Anak-anak Angin – Jika Terlahir sebagai Angin – Angin Kembara

Karya . Dikliping tanggal 28 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Anak-anak Angin

: bocah gimbal

isyarat jatuh dari pucuk pinus
bersama buah-buah kering
dingin digiring menuju perburuan
tanah-tanah tercacah
sementara jiwa semayam
dipendam pupuk kandang
seperti lebat kentang
berjejer di barisan bukit hyang
angin asyik berlari
habiskan waktu
terbangkan bau seledri
bumbui senja sepi
bocah-bocah tak henti
bermain kitiran bambu
berlari susuri tanah terjal
memintal jarak
tawa jatuh di ceruk bukit
bocah larung
dibawa anak-anak angin
jejak imaji, juni 2015

Jika Terlahir sebagai Angin

jika terlahir sebagai angin
di lembah yang dingin
tiup rindu dari sukma
hantarkan pada pengembara
sebelum hujan hapus tawa
yang tertinggal di desa
jika terlahir sebagai angin
gugurkan rindu yang diaduk waktu
kubur pada tumpukan daun di kebun
rumahmu
jika terlahir sebagai angin
buka pintu rumah jiwa
sebelum tuhan pergi
dari mimpi dan pelukmu
jika terlahir sebagai angin
kubawa hati sepanjang musim
dan luruh menjadi abu
jika tubuhku menjadi angin
jejak imaji, mei 2015

Angin Kembara

angin telanjangi senja
bunyi tongkeret berputar di telinga
burung kecil dibiarkannya terbang
melintasi langit retak
bunga-bunga kelapa rontok
sementara angin tak diam
kaleng berkeloneng
sabit belum juga usai
pangkasi rumput di pematang
senja telanjang, tak ada anggun
di sobekan daun pisang
tak ada jingga maupun wanginya
kuncup padi tak tersemai
tubuh gigil kala senja padam
cangkul tengkurap di punggung pematang
sementara emak bapak asyik
besihkan sisa lumpur di tangan dan kaki
senja dimakan angin berlaksa
hidup tak hanya membungkuk
sekalipun liar putik padi tak akan bermilyar
karung-karung kosong atau
berlubang oleh angin lalu
jejak imaji, juni 2015
Ardy Suryantoko, kelahiran Wonosobo 19 Desember 1992 ini berstudi di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan bergiat di komunitas belajar sastra Jejak Imaji Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ardy Suryantoko
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 28 Juni 2015