Anjing Mati

Karya . Dikliping tanggal 28 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

PUNGGUNGNYA melengkung ketika ia duduk dengan menekuk lututnya. Di hadapannya ada tatakan dari semen, nyaris penuh dengan cacahan kangkung. Di sekitar tempatnya duduk juga bertumpuk kangkung. Sebagian besar sudah tua, bahkan hampir membusuk. Aromanya menguar di udara bercampur aroma-aroma lain. Sesekali dia menahan napas, tapi tangannya tidak berhenti bergerak: mengambil kangkung, mencacahnya lalu mengumpulkannya di baskom.

Seorang perempuan gemuk mengenakan daster bermotif kembang-kembang keluar dari dalam rumah. Perempuan itu berdiri sesaat, meletakkan kedua tangannya di pinggang. Tekanan kedua tangan itu membuat dasternya berkerut dan tampaklah bentuk pinggang yang penuh lemak. Ia menguap menatap punggung lelaki yang sedang mencacah kangkung, lalu katanya, “Habis ini, buang bangkai anjing di depan itu ya. Sebelum busuk. Dari tadi malam ndak ada yang mau urus.”

Lelaki itu berhenti mencacah. Dia menoleh dan bertanya, “Anjing siapa itu?”

Ndak ada yang punya. Anjing kampung. Barangkali ada yang nabrak. Kenapa? Kamu ndak mau mengurusnya?”

“Mau,” lelaki itu kembali mencacah kangkung, “tapi kalau ada yang punya, biar dia yang urus. Tinggal kita kabari saja.”

“Bilang saja kamu malas,” kata perempuan itu seraya bergerak mendekat. Ia berdirri di belakang sehingga luttunya nyaris menyentuh punggung lelaki itu. Matanya menatap kangkung yang terus dicacah, katanya, “Bagus juga kangkungnya.” Si lelaki menahan senyumnya, “Bukan malas. Di Kalimantan tiap hari saya angkut kayu-kayu besar, masak mengurus anjing mati saja saja malas?”

“Tapi kamu diupah untuk angkut kayu-kayu itu.”

“Terus saya tidak diupah untuk urus anjing mati itu?”

“Ya ndak lah. Kamu saya upah untuk urus kangkung, kasih makan babi.”

Lelaki itu diam sesaat, lalu katanya, “Berarti…”

“Aaah,” gerutu perempuan itu. Ia menyentuh pundak si lelaki. Tangannya berhenti di sana. “Tenang aja, nanti saya urus anjing itu, selesai ini,” ucap si lelaki, kepalanya menoleh sedikit dan matanya melirik jari perempuan yang melampau batas pundaknya.

Mendengar perkataan itu, si perempuan mendorong sedikit pundak yang disentuhnya tadi hingga terdorong ke depan. Si lelaki tertawa kecil. Lalu suara sandal si perempuan terdengar menjauh. Si lelaki menoleh. Dilihatnya kaki perempuan itu sampai separo betisnya yang tidak tertutup daster, ada gurat-gurat varises kebiruan. Si lelaki mempertahankan senyum sisa tawa kecilnya tadi, lalu dia mulai bernyanyi lirih.

Setelah semua kangkung habis dicacah, dia mengangkut baskom-baskom, menyalakan api di tungku besar dalam bangunan kecil yang terpisah dari rumah utama, lalu menjerang air. Sembari menunggu air mendidih, dia membersihkan tangannya, mengupas lengketan sisa kangkung di telapak dan mencongkel lumpur di sela kukunya dengan sebatang lidi kecil. “Auh, sial!” serunya ketika lidi menusuk daging kukunya. Dia menekan luka itu, setitik darah menyembul, lelaki itu meringis. Dia memasukkan jarinya ke mulut, mengisapnya pelan-pelan, mengeluarkannya lagi, lalu memasukkannya lagi berkali-kali.

Desis air mendidih terdengar mendesak-desak tutup panci besar. Ketika tutup dibuka, hawa panas memenuhi udara. Ruangan kecil itu penuh jelaga kusam. Si lelaki memasukkan cacahan kangkung ke air mendidih. Matanya memicing karena hawa panas. Lalu setelah rampung, dia keluar dan memeriksa tubuhnya. Tangannya menggosok-gosok bagian dada dan perut, seakan bagian itu juga dipenuhi jelaga. Dia menunggu beberapa saat, lalu masuk lagi, memeriksa kangkung, membolak-baliknya di air yang bergolak. Setelah dirasa cukup, dia mengangkat panci dari tungku dan membawanya keluar. Otot-otot tangannya meegang ketika mengangkat panci. Tak menunggu lama, dia mengeluarkan kangkung dari panci, menaruhnya di baskom. Asap mengepul dari batang-batang kangkung yang telah layu. Air sisa rebusan berwarna hijau-keruh mengombak sebentar sebelum tenang. Dia menunggu lagi, duduk di dekat baskom-baskom, memeriksa kukunya; sudah tidak ada darah.

Perempuan tadi muncul dari arah lorong samping rumah yang menuju ke luar. Ia membawa cangkul, meletakkannya dalam posisi berdiri, lalu membongkar beberapa kardus. “Nanti saya yang urus, Nyonya. Selesai ini,” kata si lelaki. Perempuan itu menjawab, “Ada lihat sarung tangan?”

“Untuk apa?” tanya si lelaki. “Buat angkat anjing itu, dagingnya sudah lembek, takut saya kena penyakit,” jawab si perempuan. “Ee, sudah tua juga masih takut.” Si lelaki tertawa kecil. Perempuan itu tidak menjawab. Ia terus mencari sarung tangan di antara tumpukan barang. “Kemarin kamu pinjam teleon buat hubungi siapa?” tanyanya. “Ibu saya di kampung,” jawab si lelaki, “saya mau ngasih tahu kalau saya sudah tidak di Kalimantan.”

Si lelaki memperhatikan kesibukan perempuan itu. Kerah dasternya turun ketika ia menunduk. Si lelaki melihat bagian gelap di bawah kerah, tapi tak bisa melihat apa-apa di bagian gelap itu. “O, ibumu ndak tahu kamu di sini?”

“Sudah saya kasih tahu,” kata si lelaki.

“Terus apa katanya?”

“Dia suruh saya cepat pulang.”

“Kenapa? Dia marah?”

“Mungkin dia takut saya kepincut gadis di sini, terus pindah agama hahaha.”

“Nah, ini dia,” kata perempuan itu demi melihat sarung tangan yang dicarinya. Dipasangnya sarung tangan itu, lalu dikembalikannya barang-barang yang sudah dikeluarkan ke tempat semula. Ketika hendak meluruskan tubuh, ia tampak sedikit kesulitan. Ia raih kembali cangkul tadi. Ketika hendak beranjak keluar, ia menoleh ke si lelaki dan berkata, “Sudah dingin.” Si lelaki melihat kangkung dalam baskom tak lagi mengepulkan asap. Dia segera berdiri, mengangkat baskom-baskom itu ke kandang. Demi mendengar seseorang mendekat, babi-babi dalam kandang jadi ribut dan mendesak ke dinding kandang. Pada tiap kandang, si lelaki melempar satu baskom kangkung dan sepasang babi di tiap kandang segera melahapnya dengan rakus.

Sinar matahari sudah mulai menyengat ketika si lelaki selesai dengan pekerjaannya. Aroma kangkung rebus bercampur aroma dari kandang babi memenuhi penciumannya. Segera dia bergegas ke kamar mandi, kulitnya berkilat oleh hawa panas dan keringat. Di kamar mandi dia melihat bajuya tersampir di gantungan, lalu dia bergumam, “Ah, saya kan mau bantu ngurus anjing mati. Nanti saja mandinya sekalian.”

Saat bergerak keluar, bagian pinggang celananya tersangkut di seng pelapis pintu. Karena celananya tesangkut, gerakannya tertahan dan badannya tertarik ke pinggir pintu, pinggangnya tergores ujung seng yang mencuat keluar. “Auh, sial!” serunya. Mula-mula hanya rasa perihnya, kemudian selintang luka tampak oleh darah yang menandainya.

Dia berdiri sebentar di ambang pintu memeriksa lukanya. Dia masukkan ujung jari telunjuk ke mulut, mencari langit-langit mulut yang paling dalam. Getah liur menempel di ujung jari itu, lantas dioleskannya ke luka. Dia merasakan sejuk karena getah itu mengurangi rasa perih. Tanpa memakai baju dia melangkah keluar. Saat di pangkal-dalam lorong samping rumah yang menuju ke luar, dia melihat perempuan itu sedang mencangkul. Ia mengenakan masker Dasternya berombak seperti terkena angin seturut ia mengayunkan cangkulnya.

“Biar saya yang urus, Nyonya. Sudah saya kasih makan babi.” Lelaki itu menjulurkan tangan hendak mengambil cangkul dari tangan perempuan itu. Lubang yang digali tadi masih belum seberapa, perempuan itu sudah ngos-ngosan. Ia menyerahkan cangkul ke si lelaki. Anjing mati itu tergeletak miring menghadap jalan. Seperti tidak mati, tapi sedang tidur. Hanya kaki depan kanannya yang mencuat kaku, lidahnya yang sedikit terjulur, dan tetesan darah di tanah di bawah lidah itu yang memberi kesan bahwa anjing itu tidak sedang tidur. Jalanan sepi, sesekali saja kendaraan melintas. Seseorang berjalan ke arah mereka, tetapi pada jarak tertentu ia berhenti lalu menyeberang jalan seperti menghindar dari anjing mati dan orang-orang yang mengurusnya.

“Ini bukan kerjaan berat. Di Kalimantan tiap hari saya angkut kayu-kayu besar,” ucap si lelaki. Si perempuan yang terduduk dan merapikan napasnya melihat lelaki itu bekerja, cepat sekali lubang galian bertambah dalam. “Kapan kamu mau pulang kampung?” ucapnya. “Kalau uang saya sudah cukup. Saya mau beli oleh-oleh biar ada rupanya saya pergi jauh-jauh merantau cari kerja,” kata si lelaki sambil terus mencangkul.

Samar aroma bangkai mulai tertangkap penciumannya. Si perempuan diam, memperhatikan tubuh lelaki itu, memperhatikan tulang punggungnya sedikit mencuat dan kilat kulit karena keringat. “Anak-anak tidak pernah pulang, Nyonya?” tanya si lelaki. “Ndak pernah. Itu sudah sejak bapaknya meninggal, mereka jarang datang.”

“Yang paling besar umur berapa?”

“Kira-kira kayak kamu. Berapa sih umurmu?”

“Dua puluh tiga.”

“Oh, itu sama kayak anak saya yang nomor dua. Tapi dia sudah punya anak.”

“Cukup ya?” tanya si lelaki sembari menunjuk, dengan mata, lubang yang digalinya.

“Kayaknya cukup,” kata si perempuan setelah berdiri di dekat si lelaki. Mereka hampir sama tingginya. Siapa pun bisa melihat, kulit putih perempuan itu kontras dengan kulit cokelat-matang si lelaki, meski kulit yang putih itu tidak sekencang kulit yang cokelat-matang. “Pakai ini,” kata si perempuan menyerahkan sarung tangan. Dengan hati-hati lelaki itu mengangkat anjing mati, bau busuk menyengat hidungnya karena jarak yang dekat. “Saya lupa pakai masker,” ujarnya sambil menahan napas. Perempuan itu tetawa renyah. Ketika anjing mati itu sudah mendekam di lubang, si perempuan membantu memenuhi kembali lubang itu dengan tanah galian.

“Kenapa ndak cari jodoh di sini saja? Di sini gampang cari kerja, ndak perlu angkut kayu-kayu besar,” kata si perempuan sambil terus menimbun lubang.

“Sudah saya bilang tadi, ibu saya takut saya akan pindah agama,” jawab si lelaki. Lalu beberapa saat kemudian, “Nah, selesai.” Dia memadatkan tanah dengan bagian bawah cangkul, sementara si perempuan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya untuk menghilangkan debu.

“Habis ini ke dalam ya, ada yang mau saya suruh lagi,” kata si perempuan.

“Apa?” Si lelaki menoleh.

“Tenang saja, saya ndak suruh kamu pindah agama,” ujar si perempuan. “Suruh apa lagi, Nyonya. Kerjaan saya sudah selesai.” Perempuan itu tidak menjawab. Ia membuat gerakan seolah-olah hendak mencubit si lelaki, lantas bergegas masuk pekarangan dan menghilang di balik lorong. Si lelaki menahan gagang cangkul dengan tangan kirinya sambil memperhatikan perempuan itu berjalan. Matanya bergerak-gerak seperti sedang berpikir. “Auh, sial!” serunya tiba-tiba. Tanpa sadar tangan kanannya yang masih memakai sarung telah menyentuh luka gores di pinggangnya. (*)

KIKI SULISTYO

Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kaucari? dan Tokoh Seni Tempo 2018 untuk kumpulan puisi Rawi Tanah Bakarti. Kumpulan cerpennya berjudul Belfegor dan Para Penambang (2017).


[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 24 Februari 2019