Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu

Karya . Dikliping tanggal 2 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

TERAKHIR kali aku mengunjungi Pat bulan September lalu. Cat rumahnya ganti warna biru telur asin dan di halamannya ada semak mawar yang baru ditanam. Empat gerumbul kecil, selang-seling seiring jalan menuju teras. Halaman itu mustahil dibikin lebih sesak lagi, dan seandainya pagar rumah Pat lebih tinggi, kukira makhluk hidup apa saja yang dilemparkan ke sana bakal mencekik diri mereka sendiri dalam tempo selambat-lambatnya dua hari.
Saat memencet bel, kulihat kolam yang menempel dengan sisi kiri beranda sudah lebih bersih; tiga ekor nila dan seekor lele putih seukuran lengan anak kecil mengitari dunia mereka yang itu-itu saja dengan santai, juga si kumis, meski tampangnya murung seperti ikan lele mana pun di planet ini.
Bel kutekan sekali, agak keras. Samar-samar terdengar assalamualaikum dari rumah Pat. Salah satu korden krem di jendela dekat pintu bergoyang. Pat selalu mengintip tamu yang berkunjung. Ia akan berpura-pura tidak di rumah jika didatangi salesman panci, salesman mesin-sedot-debu, petugas RT/RW, petugas Masjid, kerabat jauh, tetangga jauh, tukang sensus, tukang kotbah, pengurus panti asuhan, dan lain-lain. Pendeknya, Pat menghindari manusia.

EMPAT tahun silam, redaktur desk kami menyebut nama Pat Wicaksana sebagai ahli lukisan yang mesti kumintai pendapat terkait skandal raibnya lukisan Sabung Ayam yang asli dari Museum Affandi.

Aku mengerti korden krem dan pengintip yang bersembunyi di baliknya sejak kedatanganku yang pertama. Waktu itu bel kupencet berkali-kali—mulanya santai saja, namun semakin lama aku menunggu dan semakin banyak keringat dan lelehan minyak rambut membasahi mukaku, semakin brutal aku menggilas tombol tersebut. Lama-kelamaan assalamualaikum itu seakan berubah jadi lenguh panjang putus asa mesin malang yan tak sanggup membela kehormatannya sendiri.
Tidak mau pulang sia-sia untuk kembali dinasehati soal daya tahan oleh atasanku esok harinya, kuputuskan menunggu saja di bawah pohon jambu susu di seberang rumah itu. Berjongkok dan membaca tulisanku sendiri dalam salah satu edisi yang kebetulan terbawa. 
Sekitar 20 menit kemudian seorang laki-laki bersinglet menghampiriku. Umurnya kuduga dua kali umurku. Rambutnya tipis dan jarang-jarang dan kepalanya mirip buah kiwi.
“Patrick Wicaksana, Anda?”
Wawancara hari itu singkat saja. Intinya, Pat sudah lama tahu lukisan itu palsu—meski pendapatnya tidak direken pihak-pihak terkait karena kualitas tiruan tersebut amatlah bagusnya. Ia mengemukakan berbagai alasan yang tidak sepenuhnya kupahami karena minimnya pengetahuanku. Aku merekam dan mencatat saja. Terus terang, rasa hormatku terhadap pria itu muncul begitu saja tatkala mendengarnya bicara. Ujaran-ujarannya jernih, runtut, serta disampaikan dalam ketenangan yang mengasyikkan. Tapi itu urusan pekerjaan. Yang membuat kami berteman adalah cerita.
“Kau tahu penyair K?” tanyanya tiba-tiba setelah aku mematikan recorder.
KUBILANG padanya aku pernah mendengar nama itu dalam beberapa perbincangan yang tidak lagi bisa kuingat kapan dan soal apa. “Apa puisinya bagus?” tanyaku. Aku tak pernah mengerti letak kebagusan atau ketidakbagusan puisi.
Alif Sudarso, teman sekantorku sekaligus pecundang romantik yang patut ditertawai tiap-tiap hantu pohon beringin di kota ini, bahkan berhasil menipuku soal itu. Suatu hari ia menunjukkan beberapa puisi cinta, katanya itu karangan penyair termasyhur bernama Paul Eluard dan ia hendak mengetes kepekaan artistikku. Meski presentasinya berbelit-belit, ekornya jelas: kalau kukatakan puisi-puisi itu jelek, berarti kepekaan artistikku amatlah rendahnya dan sebaiknya aku segera terjun dari tangga karir jurnalistik dan alih profesi jadi tukang ledeng seperti bapakku almarhum. Itu pekerjaan yang asik, sebenarnya. Waktu SMP, aku pernah membaca sebuah artikel di tabloid kuning tentang tukang ledeng berkumis tebal yang setelah berhasil memperbaiki pipa-pipa saluran air di rumah seorang dokter, mendapat izin pula untuk memastikan pipa miliknya ke saluran peranakan nyonya rumah yang jelita.
Sayangnya aku tersulut gengsi dan justru masuk bulat-bulat ke dalam perangkap Alif. Dengan ketegasan laki-laki sejati, kuhantamkan telapak tanganku ke meja, mendecakkan lidah, lalu berkata: “Mantap betul ini puisi, Bung. Paul Eluard! E-lu-ard! Prancis punya, to?”
Tenang, Alif Sudarso mengeluarkan sebungkus Camel dari saku flannelnya, mengambil dua batang, meletakkan satu di bibirku yang agak gemetar, memantiknya, meletakkan yang satu lagi di mulutnya sendiri dan membakarnya pula. Setelah mengambil kertas-kertas itu dariku dan membacanya dan empat kali mengembuskan asap, bajingan itu berkata, “Kukira kertasnya tertukar, Bung. Ini puisi-puisi yang kutulis tadi malam. Meski tersanjung, kurasa penilaianmu padaku terlalu tinggi dan tidak pada tempatnya. Tapi kuhargai ketulusanmu. Terima kasih, terima kasih.”
Sampai detik ini, pengalaman itu masih saja menyakitkan dan mengundang rasa malu yang bisa membuatku menangis. Seperti disengat tawon di bibir dan orang-orang di sekitarmu berusaha menolong sambil menahan tawa karena bentuk mulutmu yang baru mengingatkan mereka kepada memek.
“Tidak penting, Bung. Kita tidak akan ngobrol tentang puisi-puisi penyair K,” ujar Pat. Dan ia mulai bicara tentang kebiasaan-kebiasaan penyair K, pelukis bergaya Mooi Indie M, aktor beraliran overacting H, serta beberapa seniman lain yang belum pernah kudengar namanya. Seandainya Pat tidak menggelontorkan sedemikian banyak cerita lucu pun, kupikir aku tetap akan senang padanya. Tapi ia melampaui harapanku dan kami benar-benar tidak membicarakan puisi dan itu membuatku ingin mendengar lebih banyak lagi.
AKU jadi rajin bertandang ke rumah itu untuk bertukar cerita dengan Pat. Seandainya bisa memilih, tentu kami ingin berbagi kisah-kisah pengundang tawa saja. Tapi cerita bukanlah hewan penurut. Cerita punya kehendaknya sendiri. Ia bisa berbelok tiba-tiba dan membikin juru cerita terjungkal. Maka kadang-kadang aku pulang dari rumah Pat dengan rasa tidak nyaman di kedua pundakku, seakan-akan pada hari itu ibuku mati dan aku memasak telur dadar yang tidak enak.
Suatu ketika Pat menunjukkan potret seorang perempuan berumur 30-an tahun. Ia bilang itu gambar mantan istrinya. Sambil mengamati foto berukuran 4R dalam bingkai putih gading itu, aku menimbang-nimbang reaksi apa yang pantas kuberikan. Bertanya di mana istrimu sekarang? akan sama tak pantasnya bila ternyata perempuan itu masih sesehat kucing berumur 15 bulan dan sibuk mengeong manja kepada suami barunya. Akhirnya aku diam saja. Pat berdeham, lalu seakan mengerti apa yang kupikirkan, ia berkata, “Namanya Sekar. Lebih muda enam tahun dariku. Tidak, ia belum meninggal. Dan, ya, ia mengeong dan bunting dan girang seperti kucing betina berumur 20 bulan. Kuharap suatu hari penis suaminya terkilir dan ia terpaksa melakukan itu dengan botol kecap.
Patrick menatap wajahku sebentar. Ia menyeringai. “Ya ampun, memang tak ada yang lebih keparat daripada pecandu cerita,” gumamnya.
Empat belas tahun silam, Pat berpikir bahwa menjadi pemerhati kesenian bukanlah taktik yang bagus untuk bertahan hidup. Pekerjaan tak selalu ada, dan jika ada, belum tentu berbuah imbalan yang memadai. Maka ia menghubungi sepupu almarhum ayahnya, seorang kontraktor. Pat ikut pria tua tersebut dan belajar tentang bisnisnya dan memperoleh bayaran yang diinginkannya. Ia cukup senang dengan perubahan tersebut. Lebih-lebih karena itu membuat Sekar, yang memang bukan pengeluh sejak mula, tampak kian bersemangat. Tapi siapa bisa mengelak sepenuhnya dari angin buruk? Persaingan dalam tender, adu mulut, adu jotos, vonis 13 tahun untuk Patrick Wicaksana dengan tuduhan pembunuhan berencana.
Koran-koran mengatakan itu hukuman yang berlebihan jika yang dibunuh adalah tukang becak, namun amat tidak memadai bagi seorang pembunuh dokter. Namun tentu ada yang tak tertulis di koran: dokter tersebut (namanya dr. Badar) punya pekerjaan sampingan sebagai kontraktor, punya sertifikat kepemilikan senjata api, dan punya sifat pengamuk yang gampang terpancing jika keinginannya tidak terpenuhi.
Suatu malam, keduanya berjumpa untuk membabat masalah yang tumbuh liar di antara mereka sejak proyek pengadaan alat-alat rumah sakit umum daerah dimenangkan pihak Patrick. Ternyata musyawarah gagal. Si dokter mengepruk jidat Pat dengan gagang pistol dan empat detik kemudian terdengar bunyi skreek yang cukup keras. Keningnya tiba-tiba berkeringat. Ia menundukkan kepala dan mendapat sebagian jeroannya telah berceceran di aspal. “Sebelum terjerembab,” kata Pat (ia lalu menjilat bibir), “sedikitnya tuan dokter bisa belajar dua hal: orang bisa menyimpan belati dibalik jaket, dan pistol tak menjadikanmu tidak terkalahkan.”
Pat mendapatkan pembebasan bersyarat setelah dipenjara selama tujuh tahun. Selama itu, cintanya kepada Sekar menjadi berlipat ganda. Tidak sekali pun, bahkan dalam keadaan paling payah, Sekar terlihat ingin melarikan diri. Patrick berkali-kali mengatakan kepada teman-temannya sesama pesakitan, dengan rasa syukur yang tak terkira, bahwa Sekar layak diangkat menjadi orang suci, bahwa ia akan menjadi suami yang lebih baik lagi dan tidak akan membunuh seekor nyamuk pun seandainya itu berpotensi membuat istrinya kesusahan.
Sekitar setahun setelah dibebaskan, Patrick Wicaksana menyebut istrinya “perek terbesar dalam sejarah” dan menggeram bahwa semua dokter di bawah langit layak dikoyak perutnya.
Sekar, yang amat ketakutan karena perselingkuhannya dengan seorang dokter (dokter lain, tentu, bukan dr. Badar yang muncul di cerita ini cuma untuk mati saja) selama tiga tahun belakangan telah diketahui Patrick, kabur hari itu juga. Dua pekan kemudian Pat menerima surat dari pengadilan agama. Surat itu dipakainya untuk membersihkan lubang pantat, dimasukkan ke amplop baru, lalu dikirimkannya ke tempat praktik si dokter.
“Jadi, kau bertemu dengannya terakhir kali di pengadilan?” tanyaku tanpa memalingkan wajah dari potret Sekar.
“Terakhir waktu kusebut dia lonte terbesar dan terburuk dalam sejarah Homo sapiens. Di pengadilan, dia diwakili pengacara yang mukanya mirip ikan pesut.”
“Apa kau pernah bertanya, ya, kau tahulah, mengapa, sejak kapan, begitu? Ayahku melakukannya, lho.”
“Maksudmu, alasan Sekar main gila? Tidak. Soal orang tuamu, tidak usah diulang, hatiku sakit setiap kali mengingat hal itu tidak hanya terjadi padaku. Aku ingin percaya bahwa masih ada yang berharga dalam hidup manusia.”
“Memang ada. Tai kucing.”
“Ayolah, Bung, itu kelewat murung untuk pemuda seumurmu. Jangan-jangan kau ini terlalu sering merancap. Sebuah penelitian di Inggris menyimpulkan begitu.”
“Bahwa merancap bisa bikin depresi?”
“Bukan. Bahwa reaksimu tadi menandakan kau memang terlalu sering melakukannya. Penelitian itu dibuat untuk membantu orang tua murid mengenali perilaku seksual anak-anak mereka.”
PAT benar, tapi sudah dua pekan ini hal asyik nomor satu itu tidak kulakukan. Dan sebabnya, kukira, justru semacam depresi. Aku merokok empat bungkus sehari dan mengisap (sedikit) ganja, namun perasaan terdampar itu tidak kunjung hilang. Rasanya seperti duduk memeluk lutut di dasar sumur kering yang tertutup. Aku pernah mengalaminya dalam mimpi. Berapa kali pun aku mendongakkan kepala, yang ada hanya kegelapan, udara lembab, dan perasaan terdesak.
Rabu pagi, delapan Januari, dua minggu silam, temanku Patrick Wicaksana mati. Gagal jantung. Sendirian. Orang-orang yang kuduga sebagai Sekar, suaminya, serta dua orang anak gadis mereka muncul di pemakaman. Sekar tidak menangis ketika peti jenazah Pat diturunkan ke liang; ia diam dan tampak hanyut dalam arus ingatan seperti halnya orang-orang lain. Aku berdiri di samping redaktur desk kami (yang sudah pindah ke desk lain) dan tidak bicara apa-apa selain basa-basi dalam perjalanan berangkat maupun pulang.
Malamnya, aku mengajak bicara Jay Catsby—kucing yang sering datang ke kamar kosku—sampai kami berdua tertidur. Kuceritakan padanya tentang Penyair K dkk., tentang si kecu Alif Sudarso, tentang ibuku, tentang Sekar, tentang kalimat “Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup” yang tertera di nisan sesuai permintaan Pat.
Esoknya aku bangun kelewat siang dan menginjak kotoran kucing saat turun dari tempat tidur. Tanpa kemarahan, kubuka pintu lebar-lebar dan aku menendang Jay tepat di perutnya.
2014
Dea Anugrah bekerja di sebuah penerbitan di Jakarta.
Rujukan
[1] Disalin dari karya Dea Anugrah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 30 November 2014