menekan, dan berbasah riang
mencari rumput paling segar di selangkang akar
sebab itulah, sekarang aku tak butuh bulan:
tubuh telah terbakar melelehkan ujung peristiwa
yang pelan-pelan mengatupkan mata
setelah kibas angin selatan berdansa
lihatlah wajahku memasuki koridor seraya menarikan
malam
dengan tembang-tembang nenek moyang
ingin singgah di ranting terbelah
menyulut cahaya murup di kedua mata yang taksa
cahaya basah dan sayap mendesah.

Perjalanan Lipan

aku tak kuasa atas beban kaki ini
menopang tubuh yang ringan
menginjak amanat tanah
mungkin tuhan merencanakan
hal-hal panjang terlentang pada kasar pundak ini
sebaris kaki pastinya mengikuti langkah terdepan
entah siapa yang menggerakkan?
sejauh ini hari derasnya langkah tak kunjung terhenti
mencari mangsa memasukkan bisa kepada waktu yang
hangat-hangat kuku sambil menjilat tubuh seorang wanita
urban yang melupakan hakikat uban.
perjalanan ini terasa janggal bilamana satu kaki
melawan arah kaki lainnya;
itu sebabnya tubuh makin memipih bersendi-sendi
tak kuat menghadapi hasrat pasukan kaki dan beban tubuh
ini.

Tangis Pelangar

sebuhul atma mengitari tubuh
memisahkan kedatangan dan kepergian
dengan tetes air mata berlinang di pipi pelangar
saat itu suara tak dibutuhkan, hanya dentum
alunan tangis keluarga melenggokkan dada basah pelangar
mengingat kenangan tersusun pada tubuh dan ingatan:
atas nama-nama yang hilang, pigura wajah tergenang
dalam keranda waktu yang terlupakan
dan terpendam di selak iga kuburan
para pelangar melayangkan belasungkawa
membawa senampan gula dan bubuk kopi
ditumpahkan pada keraro
yang dipanggul ke rumah-rumah basah
alunan keluh-kesah memandikan jenazah di tipah lasah

Penginang

bilah buah pinang berselimut sebelah daun sirih
mantra leluhur melayang-layang di mulut penginang
ingin pulang ke arah tenggara membawa muasalnya
yang berpalang urat daun di dadanya
segores kapur sembek dahi sebelum kembali
ke tanah-tanah para penari yang sembunyi
di balik lumbung padi.
seusia main-main, kami belajar melenggokkan pinggang
diam-diam seperti mata wayang
sesekali mengawasi para penyamun mengintip di luar.
belah pinang jelaslah sudah
mengapa pergi dan kembali harus terpisahó
terbilah antara lelah dan siapa kalah
atas bunyi penginang bergoyang-goyang
mendengar mantra dari seberang.

Bekas Cekungan Sungai

di bekas cekungan sungai, ikan-ikan tergelepar
lumut mengering dan batu menggelinding
serupa daun bambu di rambut seorang kekasih
yang pergi dan datang kembali membawa penyesalan
di bekas cekungan sungai, rumput merenung
menyaksikan diri tiba-tiba tumbuh di sana
bersama batu berlumut, tanah-tanah kerontang
dan kerikil yang lupa asal-muasal
sementara air belum kembali ke tempat terberkati
membawa aroma subur ke luas dada lautan
juga kepada ikan, lumut serta licin batu
yang selalu menunggu.
2013
*) Mohamad Baihaqi Alkawy, Lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 09 Mei 1991. Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Mataram. Sekarang bergiat di Komunitas Nafas. Selain puisi juga banyak menulis artikel, tersiar di sejumlah media. Tersimpan dalam Antologi 22 Penyair
NTB, Dari Takhalli sampai Temaram (2012), Lelaki
Purnama dan Wanita Penunggu Taman (2012)
serta Antologi Penyair Nusantara, Indonesia
dalam Titik 13 (2013)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mohamad Baihaqi Alkawy
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 17 Mei 2015