Ambofera

Karya . Dikliping tanggal 6 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

NAMAKU Ambofera. Kata mereka, beratus-ratus tahun yang silam, aku adalah biji. Kecil dan terombang-ambing oleh angin. Hingga diriku terdampar di sebuah hutan lebat. Waktu itu aku tidak tahu di mana hutan ini. Aku hanya bisa menggeliat di tanah yang penuh akar. Gelap dan tanpa ada cahaya. Aku masih ingat bagaimana rasanya di bawah. Sementara pohon-pohon yang lain sudah tumbuh membesar dan menikmati panas matahari. Diam-diam aku memendam rasa iri. Batang mereka besar. Daun mereka lebat. Akar mereka menjubel ke mana-mana.

“AKU harus menjadi mereka,” ucapku dalam hati. Lambat laun, aku berubah menjadi sebatang rapuh yang hanya memiliki satu daun. Kemudian aku menunggu waktu untuk mengubah ukuran tubuh ini. Lebih tinggi sejengkal dan beberapa daun mulai tumbuh.
Sebuah pertanyaan kembali muncul. Sampai kapan aku harus menopang kepada waktu? Waktu itu sangat lambat, sedangkan aku ingin cepat membesar seperti mereka.
Aku pun bertanya kepada pohon besar yang ada di sampingku. “Bagaimana caranya agar bisa sebesar dirimu?”
Tapi dia diam saja. Dia terus mendongak memandangi matahari. Aku tak mau menyerah. Kugelitiki akarnya yang sampai ke tempatku.
“Hei, hentikan, geli!” Dia melihatku. Bayangan daunnya yang jatuh membuat aku tak bisa melihat tampangnya. “Ada apa?” sahutnya kemudian.
“Bagaimana caranya agar menjadi sebesar dirimu?”
“Hah? Kau ingin menjadi sebesar diriku? Hahahaa,” tawanya membahana.
“Kau tidak akan bisa menjadi sepertiku. Waktu aku seumuranmu, ukuran tubuhku tiga kali lebih besar.”
Aku menundukkan kepala. Sifat congkaknya membuatku tak berselera berbicara dengannya.
“Kecil, aku ini dari kalangan besar. Jadi tak perlu usaha untuk menjadi besar. Dan begitulah dirimu. Hahaha. Selamat bermimpi yang tidak jelas.”
Aku hanya diam. Suaranya yang membahana mengundang kedatangan para lebah. Aku tidak tahu kenapa para lebah itu datang. Yang pasti, salah satu dari mereka mendatangiku lalu membisikkan sebuah pertanyaan: “Kau ingin menjadi cepat besar?”
Aku menggoyang-goyangkan daun sebagai jawaban ya.
“Aku tahu caranya.”
“Sungguh? Bagaimana bisa? Kau kan hanya lebah?”
“Aku kan bisa terbang ke mana-mana. Di luar sana, ada banyak pohon yang lebih besar darinya.” Lebah menunjuk si pohon congkak. “Aku pernah berbincang dengan pohon-pohon lain dan mereka membagikan caranya untukku.”
Lebah membisikkan cara-cara itu ke telingaku. Sebagai jawaban, aku menggoyang-goyangkan dedaunanku.
“Sampai jumpa lagi. Akan aku ceritakan kisahmu kepada generasi-generasiku. Aku sungguh salut terhadap keinginanmu ini. Aku akan  menyuruh mereka mengunjungi kamu tiga tahun kemudian. Dan kuharap, saat itu tiba, kau sudah menjadi besar.”
“Kenapa bukan kau sendiri yang mengunjungiku?”
Lebah hanya menggelengkan kepala. “Umur lebah tidak sepanjang pohon. Sampai jumpa.” Dia melambaikan tangan. Lalu terbang bergabung bersama koloninya.
**
DETIK itu juga aku melakukan apa yang dikatakan lebah. Aku berlatih memanjangkan akarku dengan cara menjulur-julurkannya. Rasa sakit terkadang terasa di pangkal akar.
Biasanya kami para pohon membiarkan akar-akar ini memanjang dengan sendirinya. Tapi lebah berkata, “Berusahalah memenjangkannya dengan menjulur-julurkan akarmu. Dia akan cepat panjang.”
Kata si lebah tadi, aku tidak boleh mengarahkan akarku menyamping. Tapi harus ke bawah karena di sana banyak protein yang aku butuhkan untuk memperbesar tubuhku.
Auhhh,” rintihku kesakitan. Merasakan sakit di pangkal akar. Sangat sakit dari sebelumnya. Aku berhenti menjulurkannya. Takut-takut akarku akan terputus.
Pada saat relaksasi seperti ini, aku menghirup karbondioksida sebanyak-banyaknya. Pundi-pundi udara itu aku kumpulkan agar tenaga yang kukeluarkan besar pula. Tak lupa juga aku menggerakkan dahan beserta daun agar lentur dan tidak kaku.
Kala malam tiba, ketika semua pepohonan tertidur, aku berlatih kembali. Akar-akar mulai kujulurkan ke bawah. Lalu air berasa asin menyebar ke seluruh batangku. “Minumlah setiap air yang kutemui. Dengan begitu, batang dan daunmu akan banyak memiliki asupan gizi.” Itulah perkataan lebah yang membuatku meminum air asin ini. Kesal melangkah, aku berhentikan akarku di kubangan air.
Setelah menikmati air berasa getir ini beberapa bulan, akhirnya aku dapat menerobosnya dan menemukan susunan tanah yang terdiri dari banyak kerikil.
Berminggu-minggu aku melewati celah di antara kerikil. Akarku tak hentinya menerobos jalan-jalan yang tidak tahu di mana ujungnya.
Hingga akhirnya aku dan akarku menemukan jalan mulus.  Susunan tanahnya gembur dan mudah dilewati. Tapi berhubung akarku tak bisa tumbuh secepat kilat, aku melewatinya sekitar tujuh hari. Setidaknya aku bisa bernapas lega karena menemukan jalan yang tak sulit.
Lalu aku mencoba menjulurkan akar kembali. Sebuah bongkahan batu bata menghalang jalanku. Aku merasakan akarku menjulur mengelilingi batu itu. Kemudian menemukan air asam. Tak banyak aku meminumnya karena batangku tak bereaksi baik dengan air ini. Aku hanya merendam di sana sebagai istirahat.
**
INILAH masa-masa di mana aku tidak kuat lagi. Hampir saja aku menyerah jika si pohon congkak tak menoleh ke arahku.
“Kecil, sudahlah! Jangan paksakan dirimu! Lihat! Daun-daunmu banyak yang kuning. Mungkin ajal akan segera mendatangimu. Hahahaha. Lebih baik kau nikmati pemandangan saja sebelum kau mati.
Serasa ada bom yang meledak di dalam tubuhku. Tapi, karena ucapannya itu, aku bersemangat untuk menerobos air asam ini. Anehnya, akar-akarku seperti panjang dengan cepat. Dalam waktu tiga hari saja, aku sudah keluar dari lubang neraka berbentuk air asam.
Berbulan-bulan berikutnya aku mulai menemukan jenis-jenis air berbeda dan mulai menyesapnya. Ada berasa tawar hingga berbau anyir. Semua sudah pernah aku nikmati. Tak luput pula, air hujan yang langsung membasahi tubuhku.
Sedikit demi sedikit, aku pun mulai tumbuh cepat. Dari dulu yang tingginya seperdelapan dari pohon congkak, berubah menjadi seperempat. Kemudian tinggiku berubah lagi menjadi setengahnya, sejajar, dan kini sudah menyainginya.
Aku tak pernah berbicara bahwa sekarang sudah lebih tinggi darinya. Aku hanya berdiri kokoh seraya  menikmati panas matahari. Terkadang aku sering meliriknya. Dia hanya menunduk dan tak mau terus mendongak lagi.
Hari ini aku terkejut karena kedatangan tamu seekor lebah. “Hei, apakah kau si pohon kecil?” Aku mengangguk dengan isyarat menggoyang-goyangkan daun. “Wow, alangkah besarnya dirimu. Kau bahkan adalah pohon terbesar di hutan ini.”
Ah, hampir saja lupa. Aku masih belum tahu di hutan mana selama ini tinggal. Segera aku bertanya kepada lebah.
“Kau tinggal di hutan bernama D. Sebuah hutan terlebat di Provinsi Kalimantan,” jawabnya.
“Aih,” aku merintih. Ternyata di bawah sana, di pangkal batang, ada lima orang pria sedang mengarahkan kapaknya ke tubuhku. Mereka terus saja melakukan itu hingga aktivitasnya terhenti karena melihat getah merahku.
Aku tidak tahu mereka bercakap-cakap tentang apa. Suara mereka begitu kecil untuk bisa didengar. Setelah mengelupas sedikit kulit pohon dan emngambil getahku, mereka pergi.
“Apa yang dilakukan manusia itu?”
“Dari kabar kudengar mereka akan menebang pohon-pohon besar untuk industri.”
“Jadi maksudmu aku adalah salah satu dari pohon itu?”
“Aku tidak tahu. Mungkin iya.”
Jika boleh jujur, ada rasa kecewa menyeruak dari dalam hatiku, tetapi bagaimana lagi. Inilah jalan hidupku. Manusia lebih berkuasa dari pohon lemah seperti aku. Kini aku hanya menunggu kedatangan mereka. Batangku akan dipotong. Daunku akan dirontokkan. Dahanku akan dibuang. Akarku akan dibiarkan mengering begitu saja.
Pada suatu pagi, aku terbangun karena gelitikan benda-benda kecil. Setelah melongok ke bawah, di sana sudah banyak orang berkerumun. Mereka mengambil getah merahku dna buah-buahku yang berserakan di tanah. Alangkah senangnya melihat mereka sebahagia itu. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Aku tidak bisa mendengar suara kecil mereka.
“Lebah, bangunlah! Tolong aku. Terbanglah ke bawah dan ceritakan apa yang mereka katakan.” Aku membangunkan lebah yang tidur di salah satu dahanku. Dia adalah lebah yang sama seperti beberapa hari lalu. Aku juga tidak tahu kenapa dia lebih suka bersamaku. Dia tak mau pulang dan ingin menetap di dahanku.
Aku juga tak menolak keinginannya. Setidaknya aku punya teman dan tidak khawatir sendirian. Tidak pula sekhawatir para manusia mendengar ucapanku. Pada kenyataannya, mereka tidak bisa mendengar bahasa kami: tumbuhan dan hewan.
Lebah kembali terbang ke atas. Tak hentinya dia berteriak, “Getah dan buahmu bermanfaat, Kawan. Mereka mengambilnya untuk pengobatan.”
“Benarkah?”
“Iya, malahan aku mendengar mereka tak akan menebangmu. Kata mereka, kau adalah tumbuhan langka. Tadi mereka menamaimu apa begitu, aku tidak ingat.”
“Aku tak peduli dari mana jenisku. Yang terpenting aku bermanfaat untuk mereka. Aku tetaplah Ambofera.”
Kini, hari-hariku lebih berwarna karena manusia-manusia hampir setiap hari mendatangiku. Namun suatu malam, ada hal ganjil yang aku rasakan. Beberapa kelompok manusia datang dengan membawa banyak barang. Mereka menyembahku dan mulai minta ini itu. Dari saat itu, setiap malam, mereka selalu datang lengkap dengan lilin, nasi tumpeng, jajanan pasar, dan lain-lain. Nama-nama barang itu aku ketahui dari si lebah. Dan manusia mengatakan bahwa bawaan mereka bernama sesajen.
“Ambofera, kau kenapa, Kawan?” tanya lebah pada suatu hari.
“Aku tidak suka dengan orang-orang yang mengunjungku setiap malam. Katamu mereka meminta dikabulkannya keinginan mereka apa pun itu. Aku bukan tuhan. Aku hanya pohon yang bisa memberikan getah dan buah. Aku berusaha menjadi besar bukan untuk disembah. Tapi ingin bermanfaat bagi orang lain,” kataku panjang lebar.
“Kawan, aku tahu cara mengusir mereka. Aku akan meminta ular piton untuk tinggal di sini dan menakut-nakuti mereka.”
“Benarkah? Dengan senang hati. Namun, jangan mengganggu para pengumpul getah dan buahku. Cukup usir mereka yang membawa sesajen saja.”
“Bisa diatur itu.” Detik itu juga lebah terbang menemui sahabatnya.
Aku tidak sabar menunggu kedatangan si ular. Besok aku akan terbebas dari para manusia pembawa sesajen itu. ***
Lisma Laurel, kelahiran Pasuruan 5 Mei 1995. Lulusan SMKN 1 Bangil jurusan Multimedia pada tahun 2013. Penulis besar di grup kepenulisan online KOBIMO.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lisma Laurel
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 4 Oktober 2015