Anak Mercusuar

Karya . Dikliping tanggal 1 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Ayahku sebuah mercusuar di dekat dermaga. Mercusuar tua bertubuh jangkung, berkemeja putih, dan bertopi coklat tahi karat.

Ketika malam sorot matanya masih bekerja dengan baik, menyala dan menelanjangi semesta pantai, kapal-kapal yang berayun di tepi dermaga, para nelayan berkalung sarung yang sibuk membetulkan mesin, sepasang kekasih yang duduk saling merapat di sebuah bangku panjang, seekor kepiting yang kehilangan ibunya — yang merangkak gegas meninggalkan garis-garis tipis di atas pasir.

Ayahku sebuah mercusuar di dekat dermaga. Kakinya tak pernah mengenakan alas. Hanya menapak bebas di atas batuan cadas. Anak-anak kepiting dan binatang-binatang kecil tanpa nama selalu suka bersembunyi di bawah kakinya. Menggelitikinya sepanjang waktu. Namun ayah tak pernah tertawa, alih-alih beranjak dari tempatnya. Karena ayah adalah sebuah mercusuar.

Dan sebuah mercusuar harus menyepakati dua sumpah, yang pertama ia harus teguh berdiri di tempat yang ditentukan, dan kedua ia tak boleh memejamkan mata di waktu malam. Dan ayahku tak pernah menyalahi sumpah. Ia akan tetap menjadi sebuah mercusuar, bahkan setelah cinta pertama menemukannya.

Ayahku adalah sebuah mercusuar di dekat dermaga. Ayah dan ibu bertemu pada sebuah malam yang penuh garam. Ibu tengah sekarat terombang-ambing ombak di atas sebuah sekoci ketika sorot mata ayah menemukannya. Sepasang mata itu bertemu. Mata ayah menatap mata ibu, dan mata ibu menangkap sorot mata ayah. Dan sorot mata ayah yang berkedip-kedip itulah yang kemudian menyelamatkan ibu dari rengkuhan malam dan udara dingin penuh garam.

Ayahku sebuah mercusuar di dekat dermaga. Ibuku yang menceritakan semuanya.

Suatu malam, segerombolan orang menuntun ibu dari lepas pantai sebuah dusun–dan membawa ibu bertamasya ke tengah laut dengan sebuah kapal pencari ikan berukuran besar. Ibu mengingat nama dusun itu dan juga orang-orang itu, namun ibu sudah berjanji tak hendak lagi menyebut nama-nama itu. Ibu hanya akan menyebutnya sebagai segerombolan hantu dalam kapal hantu. Sebab, sesampainya di tengah laut, orang-orang itu memang berubah menjadi hantu yang menyekap ibu.

Waktu itu, ibu tengah hamil muda. Dan hantu-hantu itu menghendaki diriku –yang ketika itu masih begitu mungil dan enggan terbangun dari tidur lelap di perut ibu. Kata ibu, hantu-hantu itu memaksa ibu membangunkanku secara paksa. Ibu tak mau melakukan itu. Karena itu akan sangat menyakitiku–dan menyakiti diri ibu sendiri.

Karena ibu tak mau menuruti kata-kata mereka, hantu-hantu itu pun marah besar dan ingin menghukum ibu dengan melempar ibu ke laut. Sebab, barangkali ibu akan berubah menjadi ikan duyung setelah terjun ke dalam air.

Segerombolan hantu itu bersorak,bahwa ibu akan lebih baik menjadi ikan duyung daripada menjadi manusia. Namun, sesosok hantu lelaki yang sangat ibu benci–ibu selalu menangis ketika sampai pada bagian ini–mencegah hantu-hantu lain yang telah bersiap melempar tubuh ibu ke dalam air.

Segerombolan hantu itu kemudian berdebat, namun sepertinya sosok hantu lelaki yang sangat ibu benci itu adalah ketua dari para hantu, maka hantu-hantu lain pun menuruti perintahnya. Hantu lelaki itu menyuruh hantu-hantu lain untuk mengangkat tubuh ibu dan memasukkannya ke dalam sebuah sekoci. Lantas sekoci itu dilepaskan perlahan ke tengah laut.

Kata ibu, hantu lelaki itu tak sampai hati melihat ibu menjadi ikan duyung di depan matanya, tapi barangkali ia akan sampai hati kalau beberapa saat kemudian sekoci kecil itu terguling dan tubuh ibu ditemukan oleh seekor hiu yang lapar. Intinya, hantu lelaki itu tak ingin melihat ibu menghilang begitu saja di depan matanya, ia hanya ingin melihat ibu pergi perlahan. Menghilang begitu saja dan pergi perlahan mungkin berbeda.

Malam itu ibu meraung-raung seperti orang gila dalam sebuah sekoci. Memohon-mohon agar ia tidak ditinggalkan seorang diri di tengah lautan lepas penuh garam dengan udara dingin menggigit, dan hanya dengan sebuah sekoci. Sekoci yang begitu kecil, seperti sebuah peti mati, kata ibu.

Ibu terombang-ambing penuh kepasrahan dalam sekoci itu selama satu hari satu malam. Berusaha menyelami kata-kata laut. Berusaha memahami bisik-bisik angin. Dan menyimak baik-baik, percik-percik yang disampaikan langit.

Dan apa yang dilakukan ibu dalam sekoci mirip peti mati itu selama sehari semalam?

Menangis. Hanya menangis sampai air matanya menjadi garam. Sampai ludahnya menjadi garam. Sampai rambutnya menjadi garam. Dan kulitnya bersisik-sisik penuh serbuk daki, benar-benar seperti ikan dilumuri garam.

Dengan tenggorokan sepat bagai tercekik, ibu berbaring pasrah dalam sekoci yang barangkali akan benar-benar menjadi peti matinya. Ibu tak lagi memikirkan kemana sekoci tanpa layar itu pergi disetir angin, atau di manakah sekoci rapuh itu nantinya akan terjungkal memuntahkan tubuh ibu yang sekarat. Ibu hanya menelentang menghadap langit dan telah siap menjadi ikan apa pun, entah ikan duyung, entah ikan kembung, entah ikan julung… Sebab, detik itu ibu merasa dirinya telah hampir menjadi ikan asin yang puas dijemur udara dingin

Beruntunglah malam itu laut berkata lain, langit berujar lain. Malam itu mata ayah menemukan ibu, menangkap sekoci ibu, hingga kemudian segerombolan orang menyelamatkannya. Malam itu, tubuh ibu yang lunglai dibawa ke lepas pantai, dan di ambang kesadaran yang pasang-surut, ibu melihat ayah berdiri tegap, gagah, berkemeja putih, dengan sorot mata yang setia dan kelewat tajam mencincang kegelapan.

Hari-hari berikutnya, ibu tak pernah bisa jauh dari ayah. Ia jatuh hati pada ayah sejak pandangan pertama pada malam penuh garam itu. Selanjutnya, ibu tinggal dan tidur di mana saja, di sekitar dermaga. Orang-orang menyebut ibu sebagai gelandangan gila yang hamil tua di dermaga. Namun ibu tak pernah menggubris, kata ibu hanya ayah yang paham mengapa ibu melakukan itu.

Ibu rela makan dan tidur di mana saja: di bawah pohon ketapang yang berjajar di sepanjang pantai, atau di bangku beton penuh coretan yang menatap ke laut lepas, bahkan ibu rela tidur di hamparan pasir, asalkan setiap hari ia bisa melihat tubuh ayah yang gagah serta menatap sorot matanya yang jeli ketika langit mulai gulita.

Pada hari ketika aku terbangun dari perut ibu, ibu pergi tergopoh-gopoh menuju kaki ayah. Ibu ingin aku terbangun di bawah naungan ayah. Menatap wajah ayah saat tiba di muka bumi untuk pertama kali. Malam itu, orang-orang begitu gaduh. Berseru satu sama lain. Gelandangan yang hamil tua itu melahirkan di bawah menara… Gelandangan yang hamil tua itu melahirkan di bawah menara…

Dan hari itu ibu sangat bahagia. Hanya bahagia. Dan rupanya, orang-orang baik di muka bumi ini masih cukup banyak. Semenjak hari itu, ibu tinggal di sebuah rumah mungil milik orang baik di dusun tepi dermaga. Di seberang kios pelelangan ikan. Ibu tak perlu membayar uang sewa. Ibu hanya butuh merawat rumah mungil itu dengan baik.

“Segerombolan hantu membuang ibumu di laut lepas, dan ayahmu serta segerombolan orang baik menemukan ibumu di sini, atau ibumu yang menemukan mereka,” ibu terkekeh.

Maka, sampai detik ini, ketika aku bertanya di mana ayah, ibu akan membawaku ke tepi dermaga, di sepanjang jalan, mulut ibu akan bercerita. Sedang sepasang matanya yang menyala, menyorot tajam ke depan.

“Ayahmu adalah sebuah mercusuar di dekat dermaga. Mercusuar tinggi berkemeja putih dan bertopi coklat tahi karat. Ketika malam, sorot matanya masih bekerja dengan baik, menyala dan menerangi seluruh pantai. Kaki ayahmu tak pernah mengenakan alas. Hanya menapak bebas di atas batuan cadas Anak-anak kepiting dan binatang-binatang kecil yang tak kutahu namanya suka bersembunyi di bawah kakinya. Menggelitikinya sepanjang waktu. Dan ayahmu tak pernah tertawa, atau beranjak dari tempatnya…”

Karena ayah adalah sebuah mercusuar. Dan sebuah mercusuar harus menyepakati dua sumpah, yang pertama ia harus teguh berdiri di tempat yang ditentukan, dan kedua ia tak boleh memejamkan mata di waktu malam. Dan ayah tak pernah menyalahi sumpah. Ia akan tetap menjadi sebuah mercusuar. Juga menjadi ayah. Sampai kapan pun.

Jadi begitulah! Kalau ada yang bertanya padaku, siapa ayahku, akan kujawab: ayahku adalah sebuah mercusuar di dekat dermaga. Ibuku yang menceritakan semuanya. ***

Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di beberapa media. Buku kumpulan cerpen terbarunya, Dongeng Pendek Tentang Kota-kota dalam Kepala, 2017. Kini bermukim di Malang.

Deka Dermawan, punya nama lengkap Anissa Dermawan Kunaefi, lahir di Bandung 1994. Menyelesaikan kuliah S-1 di Program Studi Seni Rupa Studio Dwimatra Seni Lukis Institut Teknologi Bandung (ITB). Kini bekerja sebagai pengajar yunior di kursus Gambar Villa Merah Bandung.


[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 31 Maret 2019