Antipode – Sabatikal Penyair

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Antipode 

aku berada pada agunan 
mengharu janji menanar bisik 
aku berdua di antara ayunan 
mengira kembang mengikutiku 
aku bercinta dengan marcapada 
mengadu dalam bungkusan 
nyanyian-nyanyian raga 
yang papa 
aku merah delima 
yang garang kecewa 
kerumuni sebab 
aku cinta dan bara 
piara-piara mimpi 
yang kabur 
Sruni, 2016 


Sabatikal Penyair 

sepasang matanya merangkai peristiwa 
menukar bayangan ngemasi indra 
gerutu haluan jam 
menagih takut dan emis 
sepasang matanya mengadu raga 
gelak berpadu pesona cuaca 
menari libido menuju rak 
lusuh kian kesah 
sepasang kalbunya menuding huruf 
lamunan-lamunan rupa berjiwa 
yang nyangga sampai toga 
sepasang relungnya berpapas sendu 
mengenang jiwa suatu hari 
Sruni, 2016 

Memorabilia 

daun-daun merayap di sepanjang awan 
kalbu mengais junjungan kota 
liar di jalan dan waktu yang lekat 
mempertemu rindu yang tersulam 
tirai-tirai dalam ayunan 
gontai yang mengada rasa 
dan polusi yang melangkah di dekat rel 
mengundi makna jemari dan pesona bumi yang 
terpatri 
sampai kemudi 
menyilah atas nama hasrat dan libido 
tirai meruak berbareng tulisan dan kenang kala itu 
waktu yang pagu membuta temu dan gerai-gerai 
yang hilang 
menyingsing kuat raga 
serta nyanyian-nyanyiannya 
umpatan dan puisi merunduk sampai tanah 
terhempas alih-alih makna 
kisah bangunan tua yang merujuk anggun 
lagu penyamun harap yang gugur 
Sruni, 2016
Singgih Dwi Husanda. Lahir di Sidoarjo, 2 September 1994. Mahasiswa semester 6, jurusan sosiologi, FISIP, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Amukti Wijaya. Buku puisi pertamanya Dalam Buai (Pagan Pres, 2015).





Rujukan:
[1] Disalin dari karya Singgih Dwi Husanda
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 17 April 2016