Anomali – Dilema – Di Balik Tirai Biru

Karya . Dikliping tanggal 17 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Anomali

sebuah renungan:bagi kita yang ragu.

Kau sadar?
Oktober yang telah menyihir tanah di
kobong bata itu menjadi tidak liat lagi?
Juga November yang mengusir
capung pergi dari kolam ikan koi?
Kolam itu airnya tidak lagi
membias wajahmu
Wajahmu kini sayu membuat
mataku terpejam
Seperti angin yang meniup
temaram lilin dalam gelap
Kau sadar?
Duabelas yang tidak seperti akhir tahun?
Ataukah satu, dua, tiga, yang sama
seperti tujuh, delapan, dan sembilan?
Seperti cahaya yang menjauh 
dari horizonnya
Ya benar! Semua tidak sama lagi
Pion-pion catur telah tumbang
merapuhkan sang raja
Laksana Majapahit tanpa
Patih Gadjah Mada
Kau sadar?
Kini hijau menjadi kuning dan
kuning menjadi merah?
Juga debu di jembatan itu
yang semakin tebal?
Mengusik tenggorokan dan
memerahkan mata kita
Kau sadar?
Petani kini mulai merintih?
Melihat tanamannya yang
berbaris rapi mulai goyah
Haus merindukan air walaupun setetes
Salah siapakah ini?
Aku kamu atau kita?
Pantasnya kita bercermin pada anomali ini
Kitalah yang selalu melanggar
rambu-rambu-Nya
(Bandung, 2015)

Dilema

untuk: nama yang harum sekaligus busuk.

Aku dilema pada mereka
Ketika kupu-kupu dan lebah berkata:
Ikutilah aku!
Juga ketika kedondong dan durian berkata:
Santaplah aku!
Aku bingung pada kupu-kupu:
Rupanya lucu, sayapnya yang
indah menarik perhatianku
Namun lahir dari ulat,
Yang menjijikkan
Aku bingung pada lebah:
Rupanya seram, sengatnya
yang tajam menakutiku
Namun menghasilkan madu,
Yang manis
Aku bingung pada kedondong:
Kulitnya yang mulus, namun
Asam rasanya juga
Tajam bijinya
Aku bingung pada durian:
Kulitnya yang tajam, namun
Harum aromanya serta
Lezat buahnya
Aku bingung mana yang kupilih
Lucu atau seram?
Mulus atau tajam?
Aku dilema pada semua sandiwara ini
Membutakan mata hati
(Bandung, 2015)

Di Balik Tirai Biru

Di sana…
Udara segar, menghembus
Di sana…
Harum mawar, membius
Di balik tirai biru
Di belakang ragaku
Melambai mengundang
Langkahku untuk datang
Hendak diri melangkah ke sana
Walau satu langkah saja
Kaki ini terasa sangat berat
Kaku tanpa daya
Matahari menyeringai, tersenyum puas
Bulan melambai, tertawa lepas
Melihat anganku
Terbang…
Melayang…
Mengawang…
Sungguh, Aku malu…
Aku malu pada matahari dan bulan
Karena, hanya anganku…
Hanya anganku yang mampu
Menembus tempat itu
Di balik tirai biru
(Bandung, 2015)

Gusnanto, lahir di Banjar, 7 Januari 1997, kini masih menempuh pendidikan di UIN SGD Bandung, tinggal di Banjar, Jawa Barat
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gusnanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 17 Januari 2016