Antara Aku dan Kisah Maryam

Karya . Dikliping tanggal 29 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

MARYAM hidup beribu-ribu tahun yang lalu, jauh sebelum ibuku dilahirkan. ia seorang wanita yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi seorang ibu tanpa suami dan tanpa perhelatan pesta pernikahan megah. Telah Tuhan embuskan seorang anak manusia ke dalam rahim Maryam hingga tumbuh dewasa dan kekar. Ia wanita suci yang melahirkan seorang anak bernama Isa. Riwayat mengabadikan, Isa menjadi pembawa kebenaran. Penerima Injil, menjadi rasul, dan dikenang sepanjang zaman.

AKU lahir setelah beribu-ribu tahun Isa dilahirkan. Hanya serentetan kisah yang selalu aku dengar di surau dari seorang guru ngaji. Ia piawai berkisah tentang para nabi dan keluarganya sampai aku  mampu mengingatnya hingga saat ini. Saat di mana aku menjadi dewasa dan mengerti setiap jengkal dari kisha-kisah kehidupan.
“Isa lahir tanpa bapak dari seorang wanita bernama Maryam,” Guru Udin memulai kisah. “Tetapi bukan berarti ia adalah anak haram dari Maryam. Maryam wanita suci yang selalu menjaga diri. Tak ada seorang lelaki pun yang pernah menyentuhnya.. Namun. Ia mampu menjadi seorang ibu dari Isa.” Ia terus saja melanjutkan kisah. Sementara aku dan teman-teman yang lain mendengarkan secara seksama.
“Saat itu, saat Maryam sedang mengasingkan diri dari keluarganya ke sebelah timur, malaikan Jibril datang menjelma menjadi seorang manusia sempurna. Ia mengabarkan bahwa Maryam hendak memiliki seorang putra yang menjadi anugerah drai Tuhan Yang Esa. Maryam tertegun. Ia mengelak. Ia bukan seorang pezina yang setiap malam berhubungan seks dengan sorang lelaki. Ia seorang wanita yang selalu menjaga diri. Malaikat Jibril melanjutkan penjelasannya, bagi Tuhanmu Yang Esa, emnjadikanmu seorang Ibu walaupun engkau tak pernah bersentuhan dengan lelaki mana pun, itu sesuatu hal yang mudah. Jika Tuhanmu berkenan, maka jadilah. Keputusan Tuhan tak dapat digangu gugat,” Guru Udin terus melanjutkan kisah Isa dan maryam di bawah sinar lampu temaram. Di luar, hari mulai gelap, kisah ISa belum juga usai. Aku masih setia mendengarkan kisah.
“Maryam mengandung selama 9 bulan. Melahirkan ditemani malaikat Jibril di bawah pohon kurma. Sembari bersandar dan menahan nyeri yang amat. Angin semilir menjatuhkan buah kurma ke samping Maryam. Ia memakannya. Maryam merasakan kembali kekuatan untuk melahirkan Isa. Air jernih yang dapat menghilangkan lelah dan mendatangkan suka cita setelah melahirkan.”
“Maryam menggendong Isa. Ia kembali ke kampung halaman dengan perasaan cemas. Maryam dituduh menjadi seorang pezina. Ia dituduh telah melakukan dosa besar. Namun, saat itu, Maryam menunjukkan kepada mereka bahwa anaknya Isa akan berbicara kepadanya. Para penduduk di kampungnya tak sedikitpun memercayainya hingga Isa benar-benar mulai berbicara. “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia membriku kitab (Injil) dan dia menjadikanku seorang nabi.” Isa tumbuh menjadi dewasa. Tuhan mengaruniakan mukjizat. Ia menyeru kepada Tuhan Yang Maha Esa dan emngajak kaumnya untuk turut menyembah Tuhan.”
Begitulah kisah Isa dan Maryam disampaikan kepada kami, anak-anak yang hendak tumbuh remaja. Mungkinkah anak-anak itu bermimpi menjadi seorang nabi? Atau bermimpi bertemu Isa? atau bagi anak-anak perempuan bermimpi ingin menjadi wanita pilihan Tuhan, seperti Maryam? Semuanya hanya ada di benak pikiran anak-anak yang suci.
Aku pulang ke rumah dengan pikiran melayang pada Isa dan Maryam.
**
AKU dilahirkan 17 tahun lalu oleh seorang wanita bernama Siti Paryami. Ia seorang tukang cuci di sebuah rumah gedong di Desa Kebonrejo. Aku memanggilnya emak, Emak yang memiliki paras ayu, rambut ikal, hidung mancung, warna kulit kecokelat-cokelatan akibat panasnya sinar matahari, dan tubuhnya yang semakin kurus dari hari ke hari terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usianya. Ia selalu bekerja untuk menafkahi kami berdua. menyekolahkanku dan untuk makan sehari-hari.
Sesekali, aku pun membantu emak menjadi tukang panjat pohon kelapa, rambutan, duku, dan lain-lain. Pekerjaan itu tidak aku lakukan setiap hari. Hanya pada musim-musim tertentu. Seperti sekarang sedang musim rambutan, setiap pulang sekolah, selalu ada tetanga yang memintaku untuk memanjat pohon rambutan. Upahnya lumayan untuk bekal jajan sekolah esok pagi. Atau untuk sekadar membeli garam di warung.
Ketiadaan bapak membuat kami harus selalu bekerja banting tulang. Apakah Isa merasakann hal yang sama denganku? Ketiadaan bapak yang entah ke mana. emak tak pernah menceritakan asal-usul bapak. Setiap aku bertanya siapa bapakku, emak tak pernah menjawab. Selalu saja amenghindar. Kalau sudah seperti itu, aku selalu berkata dalam hati, mungkin aku seperti Isa yang dilahirkan Maryam. Tentu saja emak tidak mendengar hatiku berkata-kata. Sampai lulus SD, aku selalu merasa bahwa aku seperti Isa dan Ibuku adlaah Maryam. Dan aku selalu merasa menjadi anak yang suci sembari terus menunggu mukjizat seperti yang diceritakan guru ngaji Udin.
Apakah benar aku adalah Isa dan emakku adalah Maryam yang melahirkan anak tanpa persetubuhan?

**
KETIKA aku SD, teman-teman selalu meledekku anak haram atau anak jadah. Serta merta aku hanya memiliki sedikit teman. Para orangtua seperti jijik anaknya berteman denganku. Saat itu, aku tak mengerti apa yang dimaksud dengan anak haram dan anak jadah. Ketika aku bertanya tentang hal itu, wajah emak selalu merah padam. Dadanya naik turun. Napasnya jelas terdengar. Lalu aku akan membungkus kembali pertanyaanku sembari berkata dalam hati bahwa aku seperti Isa dan emak adalah Maryam. Setelah itu emak akan terdiam beberapa saat sembari menanak nasi di dapur. Dengan emosi yang terus diredamnya.
Aku terus meyakini bahwa aku seperti Isa dan emakku adalah Maryam. Kujelaskan itu kepada teman-temanku. Sebagian terbahak-bahak, sebagian mengulum senyum, sebagian hanya memandang tanpa makna. Barangkali mereka berpikir, tak akan ada dua Isa dan dua Maryam di dunia ini. Tetapi, tak ada yang tidak mungkin di dunia ini bukan? Menciptakan seribu Isa dan seribu Maryam pun pasti Tuhan menyanggupinya. Ini hanya menciptakan satu duplikatnya saja, tentu itu sangat mudah bagi Tuhan.
Ah, menjelaskan hal itu pada saat aku masih SD, bukankah itu hal yang mengagumkan? Selalu merasa menjadi anak suci seperti Isa. Mikjizat Tuhan mulai datang. Aku terlahir dengan otak yang cerdas. Begitulah kira-kira aku merasa.
**
 BEGITU banyak wanita di desa ini. Setiap pagi, kulihat mereka berbondong-bondong ke sumur. Membawa sekeranjang baju kotor yang akan dicuci di sana. Lalu membersihkan badan. Dan aku akan melihatnya kembali ketika merekasudah menjadi cantik penuh dengan polesan bedak murahan dan pewarna bibir yang norak. Mereka hendak bekerja. Menjadi penjual pakaian di pasar. Beberapa teman SD ku pun seperti itu.
Lambat laun, para wanita itu seperti tenggelam ditelan masa. Menghilang satu persatu. Entah ke mana. Selentingan kabar selalu kudengar, mereka tengah berperut buncit. Keluarganay di desa ini tak mau melihat anaknya berperut buncit. Karena perut buncit adalah aib. Lalu katanya, mereka diasingkan ke keluarga yang jauh. Di mana tak ada yang mengenal mereka satu pun. Untuk menutupi aib. Anak-anak itu lahir. Tumbuh dan menjadi dewasa. Masih tertutupkah aib?
Aib? Bukankah itu sama dengan yang dilakukan Maryam ketika mengandung Isa? Apakah yang berbeda? Mereka tak bersuami. Maryam pun sama tak bersuami. Akankah mereka terlahir seperti Isa. Menjadi nabi. Dan langsung dapat berbicara di depan khalayak ramai? Agar terhindar dari aib.
Tak pernah ada perhelatan pernikahan yang dibalut dengan suka cita sebenarnya. Pernikahan selalu terjadi mendadak dan tiba-tiba. Berjalan seadanya dan ala kadarnya. Seperti tak ada yang benar-benar harus dirayakan dalam sebuah pernikahan. Sebagain dari para wanita di desaku terpaksa menikah. Dengan alasan yang sama menutupi aib. Namun, baru dua bulan mereka menikah, sudah ada undangan syukuran empat bulanan. Masih tertutupkah aib?
Anak yang memiliki bapak tetap menjadi aib. Anak yang tidak memiliki bapak sudah pasti menjadi aib. Anak haram jabatannya. (Padahal Isa tak memiliki bapak). Apakah ia juga sama menyandang jabatan anak haram? Tentu saja tidak. Sudah kuceritakan bagaimana guru Udin menceritakan kisah Isa dan maryam penih khidmat.

**
SEKARANG, saat usiaku 17 tahun, aku tahu bahwa aku bukanlah Isa dan emak bukan Maryam. Benar memang, Tak akan pernah ada dua Isa dan dua Maryam di dunia ini. Aku selalu mencurigai gelagat pemilik rumah gedong tempat emak bekerja. Ketika di sekeliling rumah gedong itu hanya ada emak dan pemilik rumah gedong itu, pemilik rumah gedong itu selalu memberi perhatian pada emak. Terkadang memberi beberapa lembar uang. Setelah melihat hal itu, tak pernah kutanyakan lagi siapa bapakku.
Dan harus kupastikan sekali lagi, aku dan emak bukan Isa dan Maryam. Begitu pun dengan para wanita di desaku. Para wanita yang diasingkan akibat perut buncit sebelum waktunya. Entah kenapa mereka melakukan hal itu. Mungkinkah mereka terinspirasi dari kisah Isa dan maryam? Entahlah.***
Warungjati, 20 Maret 2015

Layla Badra Sundari, lahir di Ciamis. Alumni Sunan Kalijaga Jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Sekarang tinggal di Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Layla Badra Sundari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 27 Desember 2015