Anak Siwalan

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina
Kulitku cokelat kayu secang, berlapis peluh dengan rambut lurus jerami, kaki selalu telanjang enam senti. Di atasnya dapat kau lihat bentuk betisku yang mirip betis sapi karapan. Sebagai anak desa, tiap sore aku dan teman-teman terbiasa bermain di ladang sambil menghidu harum garam yang dikirim angin dari bibir pantai. Di kanan kiri ladang beberapa pohon siwalan mengacungkan pupusnya ke langit. Menjelang senja sekawanan merpati milik warga melintas-lintas sesekali menukik dan melesat menuju sebuah bubungan dengan siul sundari yang meneluh tumpukan kayu kering di pinggir ladang. Kala itu biasanya Ayah datang dengan pikulan yang pada kedua ujungnya bergantung timba yang terbuat dari daun siwalan. Di tangannya terdapat selingkar salampar dari pelepah siwalan. 
Seperti biasa, Ayah hanya mengenakan celana pendek dan ikat kepala tanpa mengenakan baju, sedang di sabuknya terselip pangerat , tepat berjajar dengan tambut  kayu berisi laru. Kadangkala Ayah juga membawa bajut  sebagai pembungkus timba selama menadah lahang agar tidak diganggu oleh serangga. Tak lupa ia juga membawa cairan insektisida yang diikat satu tali dengan tambut. Ayah sudah siap memanjat pohon siwalan untuk mengambil lahang. Aku dan teman-teman sering melihat Ayah dari dekat pohon siwalan, melihat kelihaian sepasang kaki Ayah melewati takik pohon yang mengilat licin. Lebih dari itu, aku penasaran ingin melihat cara ngaremo mayang agar keluar lahang. Sepintas aku tahu sedikit tentang cara mengambil lahang, pada mulanya Ayah mengapit julur mayang dengan sepasang kayu lengkung yang pada ujungnya diikat jadi satu. Kemudian mayang itu ia abaikan selama satu minggu, setelah itu ujung mayang dikerat dan keluarlah lahang yang jernih, menetes menimbulkan bunyi lirih ke dasar timba. Aku  makin penasaran untuk tahu lebih banyak tentang cara merawat mayang agar keluar lahang, sehingga aku sering mengintip Ayah dari bawah pohon siwalan.   Bahkan, sampai aku duduk di bangku SMP pun, rutinitas itu tetap aku lakukan.
Malam hari sehabis dari surau aku sering meminta Ayah untuk bercerita tentang cara mengapit mayang agar bisa mengeluarkan lahang yang banyak. Ayah tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum. “Kamu tidak usah berpikir itu, Nak, cukup kamu rajin belajar, nanti setelah pintar kamu pasti tahu sendiri,” kata Ayah padaku, suatu malam. Aku lantas bertanya hal lain kepada Ayah, “Apa di sekolah nanti saya diajari itu, Yah?” Ayah hanya tersenyum dan setengah mengangguk.
Sejak itu aku tidak bertanya lagi kepada Ayah, aku hanya menunggu dengan sabar kapan pelajaranku membahas lahang. Aku tak peduli pelajaran apa, yang penting suatu saat aku diajari cara mengambil lahang. Sebab, meski perempuan, aku selalu tak lupa untuk melihat kulitku yang cokelat secang dengan rambut lurus jerami, sebagai anak petani yang suatu saat harus meneruskan gerak kaki Ayah memanjat takik siwalan yang mengilap itu.
Sambil lalu menunggu mata pelajaran tentang lahang aku mencoba keluar masuk perpustakaan sekolah untuk mencari dan membaca buku-buku tentang siwalan dan lahang, atau setidaknya buku yang mengupas masalah mata pencaharian orang desa, meski bukan lahang. Ya, aku berhasil menemukannya, tapi buku yang kudapat tidak membahas lahang, hanya membahas ilmu pertanian secara umum, itu pun jumlah judul bukunya sangat sedikit, terletak di rak paling bawah bersisian dengan buku-buku klasik yang warnanya mulai pudar, tepat berada di bawah rak buku-buku ilmiah lain yang ngejreng berada di atas. Sepintas mataku kadang melihat sepucuk mayang sedang mengering di baris tulisan buku-buku di perpustakaan itu. Aku mengernyitkan dahi sambil teringat perkataan Ayah, “Nanti setelah pintar, kamu akan tahu sendiri.”
Menunggu mata pelajaran membahas lahang tak ubahnya menunggu lahang memercik dari tanah kerontang, setengah mustahil. Aku memang sengaja tidak bertanya mengenai itu oleh sebab  tiap mata pelajaranku pembahasannya tak pernah mendekati masalah-masalah pertanian.  Sampai aku lulus SMP dan duduk di bangku SMA, mata pelajaran yang kutemui adalah materi yang justru mencetak pikiranku untuk menjauh dari ladang siwalan. Entahlah, siapa yang merumuskan kurikulum pelajaran yang ada di sekolahku, liuk paragraf pada  tiap lembar buku pelajaran mirip jemari gadis yang menunjukkanku ke arah pintu-pintu pabrik. Kulitku yang cokelat secang dan rambut yang lurus jerami rasanya lebih berharga jika memakai dasi dan sepatu. Aku  mulai sedikit ada rasa gengsi untuk berpikir masalah lahang.
Sore cerah bulan Agustus merentang dengan puluhan awan kapas yang berlayar tanpa dayung, bias sinar matahari seperti hamparan sutra jingga menyentuh daun-daun siwalan. Kali ini aku mencoba kembali datang ke ladang setelah hampir dua tahun sejak kelas IX tidak pernah mendatanginya. Bunyi halus sundari melengking dari punggung puluhan merpati yang melesat-lesat di atas pucuk siwalan. Kali ini aku mendatangi ladang tidak bertelanjang kaki seperti dulu. Sandal adalah sekat pembatas yang dibuat oleh pikiranku agar kulit tak bersekutu lagi dengan tanah desa. Kulitku yang cokelat kayu secang sudah mulai sering kututupi dengan baju produk mewah sebagai titik awal kelak aku memakai dasi. Begitu pula dengan rambutku, si lurus jerami kadang kusampirkan bando agar lebih rapi. “Hmm, aku ingin bekerja di kota,” pikirku. 
Tiba-tiba saja terdengar suara kaki menginjak daun siwalan dengan tempo yang lambat dan sangat halus, meski tanpa menoleh aku bisa menebak kalau itu adalah Ayah yang sudah siap menadah lahang. Seiring usiaku yang  makin dewasa, ia tidak banyak berbicara kepadaku, kecuali ada hal-hal yang memang pantas dibicarakan. Seperti sore ini, ia hanya lewat di sebelahku. Menuju barisan pohon siwalan dan  mulai memanjat. Samar-samar mulai terdengar suara lirih gesekan salampar pada pohon siwalan membelah desau angin. Sekejap kemudian aku menghidu harum laru yang ditebar Ayah ke lubuk timba. Aku mendengar gluduk timba Ayah menggesek pelepah daun siwalan. Sesekali Ayah juga berkidung berselisih dengan lengking bunyi sundari dari punggung merpati yang menjajaki langit pedusunan. Aku memetik kedamaian, suara dusun sedikit mulai menggoda kembali isi kepalaku yang membatu.
Keesokan harinya aku kembali ke ladang. Kali ini aku tidak memakai sandal seperti dulu, pikiranku mulai lunak lagi untuk menjadi anak siwalan. Hanya saja teman-teman sebayaku: Madrusin, Atnawi, Subarna dan Mastoyu yang dulu rajin melukis telapak kakinya di ladang, kini telah menjauh dan seperti tak mau berteman lagi dengan pohon siwalan. Terakhir yang kuingat Madrusin berkata kepadaku, “Aku sekarang sudah kuliah, jadi tidak cocok kalau aku masih belajar tentang menadah lahang dari siwalan. Malu kalau sarjana tidak kerja di kantor atau di pabrik.” Begitulah jawaban Madrusin ketika suatu waktu kuajak dia pergi ke ladang. 
Aku hanya mengangguk, ternyata pikirannya sama dengan pikiranku beberapa bulan yang lalu. Aku tak bisa menyalahkan pikiran Madrusin dan pikiranku, sebab kenyataannya si Atnawi sepulang kuliah memang hanya jadi pengangguran karena tak punya peluang bekerja di kantor. Mungkin saja dia lebih memilih jadi pengangguran daripada bertani atau menjadi pengusaha gula, mungkin dia gengsi kalau lepas kuliah kerjanya masih di desa. Aku hanya berkesimpulan bahwa kurikulum yang ada cenderung mengasingkan orang desa dari lingkungannya, Atnawi adalah contoh kecilnya.
“Kalau aku jadi Madrusin atau jadi Atnawi, lalu bagaimana dengan desa ini? Siapa yang akan melanjutkan pekerjaan orang tua untuk mengolah sumber daya yang ada di desa? Maka aku harus memutar balik pikiran Atnawi, daripada aku jadi pengangguran, lebih baik aku meniru Ayah jadi penadah lahang. Aku pikir itu bagian dari upaya mengolah sumber daya desa.”
Pikiran lunakku untuk menjadi anak siwalan ternyata tetap bulat. Bulatnya pikiran kubuktikan dengan nyata setelah aku kuliah. Pada semester dua, aku mulai belajar menadah lahang, tanpa rasa gengsi hanya semata dengan niat melanjutkan pekerjaan para tetua demi iktikad membangun desa. Kuselip pangerat pada ikat pinggang seumpama pena, tambut kayu adalah tas kecil kuikat berjajar di samping pangerat. Timba dari daun siwalan seperti tas besar yang mesti harus kubawa kuliah. Di ladang yang bersitatap dengan awan tipis, ketika lengking sundari mengawini senja. Kulihat rimbun daun siwalan menjulur sanggul mayang, mirip buku yang harus selalu aku baca. Ya, aku beradu pandang dengan pohon siwalan, ia seperti sesuatu yang juga menjadi bagian dari aktivitas kuliahku. Sesaat setelah beberapa merpati menamatkan bunyi sundarinya di atas bubungan, dosenku datang, dialah Ayahku yang akan mengajari kurikulum baru kepadaku. Kurikulum yang tidak mengasingkan anak-anak desa dari lingkungannya. 
Maka, tak ayal  tiap senja dan pagi hari kini aku harus menapak ladang. Tekun menyapa desa dengan bahasa pohon siwalan, semanis lahang menggertak laru dan aku tetap kuliah karena aku harus jadi anak siwalan masa kini yang hidup disebut petani, tapi punya kecerdasan yang mumpuni.
Bukan karena kulitku cokelat kayu secang dan rambutku lurus jerami lantas aku merasa cocok jadi anak siwalan. Tapi, apa yang kupilih adalah upaya banting setir terhadap fakta yang ada bahwa seorang sarjana harus bisa mengolah desa kelahirannya, bukan justru meninggalkannya. Setelah wisuda aku  makin jadi anak siwalan. Kali ini aku mulai turun lapangan, jadi pengusaha gula,  terutama ketika musim kemarau tiba. Sebab, di musim itu gula melimpah, karena gula melimpah biasanya dibeli dengan harga murah oleh rentenir yang kemudian dijual dengan harga tinggi ketika musim hujan tiba. Sebagai anak siwalan yang berpendidikan, aku turun tangan membeli gula rakyat di atas harga pembelian rentenir. Tujuanku cuma satu: untuk menyelamatkan masyarakat dari pemerasan, sebab aku merasakan sendiri bagaimana getirnya jadi penadah lahang. 
Ya, kulitku cokelat kayu secang, berlapis peluh dengan rambut lurus jerami. Sedang kakiku yang dulu selalu telanjang datang ke ladang kini tanpa disengaja memakai sepatu juga. Pada suatu hari aku diundang jadi pembicara di ibu kota dalam seminar nasional tentang potensi produk lokal, maka di depan ribuan audiensi kuceritakan kepada mereka tentang pucuk ranau pohon siwalan, khidmat bersanggul mayang juga kecit manis lahang dan gulanya. Ia umpama ibu dengan segala manisnya dan aku adalah anaknya.(f)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya A.Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”